
Mentari dan Surya sudah sampai di rumah lama mereka, diantar oleh Chiko. Pria yang selalu hadir disetiap Tari ada masalah. Pria yang selalu membantunya tiap kali ia kesusahan.
"Mas Chiko, mampir dulu. Aku suguhin kopi, tapi aku mau ke warung dulu mau beli kopinya."
"Gak usah repot-repot, Tari. Air putih pun tak apa."
Rumah sederhana mereka tentu tak terawat, sampai persediaan kebutuhan di sana tidak ada. Ditambah, sudah ada sekitar 3 bulanan rumah ini tak dikunjungi oleh si pemilik rumah.
"Sudah sana, beli kopinya," titah Surya.
"Iya, Yah. Tari ke warung dulu." Tari pun pergi ke warung untuk membeli kopi.
Kini tinggal Surya dan Chiko.
Surya mengajak Chiko masuk ke dalam, ada sesuatu yang ingin ia tanyakan padanya. Kemungkinan laki-laki ini tahu apa penyebabnya kenapa Tari meminta untuk pulang. Ini pasti masalah besar bagi putrinya.
"Chiko, Om rasa kamu tahu kenapa Tari menjemput, Om. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Chiko tak langsung menjawab, ia tidak tahu harus jawab apa? Karena ia tak ingin memberikan kabar yang mungkin akan menyakitkan hati para orang tua, dan ia juga tak ingin membuat situasi menjadi runyam.
"Maaf, Om. Aku kurang tahu masalah itu, aku juga gak sengaja ketemu sama Tari tadi. Yang saya tahu Tari menangis dan disusul oleh Alga. Bahkan hampir saja Tari tadi ketabrak, maaf, Om." Chiko mengatupkan kedua tangan sebagai permintaan maaf karena hampir menabrak Tari untuk yang kedua kalinya.
"Ya sudah kalau memang tidak tahu." Padahal, hati Surya merasa sakit dan sesak di dada. Tidak disangka bahwa pernikahan anaknya mengalami masalah seperti ini, bukankah mereka saling mencintai? Surya menjadi curiga, apa pernikahan mereka dengan keterpaksaan? Padahal pernikahannya masih seumur jagung, dan sekarang sudah mengalami masalah serius begini.
Surya menyentuh dadanya yang begitu sakit, napasnya terasa sesak. Begitu sakit bagai terkena tusukan yang begitu dalam, orang tua mana yang tidak kepikiran akan nasib rumah tangga anaknya? Napas Surya tersengal sambil terus mengusap dada.
"Om ... Om, kenapa?" Chiko terlihat panik ketika melihat ayah Tari seperti ini.
Tari langsung menjerit ketika melihat ayahnya dalam kondisi begitu mengenaskan baginya.
"Ayah ..." Jinjingan yang dibawa Tari pun terlepas dari genggaman, ia langsung menghampiri sang ayah yang sudah terkapar lemas tak berdaya.
"Ayah kenapa, Mas Chiko? Apa yang terjadi?" tanyanya dalam tangisan.
__ADS_1
"Sebaiknya kita bawa Ayahmu ke rumah sakit." Chiko langsung meraih tubuh ayah Tari, dan Tari pun ikut membantu. Para tetangga yang melihat pun ikut membantunya.
***
Gadis itu terus menangis sepanjang jalan, ia mengusap lembut kepala sang ayah.
"Ayah harus kuat, maafkan Tari, Ayah."
Chiko terus melirik ke arah belakang melalui kaca yang menggantung di depan. Ia menambah laju kecepatan mobilnya, hingga sampailah mereka di rumah sakit terdekat.
Suster mendorong branker ke arah pasien yang baru saja turun dari mobil. Kini ayah Tari sudah berhasil dilarikan ke UGD. Tari terus menangis, tak kuasa jika sang ayah pergi meninggalkannya. Jika sang ayah pergi, kepada siapa ia mengadu? Tari merasa sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini.
"Mas, Ayah, Mas ..."
"Berdoa saja, semoga Ayahmu baik-baik saja." Chiko menarik tubuh Tari ke dalam pelukkannya, mencoba memberi ketenangan baginya.
***
Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi Alga, tamparan yang cukup keras dari Yuda untuk yang pertama kali untuk anaknya.
Alga menyentuh pipi yang terasa kebas, baru saja datang, kedatangannya disambut dengan tamparan dari sang papa.
"Pa, ini bisa dibicarakan baik-baik." Ajeng mencoba melerai kemarahan sang suami.
Alga masih tertunduk, tak berani menatap wajah ayahnya. Karena ia sendiri tahu kenapa papanya menamparnya. Kedatangannya kemari untuk menjemput Tari, karena ia yakin bahwa istrinya pasti di sini bersama ayahnya.
"Ma, aku ke sini mau menjemput Tari. Tari ada di sini 'kan, Ma?" Ia hanya berani bertanya pada mamanya, tak berani bertanya pada sang papa karena pria itu begitu marah padanya.
"Jemput sana di rumahnya! Kamu pikir, istri mana yang akan bertahan jika diselingkuhin?" ucap Yuda.
"Maksud, Papa?" tanya Alga.
"Tari pulang, Ga. Tadi dia sempat kemari hanya untuk menjemput Ayahnya," terang Ajeng.
__ADS_1
"Apa, Ma? Kenapa kalian tidak menahan kepergiannya? Ini salah faham, Ma, Pa. Ini semua tidak seperti yang kalian bayangkan, aku tidak selingkuh! Kedatangan Citra ke kantor hanya memberikan kado pernikahan untuk aku dan Tari." Sebisa mungkin Alga menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
Tapi sayang, itu tak membuat Yuda percaya. Bagaimana pun wanita itu pernah menjadi bagian dalam hidup anaknya, pernikahan dengan Tari pun desakan darinya.
"Tahu begini Papa tidak akan menikahkanmu sama Tari, bikin malu saja!" Yuda pergi dari hadapan anaknya, ia begitu kecewa.
"Ma, Alga pamit dulu. Alga mau jemput Tari."
"Pergilah, bawa kembali menantu, Mama."
***
Alga sampai di rumah Tari. Pintu terbuka lebar, tapi terlihat tak berpenghuni. Bahkan langkahnya terhenti ketika ia menginjak bukusan hitam, bungkusan yang berisikan kopi belanjaan Tari.
Tetangga ada yang melintas, Alga pun bertanya kemana penghuni ini pergi.
"Maaf, Bu. Saya tumpang tanya, apa Ibu tahu kemana penghuni ini pergi?"
Ibu paruh baya itu menggelengkan kepala, lalu ada sahutan dari seseorang di sebrang jalan sana.
"Mas cari Pak Surya sama Tari?" tanya orang itu.
"Iya, Pak. Apa Bapak tahu mereka pergi kemana?"
"Ke rumah sakit, Pak Surya tidak sadarkan diri," jawab orang itu lagi.
"Terimakasih, Pak." Dengan segera, Alga kembali masuk ke mobil dan pergi ke rumah sakit terdekat di daerah sini.
Hingga akhirnya ia menemukan rumah sakit itu, tanpa bertanya ke receptionis ia mencari ruangan UGD, karena ia yakin ayah Tari pasti berada di sana. Dan benar saja, ia melihat keberadaan Tari bersama Chiko.
Hatinya terasa sakit ketika ia melihat Tari berada di pelukan laki-laki itu untuk yang kedua kalinya.
"Tari," ucap Alga dengan nada yang bergetar.
__ADS_1