Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 27


__ADS_3

Mentari merasa tersentak oleh ucapan suaminya, ia mengambil alih tas dari tangan yang sedang dipegang oleh Alga. Merampasnya tanpa perasaan.


"Berani membantahku!" Alga tak menerima penolakan. "Jika masih membantah jangan harap aku akan mengizinkanmu!"


Perkataan Alga menjadi ancaman bagi Tari, mau tak mau ia mengikuti keinginan suaminya yang akan mengantarnya ke sekolah.


"Mau ngapain?" tanya Alga ketika melihat Tari meraih ponselnya.


"Te-telepon, Mas Chiko," lirih Tari yang sedikit takut karena melihat suaminya yang sedari tadi marah-marah. Ia juga bingung, kenapa suaminya itu menjadi begini? Biasanya juga dia acuh.


Alga meraih ponsel yang ada dalam genggaman Tari, lalu tangannya berselancar mencari nomor bernama Chiko di layar itu. Setelah menemukannya ia langsung menghubungi nomor tersebut.


"Kamu jangan mengganggu Tari lagi, berhentilah berharap padanya!" Alga mengucapkan itu kala sambungannya tersambung, tanpa menunggu jawaban, ia langsung menutupnya kembali.


Tari yang melihat sedikit geram, bukan marah karena Alga menghubungi Chiko. Ia hanya kasian pada pria itu, pria yang selalu baik padanya. Laki-laki yang selalu menjadi teman keluh kesahnya.


"Kenapa? Gak suka? Aku yang lebih berhak atas dirimu, Tari. Berhentilah membantah!"


Lagi-lagi, Tari merasa dibentak. Seketika wajahnya menjadi murung, ia merasa sedih karena baru pertama kali ia menerima bentakan dari seseorang.


Alga melihat kearah Tari, ia merasa bersalah karena sudah membuat istrinya menjadi sedih. Apa Tari begitu mencintai pria itu sampai ia menjadi begini? Pikir Alga.


"Tari, maafkan aku. Aku gak bermaksud membentakmu, aku hanya tidak suka kamu melawan. Kemana Tari yang aku kenal dulu?" Meski Tari menerima pernikahan ini, tapi istrinya itu selalu berbakti padanya menjalani kodratnya layaknya seorang istri. Meski ia tak mendapatkan layanan di atas kasur.


Alga meletakkan tas di atas lantai, lalu kedua tangannya menangkup kedua pipi Tari. mencoba menatap wajah imut itu. Tapi Tari langsung memalingkan wajahnya.


Alga pun melepaskan tangannya, lalu menarik tubuh istrinya ke dalam pelukkannya. Tari terkejut mendapati pelukkan dari suaminya secara tiba-tiba. Ada dengan Alga? Mengapa sikapnya mendadak berubah? Pikiran Tari menjadi tak karuan.


"Mulai saat ini aku akan menjadi suami yang seutuhnya."


Tari mendongakkan wajahnya, melihat wajah suaminya dan mencari keseriusan akan ucapannya. Lalu bagaimana dengan hubungan Alga dengan Citra? Tari belum begitu mempercayai janji manis yang diucapkan suaminya itu.


Tari mencoba melepaskan diri dari pelukkan itu, tapi Alga tak melepaskannya begitu saja sebelum ia mendapatkan jawaban bahwa Tari pun menerima dan menganggapnya sebagai suami yang sebenarnya.


"Tari?" panggil Alga.


Tari tak bergeming, ia masih berada dalam dekapan itu tanpa berontak karena Alga memeluknya begitu erat.


"Apa kamu membenciku? Apa tidak ada kesempatan bagiku untuk memperbaiki semuanya? Kita sudah menikah, Tari. Mau tak mau kita harus menjalani rumah tangga yang seutuhnya," jelas Alga.


"Apa maksud, Omsu?"


Alga melepaskan Tari, ia menatap wajah istrinya lekat-lekat.


"Kita mulai dari awal, kamu maukan? Aku janji, aku tidak akan menyakitimu. Jadilah istriku?"

__ADS_1


Tari memukul dada bidang suaminya.


"Kenapa dipukul?" tanya Alga.


"Omsu hilang ingatan ya?" tanya balik Tari. "Aku 'kan sudah jadi istrimu, kenapa memintaku jadi istrimu?"


Alga berlutut di hadapan Tari, ia mengulurkan tangan dan menggenggamnya seolah meminta jawaban akan pertanyaannya tadi yang sempat ia lontarkan.


"Kamu maukan menjadi istriku?"


Tari benar-benar dibuat bingung. Apa suaminya itu kini menerimanya jadi istrinya? Apa pria sudah memiliki perasaan padanya?


"Aku serius, Tari. Aku ingin kamu menerimaku, dan kita mulai dari awal. Kamu memang sudah menjadi istriku, tapi itukan bukan keinginanmu." Alga benar-benar berharap.


"Apa Omsu tulus mengatakan itu? Bukan karena aku sedang dekat sama Mas Chiko 'kan? Aku takut itu hanya sementara, apa lagi masih ada Mbak Citra dalam hidup, Omsu."


Ssssttthhh


Alga meletakkan jari telunjuknya di bibir Tari, seolah menutup pembahasan soal Citra. Ia benar sungguh-sungguh, tak rela rasanya harus kehilangan Tari. Apa lagi ada Chiko yang sudah siap menanti.


"Kamu maukan, kita mulai dari awal? Bila perlu, aku akan melamarmu."


"Tidak usah, justru itu akan membuat Ayah curiga kalau kita menikah karena terpaksa."


"Jadi kamu maukan?"


"Tapi ada syaratnya."


"Apa?"


"Aku mau, Omsu selesaikan dulu hubungan Omsu dengan Mbak Citra."


"Ok, aku juga mau kamu selesaikan dulu dengan laki-laki itu!"


"Laki-laki siapa?"


"Chiko, dia pacarmu 'kan? Apa dia sudah menyentuh ini?" Alga menyentuh bibir Tari. Mamun dengan cepat, Tari menepsinya, ia pikir Tari wanita seperti apa?


"Dia bukan pacarku, aku sudah kenal lama dengannya. Mas Chiko juga sudah tunangan, kami berteman baik," jelas Tari menyangkal tuduhan suaminya.


"Bagus deh kalau begitu, jadi aku tidak punya saingan." Alga merasa bangga bahwa kini ia memiliki Tari, meski ia harus memikirkan Citra. Apa lagi ia sudah berjanji akan menikahi wanita itu.


Alga berdiri, lalu.


"Tari." Alga meraih dagu istrinya, ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Tari. Hampir saja wajah itu bersentuhan jika Tari tak menjaganya dengan telapak tangannya.

__ADS_1


"Belum saatnya, tunggu aku lulus sekolah," ucap Tari yang menghentikan aksi suaminya.


Alga menjadi gemas sendiri, tak gampang meluluhakan hati istrinya dengan cara yang sempurna.


"Aku akan menunggu waktu itu tiba." Jawab Alga sembari mencubit hidung mancung istrinya.


"Sakit," keluh Tari.


Setelah berbaikan, mereka berdua pun memasuki mobil. Alga mengantar Tari ke sekolah. Dalam perjalanan, Alga tak melepaskan genggamannya dari tangan Tari. Bahkan sesekali ia menciumnya.


Sementara Tari, ia belum terbiasa mendapatkan perlakuan itu. Wajahnya menjadi merah karena malu, malu-malu tapi mau. Dan akhirnya mereka pun sampai di sekolah.


Tari meraih tangan Alga, lalu menciumnya.


"Omsu, aku pamit. Jaga diri baik-baik selama aku tidak ada. Jangan nakal!" ujar Tari.


"Hmm, berapa hari kamu pergi?" tanya Alga mengenai acara yang dilaksanakan pihak sekolah.


"Dua hari, Omsu."


"Berhentilah memanggilku Omsu. Panggil aku Mas, Mas Alga."


"Iya, Mas."


Setelah pamitan pada suaminya, Tari keluar dari mobil. Ia menemui teman-temannya yang sudah berkumpul di lapangan sekolah. Ketika ia sampai di gerbang sekolah, ia melihat keberadaan Chiko di sana. Pria itu langsung pergi ke sekolah Tari setelah mendapatkan panggillan tadi.


"Mas Chiko." Tari bingung akan kedatangan laki-laki ini, bukankah tadi Alga sudah menghubunginya? Bahkan bilang jangan menggamgunya.


"Tari." Chiko pun menemui Tari. "Siapa tadi yang menghubungiku dengan ponselmu? Aku kira kamu dalam bahaya, makanya aku langsung ke sini," jelas Chiko yang merasa khawatir akan keselamatan Tari.


"Anda tidak perlu mengkhawatirkan Tari berlebihan seperti itu." Suara itu mengalihkan pandangan Chiko dan Tari.


Suara yang begitu familiar bagi Tari.


"Mas Alga." Tari takut terjadi keributan di sini, dan itu akan berakibat fatal baginya. Namanya akan tercoreng di sekolah. Tari langsung mendekat ke arah suaminya.


"Mas, Mas jangan emosi. Tidak ada perasaan dariku untuknya. Ku mohon jangan buat keributan," bisik Tari.


Kalau bukan karena Tari yang meminta, mungkin Alga sudah memberitahukan akan pernikahan mereka. Ingat bahwa status Tari masih pelajar, ia pun memgurungkan niatnya. Alga langsung pergi setelah dibujuk oleh Tari.


"Mas Chiko, sebaiknya Mas pulang. Aku baik-baik saja," jelas Tari.


"Aku rasa dia bukan saudaramu, Tari. Dia siapamu?" tanya Chiko mengenai Alga.


"Di-dia-." Ucapan Tari terputus kala Bunga memanggilnya.

__ADS_1


"Tari, cepat! Sebentar lagi Bus akan jalan," teriak Bunga.


"Maaf, Mas. Aku harus pergi." Tari pun akhirnya meninggalkan Chiko dengan segala rasa penasarannya.


__ADS_2