
"Mas, jalan ini bukan arah pulang deh. Mas mau ajak aku ke mana?" Tari melihat jalan arah sekitar yang ia lewati lewat jendela mobil.
"Nanti juga tahu," jawab Alga yang masih fokus dengan kendaraannya, menatap jalan sambil menyetir.
"Ish ...," desis Tari. "Main rahasia-rahasiaan ya, sekarang." Ucap Tari sembari bersedekap tangan di dada. Ia cemberut karena suaminya tak memberitahukan akan tujuannya, dan itu membuat Tari kepo.
Alga terkekeh melihatnya, lalu menggelengkan kepala pelan. Gadis seusianya memang terbilang tidak sabar dan Alga harus banyak mengerti. Namun karena ini surprise, ia terus saja melajukkan mobil tanpa menghiraukan istrinya.
***
"Ayok turun?" ajak Alga.
Tari melihat gedung tinggi itu dan akhirnya kini ia tahu tujuan mereka. Tari tidak ingin turun, ia tetap setia dengan tempatnya.
"Hotel, dasar mesum," batin Tari. Gadis itu mengira bahwa suaminya akan mengajaknya untuk sekedar bercinta di sana.
"Ayok, turun ...," ajak Alga lagi.
"Di rumah 'kan bisa, Mas. Kenapa mesti di sini," ujar Tari.
Alga mengerutkan kening, ia bingung dengan ucapan istrinya. Apa maksud dari ucapan itu? Apa gadis itu berpikir akan bercinta? Pikir Alga.
Pria itu menepuk dahi istrinya.
"Aww, sakit, Mas," pekik Tari setelah mendapat tepukkan itu.
"Kamu pikir, Mas mau ngapain mengajakmu ke sini?" tanya Alga. Ia menatap wajah gadis itu menunggu jawaban.
"Itu 'kan." Tari memperagakan tangannya menempelkan telapak kedua tangan sambil dihentak-hentakkan.
Alga langsung tertawa ketika melihat gaya istrinya memperagakan gaya bercinta mereka. Sejak kapan istrinya itu tahu? Gadis polos itu berubah 180 derajat.
"Mulai mesum, ya? Sebaiknya kamu ikut saja dulu sebelum tahu kebenarannya." Alga turun dari mobil lebih dulu, mau tak mau Tari pun ikut turun menyusul suaminya.
Tari ragu untuk melangkahkan kakinya, dengan perlahan, Alga menarik tangan Tari pelan. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan menuju ruangan yang cukup luas di sana.
Setibanya di sana, Tari sedikit terpaku melihat ruangan itu. Ia sudah salah dengan pemikirannya.
"Mas," ucap Tari. "Ini gedung untuk kita-."
__ADS_1
"Iya, ini untuk acara kita minggu depan. Apa ini sudah sesuai?"
"Luas sekali, Mas."
"Iya, karena Mas mengundang banyak tamu nanti. Mas mau semua orang tahu bahwa kita sudah menikah. Kamu milikku dan aku milikmu."
Tari meluk tubuh suaminya erat, Alga pun membalas pelukan itu. Mengusap lembut punggung istrinya. Mereka berdua tak menyangka bahwa pernikahan ini menjadikan mereka saling membutuhkan. Diingat dari cara mereka bertemu dan menikah, itu semua seperti mustahil bahwa mereka akan bahagia.
"Terimakasih sudah membuatku sebahagia ini." Yang lebih bahagia baginya adalah, keluarga suaminya tak memilih siapa yang akan menjadi menantunya. Ia hanya gadis biasa yang terlahir dari keluarga sederhana.
Setelah melihat gedung, Alga mengajak Tari untuk pulang. Namun mereka mengunjungi tempat makan untuk mengisi perutnya yang sudah merasa lapar.
Dan kini mereka sudah berada di restaurant yang tempatnya masih berada di gedung itu. Berbagai macam masakan di sana, karena tempatnya dijadikan seperti tempat yang sedang mengadakan hajatan. Mengambil makan itu sendiri dan bebas mengambil apa saja yang diinginkan para pengunjung.
"Mas, ada yang kawinan ya di sini?" tanya Tari dengan polosnya.
"Kawinan? Siapa yang kawinan?" Alga balik bertanya.
"Ini, buktinya kita makan seperti sedang kondangan."
"Di sini memang begini, Tari. Udah ah, jangan norak." Alga melanjutkan mengambil makanannya lalu pergi menuju kursi yang sudah disediakan di sana.
"Mas kenapa melihatku seperti itu? Apa cara makanku menjijikan?"
"Mas seneng melihatmu makan banyak, biar cepet besar dan kecil begitu." Mata Alga menuju kearah gunung kembar miliknya.
"Apa sih, buat malu saja. Nanti juga besar sendiri." Tari kesal pada suaminya. " Kecil begini juga membuatmu jadi candu."
Tari tak mau kalah dengan suaminya yang selalu meledeknya. Alga tak lagi bisa mengelak, karena itu memang benar adanya. Tari sudah menjadi candu baginya.
"Wajar, kamu 'kan istriku. MENTARI ISTRIKU, Alga menekan kata itu agar Tari sadar bahwa ia hanya miliknya. Hanya ia yang boleh menyentuhnya, menyentuhnya sampai ia menjadi besar dan wanita sempurna.
"Iya-iya ... Aku memang milikmu," kekeh Tari.
Karena makan sudah selesai, Tari mengajaknya untuk pulang. Alga membukakan pintu mobil untuk istrinya. Alga pun sudah duduk di posisinya.
Mulai melajukkan mobil itu dengan pelan, saat dalam perjalanan. Tari melihat Sinta, dan meminta suaminya untuk menghentikan mobilnya.
"Mas tolong menepi."
__ADS_1
Alga menepikan mobil sesuai permintaan istrinya. "Ada apa?" tanya Alga, tapi Tari tak menghiraukan pertanyaannya. Gadis itu bahkan sudah menghilang dari pandangannya.
"Sinta," teriak Tari. Ia melihat temannya sedang ditarik oleh seorang pria yang sudah berumur.
"Tolong lepaskan dia!" kata Tari.
"Jangan ikut campur, ini urusanku." Pria itu akhirnya membawa Sinta pergi, gadis itu terus meronta mencoba melepaskan diri. Tari tak bisa berbuat apa-apa karena Alga menahannya.
"Tari, kamu jangan ikut campur urusan orang. Mas gak mau nanti kamu dalam bahaya." Alga memperingati istrinya, karena ia melihat pria itu begitu menyeramkan.
"Dia Sinta teman sekolahku dulu, Mas. Sepertinya dia dalam bahaya."
"Pikiranmu belum tentu benar adanya, bisa saja pria itu adalah Ayahnya atau saudaranya."
"Tapi, Mas."
"Sudah, kita pulang sekarang," ajak Alga.
Di dalam mobil, Tari terus diam. Ia memikirkan Sinta temannya itu, lalu ia ingat akan permintaannya pada suaminya yang meminta menyelidiki Sinta yang menjadi karyawan suaminya.
"Mas, apa Mas sudah menyelidiki Sinta? Kenapa dia jadi karyawanmu, sedangkan yang aku tahu dia anak orang kaya."
"Mas gak tahu kenapa dia jadi karyawan. Yang Mas tahu sekarang, dia bekerja di kantor sebagai OB. Dan dia sudah lama bekerja di sana, ada satu tahunan."
Mendengar penjelasan suaminya, Tari semakin kepo akan Sinta. Berarti gadis itu tak melanjutkan pendidikkannya, Tari menjadi kasihan, apa yang sudah terjadi dengannya itu? Pikir Tari.
Tanpa terasa, perjalanan mereka akhirnya sampai di rumah. Tari merebahkan tubuhnya di sofa, disusul Alga dan ikut duduk disamping istrinya. Melepas penat dari kegiatannya hari ini.
"Mas, aku kasian sama Sinta. Bolehkan aku membantunya? Dia teman sekolahku sewaktu SMP, kami berpisah karena sekolah di tempat yang berbeda."
"Boleh menolong, tapi jangan ikut campur urusannya, ya?"
"Hmm, besok aku ikut ke kantor Mas kalau begitu. Aku mau bertemu dengannya."
"Iya, tapi sebaiknya kita mandi sekarang." Alga membopong tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi.
Mereka mandi bersama, Alga menyelam sambil minum air di sana. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu, mereka memadu kasih di dalam sana. Menikmati tanpa ada yang mengganggu.
Hingga keduanya sama-sama menikmati surga dunia bersama.
__ADS_1