
Mulai hari ini, Alga dan Tari tinggal berdua. Pada malam ini, Tari mulai bergelut di dapur memasak untuk makan malam mereka.
Sementara Alga, pria itu membereskan bajunya serta milik istrinya ke dalam lemari masing-masing. Di luar kamar, mereka mulai akrab dengan aktivitasnya.
Mereka menjalani rumah tangga layaknya pasangan yang saling mencintai. Tapi sayang, itu terjadi pada lain tempat, bukan di atas ranjang yang pada umumnya.
Tari akan bersikap tempramental jika di atas kasur, tapi itu dulu sebelum mereka dekat dan terpaksa menjalani pernikahan yang tidak mereka inginkan. Entah untuk kali ini, Alga dan Tari mulai dekat. Ada perasaan berbeda pada Tari ketika melihat suaminya, dan itu terjadi mulai hari ini.
"Omsu, bisa tolong aku?" teriak Tari yang berada di dapur.
Mendengar Tari memanggil, dengan cepat Alga menghampirinya.
"Ada apa?" tanya Alga setibanya di dapur.
"Ambil itu." Tari menunjuk pada rak bumbu yang terletak di atas, tubuhnya yang mungil tak mampu menjangkaunya.
"Ini." Alga memberikan toples kecil pada Tari.
"Bukan."
"Apa ini?"
"Bukan, yang itu-tu."
Pusing karena salah terus, akhirnya Alga memanggku tubuh Tari untuk menggapai apa yang diinginkannya.
"Ini, Omsu." Ujar Tari sembari menunjukkan benda kecil itu padanya.
"Itu apa sih? Kok baunya menyengat."
"Terasi."
"Untuk apa?"
"Sambel."
Alga hanya manggut-manggut, ia merasa masakan Tari kali ini berbeda dengan makanan yang selalu disajikan oleh mamanya.
"Masak apa sih? Ini ada ikan asin." Alga melihat ke atas meja makan, ia melihat hasil masakan istrinya.
"Omsu coba saja nanti, dijamin nambah tiga kali," kata Tari.
__ADS_1
"Masa? Aku belum pernah coba makanan seperti ini."
"Omsu akan mencobanya malam ini," kata Tari. Gadis itu selesai membuat sambel, lalu meletakannya di atas meja.
Mereka berdua mulai menikmati makan malamnya ala Mentari. Tari melihat suaminya mengambil sendok dan garpu, namun ia langsung mengambilnya.
"Mau dikemanakan sendok dan garpunya?"
"Jangan pake ini, nih makannya kaya aku."
Alga melihat Tari makan langsung dengan tangan, lalu ia pun mengikutinya. Pria itu mulai menikamtainya hingga tak terasa ia nambah sampai dua kali. Makan malam ini benar-benar nikmat sampai ia kekenyangan.
"Apa mau nambah lagi?" tawar Tari.
"Tidak, aku sudah kenyang. Nanti perutku bisa sakit."
Karena makannya sudah selesai, Tari membereskan piring kotor. Alga pun ikut membantu. Tari tersenyum melihat suaminya yang ikut turun memberesakan dapur, sebelumnya ia tak pernah melihat keberadaan suaminya di dapur mertuanya.
Malam semakin larut, Tari dan Alga sudah berada di kamar masing-masing. Namun sepertinya, Alga tak bisa tidur malam ini. Ia hanya menggulingkan tubuhnya ke sana ke sini di atas kasur. Tetap saja ia tak bisa memejamkan mata.
Lalu ia kepikiran akan Tari, apa gadis itu bisa tidur nyenyak malam ini? Apa mungkin ia juga merasakan hal yang sama dengannya? Penasaran akan hal itu, ia pun akhirnya mengeceknya sendiri.
Setibanya di lantai bawah, ia melihat kamar Tari terbuka. Lalu berjalan mendekati kamar itu sampai ia terhenti di ambang pintu.
Suara itu mengejutkan Alga, ia mutar tubuhnya menghadap arah sumber suara. Merasa terciduk, ia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mm ... Aku kira kamu sudah tidur dan lupa menutup pintu, tadinya aku ingin menutup pintunya," jelas Alga yang berbohong.
"Kamu sendiri belum tidur, ini sudah malam loh."
"Haus, aku ke dapur ambil ini." Tari menunjukkan gelas yang terisi air. Setelahnya, ia masuk ke kamar tanpa mempersilahkan suaminya untuk masuk. Malah ia langsung menutup pintu karena memang sudah mengantuk.
"Ya ... Kok, ditutup sih," batin Alga. Padahal ia berharap bahwa Tari akan menyuruhnya masuk meski itu sangat mustahil.
Itu tujuannya bukan, tinggal berpisah dengan orang tuanya karena ingin tidur terpisah dengan Tari. Tapi kenapa ia malah tak bisa tidur jika tidak ada istrinya di sisinya.
Alga menghela napas lalu kembali ke kamarnya, hingga waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari ia tetap tak bisa memejamkan matanya. Ia pun beranjak dari tempatnya, keluar kamar menuruni anak tangga.
Klek.
Ia membuka pintu kamar, kamar yang di tempati oleh Tari. Masuk ke dalam kamar itu, kamar yang terlihat begitu gelap. Hanya lampu temaram dari luar yang menimbulkan cahaya di sana. Entah sadar atau tidak, Alga merebahkan tubuhnya di samping Tari.
__ADS_1
Ia pun menguap, seolah kantuk mulai menyerang. Beberapa menit kemudian, Alga sudah terlelap dari tidurnya.
Sampai waktu begitu cepat berputar.
Bunyi alaram ponsel milik Tari berbunyi, gadis itu memang sengaja memasang alaram jam lima subuh. Saat ia hendak ingin beranjak, Tari merasa ada sesuatu yang menimpa di bagian perut. Ia merabanya, terkejut mendapati sebuah tangan melingkar di sana.
Tari langsung beranjak dan duduk.
"Omsu, sejak kapan dia di sini?" Semalam ia ingat betul bahwa ia tidur sendiri. "Lalu ...?"
Mungkin karena mulai terbiasa, Tari tak lagi memberikan pukulan pada suaminya. Lagian tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
Mentari menurunkan tangan Alga dari tubuhnya, ia pun dengan segera pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Tapi sebelumnya itu, ia mengosok gigi dan mencuci wajahnya yerlebih dulu.
* * *
"Akhirnya sudah selesai," kata Tari yang baru menyelesaikan masaknya. Ia membuat nasi goreng untuk sarapannya.
Melihat waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam, Tari pun dengan segera kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Ia melihat Alga masih tertidur, meski banyak pertanyaan dalam hatinya mengapa pria ini bisa berada di kamarnya dan tidur bersamanya?
Setelah selesai mandi, ia tak melihat keberadaan suaminya di atas kasur. Pikir Tari bahwa pria itu sudah terbangun. Ia bernapas lega karena tidak perlu repot-repot memakai bajunya di dalam kamar mandi.
Seusai memaki baju dan siap dengan sekolahnya hari ini, Tari pergi menuju ruang makan. Tak lama, ia melihat suaminya sudah siap dengan setelan jas-nya.
"Omsu sarapan dulu, aku sudah masak nasi goreng." Tari memanggilnya karena ia melihat Alga berjalan bukan menuju ruang makan akan keberadaannya.
"Tari, aku buru-buru. Kamu berangkat sekolah sendiri saja ya, deket kok." Sebelum berangkat, Alga menghampiri Tari, ia memberikan kartu debitnya. "Kamu bisa gunakan ini untuk keperluanmu juga keperluan dapur."
Setelah mengatakan dan memberikan kartu itu, Alga menghilang dalam pandangan Tari. Gadis itu sudah membuatkan sarapan untuknya, tapi Alga malah pergi, jangankan mencicipinya, meliriknya pun tidak.
Mentari jadi penasaran, apa yang membuat suaminya itu terburu-buru? Apa ini ada hubungannya dengan kekasihnya?
Dengan lemas, Tari sarapan seorang diri. Ia tak berselera pagi ini. Sikap suaminya tak seperti kemarin, bahkan Tari berharap sikap Alga akan lebih hangat.
Dengan gontai, ia berjalan menuju tempat di mana ia akan belajar. Disaat sudah mendekati gerbang sekolah, Bunga melihat sahabatnya itu berjalan sendirian.
Lalu ia pun mendekati Tari.
"Hey, kok tumben jalan kaki, kemana pangeranmu?" tanya Bunga.
__ADS_1
Tapi Tari berjalan terus tanpa menghiraukan pertanyaan sahabatnya. Entah kenapa, Tari merasa ada yang kurang dengan hari ini. Yang biasanya ia ada perdebatan dengan suaminya , namun kali ini tidak. Alga memilih pergi darinya, ada yang lebih penting dari seorang Tari.
Sedangkan Bunga, hanya melihat dengan bingung. "Kenapa dia?"