
Di sekolah, sejak Tari masuk sampai jam pulang pelajaran, gadis itu tak seceria seperti biasanya. Bahkan tak ada kabar dari si omsu untuknya, biasanya ia selalu mendapat pesan meski hanya pesan singkat 'sekolah langsung pulang' sepertilah chat yang dikirimkan Alga untuknya.
Saat Tari berjalan di lorong sekolah, Bunga mengejarnya.
"Tari, kamu kenapa sih? Berantem sama si Omsu?" tanya Bunga, ia penasaran karena tak biasanya sahabatnya terlihat murung.
"Lagi BT saja," jawab Tari.
"BT kenapa sih? Kamu berantem ya sama suamimu?" tanya Bunga dengan nada pelan.
"Tidak, aku bingung saja."
"Bingung kenapa?"
Perjanjian yang diputuskan Alga untuk hubungan mereka, Tari menceritakan itu pada sahabatnya. Sampai Bunga dibuat geleng-geleng kepala. Dan yang lebih bingung lagi, Alga malah tidur bersamanya, padahal alasan mereka pindah itu karena salah satunya adalah ingin tidur secara tepisah.
"Wah kacau kamu ini, pernikahan itu bukan main-main, Tari. Kalau kalian jatuh cinta tanpa kalian sadari, bagaimana? Apa lagi kalau kamu yang cinta duluan, siap-siap sakit hati."
"Maksudmu?"
"Si Omsu-mu itu punya pacar 'kan? Kalau pernikahan kalian dirahasiakan sama saja kamu membiarkan pelakor masuk dalam rumah tanggamu, kamu BT, jangan-jangan kamu sudah mulai suka ya sama laki-laki itu?" tebak Bunga dengan menggoda.
"Masa sih aku suka sama dia? Gak ada rasa jantung berdebar tuh dekat sama si Omsu." Tari hanya merasa tidak ingin dicuekkan saja oleh suaminya itu seperti sekarang. Hidupnya terasa hampa.
Tanpa terasa, langkah mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah. Disaat itu juga, Mentari dan Bunga melihat sosok Chiko tengah bersandar di samping mobil. Pria itu melambaikan tangannya ke arah Tari dan Bunga.
"Tuh, pangeran keduamu datang." Kata Bunga sembari menunjuk pria itu.
"Apaan sih, pangeran dari hongkong," seru Tari.
Tari dan Bunga pun menghampiri Chiko.
"Mas Chiko mau jemput Tari, ya?" tanya Bunga setibanya di hadapan pria tampan tersebut.
Chiko langsung mengangguk.
"Ajak jalan gih, Mas. Hibur, dia lagi BT." Ujar Bunga sembari menoleh ke arah wajah sahabatnya itu.
__ADS_1
"BT kenapa?" Chiko pun akhirnya penasaran.
"Gak BT kok, Bunga ngarang aja tuh!" Tari mendelikkan matanya ke arah Bunga, gadis itu hanya nyengir bak kuda.
"Udah sana, mending kalian jalan," titah Bunga.
"Ayok, Tari. Kita jalan-jalan," ajak Chiko.
Mentari nampak berpikir, lalu ia mengangguk. Tapi ia tak ingin jalan berdua. Karena bagaimana pun, Tari ingat akan statusnya yang sudah menikah.
"Bunga boleh ikutkan, Mas? Aku akan pergi jika bersamanya," kata Tari.
Tidak ada pilihan, Chiko pun mengiyakan. Meski dalam hati ia ingin jalan berdua dengan gadis itu yang tak lain adalah Mentari, gadis yang selama ini sudah ada dalam hatinya. Tapi ada Atika dalam hidupnya yang menjadi penghalang cintanya pada Tari, ditambah lagi Tari masih sekolah.
Tak berlama-lama lagi, mereka bertiga jalan ke mal. Hanya sekedar untuk mencari makan dan minum. Jika Mentari tidak sedang kesal pada Alga karena tadi pagi, mana mungkin ia akan pergi bersama Chiko.
Mobil yang dikendarai Chiko pun mendarat sempurna di area parkir. Mereka bertiga turun dari mobil, Tari dan Bunga berjalan lebih dulu. Disusul oleh Chiko dari belakang.
"Tari, nonton yuk?" ajak Bunga.
Bunga menghela napas lemas, ia lupa kalau sekarang sahabatnya itu tak lagi sebebas dulu.
"Kalau kalian mau nonton, nonton saja gak apa-apa," timpal Chiko.
"Mmm, gak deh, Mas. Kita cari makan saja ya? Aku laper," ujar Tari.
Chiko yang tidak bisa memaksa pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menuruti keinginan Mentari. Dan mereka bertiga pergi menuju food cort untuk mencari makan. Disaat perjalanan menuju sana, Bunga melihat keberadaan suami Mentari.
"Tar, Tari ..." Panggil Bunga sembari tangannya menarik baju sahabatnya, sedangkan matanya terus mengarah ke arah Alga.
"Apa sih, Bunga?" Tari yang tengah berjalan langsung terhenti karena tarikan dari sahabatnya.
"Itu-tu ..." Tunjuk Bunga sambil mengarahkan wajah Tari dengan kedua tangan menangkup kedua pipinya.
Tari pun melihat keberadaan suaminya tengah bersama wanita cantik yang ia kira, itu pasti Citra. Kekasih suaminya.
"Tari, kamu gak apa-apakan?" tanya Bunga, ia takut Tari merasa sakit hatinya setelah melihat keberadaan suaminya.
__ADS_1
Tapi dugaan Bunga salah. Ia malah melihat Tari merangkul tangan Chiko, lalu berjalan menghampiri Alga yang sedang tertawa renyah dengan kekasihnya. Hingga tawanya terhenti kala ia melihat Tari bersama Chiko.
Chiko merasa ada yang ganjal di sini, tidak biasanya gadis itu merangkulnya. Apa lagi ada Alga, pria yang akhir-akhir ini selalu menjemputnya. Chiko merasa curiga bahwa laki-laki itu bukanlah saudaranya. Untuk ini, Chiko akan mencari tahu kebenarannya.
"Mas Chiko mau pesan apa?" tanya Tari, tapi matanya malah ke arah Alga yang sedang menatapnya dengan mulut menganganga.
"Sedang apa di sini?" batin Alga.
Tari seolah tidak mengenalnya, dan itu membuat Alga geram. Ditambah lagi, istrinya itu tak meminta izin padanya.
Setelah Tari dan Chiko duduk, dan disusul oleh Bunga. Alga yang berada di samping meja mereka terus melihat ke arah meja yang di tempati oleh istrinya, ada rasa sesak di dadanya ketika melihat Tari merangkul pria yang bukan makhram-nya.
"Sayang, kamu lihat siapa sih? Kamu kenal sama mereka?" tanya Citra pada Alga.
Alga tak menjawab, ia malah terus memperhatikan gerak-gerik Tari dengan Chiko. Sepertinya gadis itu ingin membuat suaminya merasa terbakar. Meski itu mustahil bagi Tari, karena yang ia tahu suaminya itu hanya mencintai kekasihnya.
"Aku pesan seperti yang kamu pesan saja," jawab Chiko. Secara bergantian ia melihat Alga dan Tari. Ia melihat ada api cemburu di mata laki-laki itu.
Karena pelayan sudah datang, Tari dan Bunga langsung memesan makanan. Setelah pelayan itu pergi, Tari berbincang kembali dengan Chiko dan Bunga.
"Tari, bukankah dia saudaramu? Kalian berantem?" duga Chiko.
Tari menatap sekilas ke arah suaminya, lalu tak lagi mempedulikannya. Yang dipikirkan Tari sekarang adalah, nomor suaminya tidak aktif karena ini, sengaja mematikan ponselnya karena tidak ingin ada yang menganggunya.
Meski itu bukan urusannya, setidaknya suaminya itu memberi kabar padanya, bukan bermesraan di tempat umum begini. Tidak ingin kalah, Tari pun melakukan hal yang sama seperti Citra yang sedang menyuapi Alga makan.
"Mas, cobain ini deh. Makananku pasti lebih enak," ujar Tari ketika si pelayan sudah membawakan makanannya.
Tari menyuapi Chiko di hadapan Alga. Alga mengepalkan tangannya yang berada di bawah meja, entah kenapa, ia melihat itu sedikit emosi. Ia sendiri yang sudah menjadi suaminya belum pernah disuapi Tari.
"Ish ... Kalian membuat kejombloanku meronta-ronta," ujar Bunga.
"Jomblo? Pacar barumu yang kemarin dikemanain?" tanya Tari.
"Sesekali bolehlah mesra begini, iyakan MAS CHIKO ..." Tari sengaja menekankan kata 'Mas Chiko' tujuannya agar Alga mendengarnya dengan jelas.
Alga semakin geram mendengarnya. Ia sendiri di panggil 'Omsu' oleh istrinya sendiri.
__ADS_1