Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 43


__ADS_3

Tari dan Alga berada di dalam mobil, mereka tengah dalam perjalan pulang. Sedari tadi, Alga menggenggam tangan istrinya dengan satu tangan, dan yang satunya lagi sibuk dengan stir kemudi. Beberapa kali ia membenamkan sebuah kecupan di sana.


"Sayang, apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Alga. Ia takut istrinya sedang ngidam dan tak berani mengungkapkannya.


"Tidak, Mas. Aku mau pulang saja, bawaannya lemes. Pengennya hanya rebahan." Jawab Tari sambil menyenderkan kepala di bahu suaminya. "Mas jangan pakai parfum ya, aku eneg sama baunya."


"Iya, apa pun keinginanmu, Mas kabulin." Alga mencium kepala Tari.


Ia begitu bahagia, sebentar lagi akan memiliki momongan. Saking bahagianya, membuat waktu begitu terasa cepat berlalu. Bahkan perjalanan pun terasa dekat. Dan akhirnya, mereka sampai.


"Jangan turun dulu," kata Alga. Ia langsung turun dari mobil dan menghampiri arah tempat duduk Tari. Terbilang lebay memang, tapi inilah yang dilakukan Alga. Ia menggendong istrinya dan membawanya ke dalam.


"Kamu jangan cape-cape, dan mulai saat ini, Mas akan menyewa pembantu di sini." Ucap Alga disaat dalam perjalanan menuju masuk ke dalam rumah.


Alga langsung membawa Tari ke kamar, mendudukkan tubuhnya di ranjang. Ia meraih bantal untuk dijadikan sandaran Tari. Ia memperlakukan istrinya bak putri.


"Kalau butuh sesuatu, kamu panggil Mas. Mau minum, makan, ke kamar mandi, pokoknya harus bilang. Mas siap melayani 24 jam."


"Mas, aku bukan orang sakit. Gak gitu juga memperlakukanku, cukup perhatian dan menyanggupi keinginanku saja sudah lebih dari cukup."


Alga mendudukkan diri di samping istrinya, menatap wajah itu lekat-lekat. Menangkup wajahnya dengan kedua tangan, ia begitu gemas dan puas akan jawaban calon ibu itu. Alga semakin sayang karena Tari tidak manja. Tapi tetap saja, ia tak akan membiarkan istrinya untuk mengerjakan pekerjaan rumah.


Mulai hari ini, Tari akan menjadi nyonya di rumah ini. Tidak lagi membereskan pekerjaan rumah atau pun memasak. Alga akan menyewa pembantu bila perlu 2 atau sampai 3 sekaligus.


***


Satu bulan kemudian.


Semakin hari, Tari semakin sembuh dari rasa mual yang dideritanya. Namun kali ini, malah Alga yang sering mual dan memakan rujak. Bahkan hari ini Alga begitu lemas tak berdaya, sejak pagi pria itu hanya rebahan di kamar.


Rasa mual dan pusing begitu mendera, Tari sendiri menjadi kasihan pada suaminya.

__ADS_1


"Mas, makan dulu ya?" pinta Tari.


"Mas gak mau makan, mual rasanya mencium aroma nasi. Mas mau makan buah saja," kata Alga yang berada di balik selimut. Sudah seperti orang sakit saja Alga itu, dari pagi sampai sekarang sudah jam 11 siang ia masih bergelung dengan selimut.


Baru kali ini ia sampai tidak masuk kantor, kemarin-kemarin memang sudah mual. Tapi kali ini, ia benar-benar lemas. Apa pun yang ia makan pasti kembali kembali dimuntahkan. Alga ngidam dan menggantikan istrinya.


"Ya udah, Mas mau buah apa?"


"Jeruk."


Tari pun mengupas jeruk, setelah mengupasnya ia berikan pada suaminya. Tapi, Alga malah menolaknya, bukan begitu caranya, ia menginginkan jeruk itu dibuang bijinya dan dibuat mekar seperti bunga. Tari yang tidak mengerti sempat marah pada Alga.


Seketika, Alga tertunduk. Hatinya mendadak melow karena ia merasa Tari membentaknya. Benar-benar kebalik, dulu Tari yang ada diposisi itu, dan sekarang malah terjadi sama Alga.


"Kamu jahat, kamu bentak, Mas." Alga menjadi sedih.


"Yang ngidam itu aku loh, Mas. Kamu rewel banget sih, aku 'kan pusing sama kemauanmu ini. Jeruknya ya tinggal dimakan aja, apa susahnya?"


Mau tak mau, Tari menyanggupi keinginan suaminya. Ia buat jeruk itu dibuat mekar, dan dibuang bijinya terlebih dulu. Alga kembali tersenyum dan memakan buahnya dengan lahap. Sebenarnya, Tari merasa kasihan.


Hanya buah-buahan yang bisa dikonsumsi oleh Alga, itu pun tidak semau buah ia makan. Kalau baunya terlalu menyengat, ia pasti muntah. Seperti mencium aroma durian dan juga pisang. Dengan sabar, Tari melayani suaminya.


Ia yang hamil, Alga yang menderita. Namun hanya satu yang tak bisa diungkapkan dengan keinginannya itu. Entah kenapa, ia mendadak ingin bertemu, Citra. Bukan rindu atau pun masih memiliki perasaan pada wanita itu.


Ia hanya ingin bertemu, dan suka dengan gaya-gaya pose wanita itu jika sedang bergaya di majalah cover dewasa. Ia hanya memendam keinginannya itu, tak berani mengungkapkannya. Bisa perang dunia jika Tari tahu, dan bisa-bisa itu hanya akal-akalannya saja ngidam ingin bertemu seorang model.


"Sayang ...," ucap Alga.


"Apa?" jawab Tari tanpa menoleh, karena ia sedang mengupas jeruk.


"Mmm ... Gak jadi, deh." Alga takut jika nanti istrinya marah, lebih baik ia pendam keinginannya itu.

__ADS_1


"Apa sih, Mas. Kamu mau bilang apa?" Tari menghentikan aktivitasnya yang sedang mengupas jeruk, ia malah menatap wajah sang suami. Namun, pria itu tengah tertunduk. Tari meraih wajah itu. "Tatap, aku!"


Mereka saling memandang, namun Alga tetap bungkam dengan keinginannya.


"Katakan, kamu mau bilang apa tadi?" Tari mendesak, karena ia paling tidak suka ada yang ditutup-tutupi.


"Gak jadi, nanti kamu marah dan salah faham."


Setelah mengatakan itu, Alga malah membungkus tubuhnya kembali dengan selimut. Ia tidak ingin membuat kekacauan dalam rumah tangganya, apa lagi ini mengenai Citra. Bagaimana pun, wanita itu tersimpan selama 4 tahun dalam hidupnya


Tentu seorang istri pasti marah jika suaminya tiba-tiba meminta bertemu dengan sang mantan.


"Mas, kamu nyebelin banget sih!" Tari kesal karena merasa Alga menyimpan rahasia yang tidak ingin ia ketahui. Kesal, akhirnya Tari turun dari kasur dan meninggalkan Alga sendiri di sana.


Setelah kepergian Tari, Alga mengambil ponselnya. Ia melihat wajah Citra melalui ponsel, dan ia berharap setelah melihatnya rasa keinginannya itu menghilang. Bukannya mengilang, Alga malah terbawa suasana. Ia terus menelusuri sosmed milik Citra.


Wanita itu tengan bersiaran langsung. Dengan ****-nya wanita itu bergaya dengan kebutuhan cover majalah. Alga terus tersenyum melihatnya, ia hanya mengagumi sosok model cantik itu. Tidak ada niatan yang lain selain ingin bertemu. Bahkan perasaannya sudah memudar semenjak ia mengenal Tari, apa lagi sekarang sudah menikah. Alga semakin mencintai istrinya karena ia tengah mengandung darah dagingnya.


Saking asyiknya, Alga tidak menyadari bahwa Tari sudah ada di belakangnya. Bumil itu tampak murka ketika melihat Alga tengah melihat siaran langsung model cantik itu. Kemarahan nampak terlihat, Tari mengepalkan tangannya, ia begitu kesal dengan tingkah Alga.


"Jadi begini kelakuanmu jika aku tidak ada!"


Alga langsung membalikkan tubuhnya dan mematikan ponselnya ketika mendengar suara Tari yang nampak marah itu.


"Gak! Bukan begitu. Mas tidak sengaja melihatnya, kebetulan melintas di beranda," jelas Alga.


Tapi Tari tidak percaya, omong kosong dengan alasan itu. Model cantik itu mantan-nya, wajar jika ia masih memendam rasa, pikir Tari.


"Sayang ... Kamu harus percaya."


Tari marah, benar-benar marah.

__ADS_1


__ADS_2