Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 48


__ADS_3

Seketika, Tari melepaskan diri dari pelukkan Chiko. Ia mendengar suara yang tak asing lagi baginya, suara yang terbiasa ia dengar ketika sang suami memanggilnya. Ia melihat ke arah sumber suara, dan benar saja suaminya berada di rumah sakit tempat di mana ia membawa ayahnya.


Dari mana Alga tahu akan keberadaannya di sini? Apakah Alga mencarinya? Seputar pikiran itu terlintas dalam otaknya, hingga tubuh yang merasa lelah itu mulai tak seimbang. Terlalu banyak menyimpan beban, karena kondisinya memang sedang hamil muda.


Tubuh itu langsung ambruk, dan Alga dengan cepat menghampirinya berniat menyangga tubuh istrinya. Tapi sayang, ia tak bisa menggapainya karena membutuhkan waktu sampai di sana. Jadi Chiko-lah yang bisa meraih tubuh itu.


Alga tak bisa membiarkan itu, ia mengambil alih tubuh Tari yang sudah berada di pangkuan Chiko. Tak banyak kata, ia langsung memanggil suster setelah berhasil memangku tubuh istrinya.


Suster pun datang sambil membawa branker.


"Tolong istri saya, Sus." kata Alga sambil membantu mendorong branker ke ruang IGD.


Alga terus menunggu dokter yang sedang memeriksa Tari. Sementara Chiko sendiri menunggu Surya, karena dokter belum selesai memeriksa pria paruh baya itu. Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan UGD.


Wajahnya terlihat lemas, tapi ia harus menyampaikan berita duka bahwa pasien tak bisa terselamatkan. penyakitnya sudah komplikasi, ditambah lagi serangan jantung yang tak bisa menyelamatkan nyawanya.


Chiko yang mendengar pun langsung lemas, ia memikirkan nasib Tari. Gadis itu pasti sangat terluka, kenapa dalam kondisi seperti ini ia harus kehilangan orang yang paling disayanginya. Disaat orang yang dicintainya sedang memberikan luka padanya.


Mau tak mau, Chiko pergi untuk menemui Tari. Ia melihat Alga masih berdiri di depan pintu IGD, menunggu dokter keluar dari sana. Inginnya ia menegur pria itu karena sudah membuat hati Tari terluka. Tapi ini bukan waktu yang tepat.


Akhirnya, Chiko memberikan kabar duka itu pada Alga.


"Dokter tidak bisa menyelamatkan Pak Surya." Ucapan itu terlontar begitu saja tanpa permisi terlebih dulu


"Maksudmu?" tanya Alga.

__ADS_1


"Ayah Tari meninggal." Jawabnya sambil tertunduk.


Tubuh Alga merosot, bersimpuh di atas lantai tanpa berdaya. Ia kasihan kepada Tari, kenapa masalah ini menjadi begini? Dan dokter pun keluar, memberi kabar akan kondisi Tari.


Melihat dokter keluar, Alga langsung terbangun.


"Bagaiman kondisi istri saya, Dok?" tanya Alga.


"Istri Anda kondisinya sangat lemah, untuk sementara jangan banyak pikiran, kalau itu terjadi akan berdampak buruk dengan kandungannya, " jelas dokter. Karena usia Tari masih terbilang muda untuk hamil, ditambah pikiran yang membuat kondisinya melemah.


"Boleh saya menemuinya, Dok?" tanya Alga.


"Boleh, pasien juga sudah siuman."


Namun, sebelum Alga ke ruangan di mana Tari berada, ia menghampiri Chiko terlebih dulu.


Setelah semuanya sudah selesai, ia menghampiri istrinya. Membuka pintu pelan-pelan. Tari langsung merubahkan posisi ketika ia tahu siapa yang datang. Ia membelakangi arah suaminya.


Belum siap rasanya untuk melihat sang suami, ia tahu ini salah. Masalah tidak akan selesai jika terus menghindar, ia tak bertenaga untuk membahas masalah ini sekarang. Lalu, ia teringat pada ayahnya.


"Ayah." Seketika, Tari terbangun. Namun Alga keburu menghampirinya, jadi Tari masih berada di tempatnya.


"Maafkan aku, Tari." Alga bersimpuh tepat di hadapan istrinya, lututnya ia jadikan untuk menopang tubuhnya hingga posisinya sekarang ia mencium kedua lutut Tari, karena posisi Tari terduduk dengan kaki menjuntai dari atas branker.


"Ini salah faham, kamu dengarkan penjelasanku. Kedatangan Citra tak seperti yang kamu bayangkan, aku tidak tahu dia akan menemuiku, dia datang untuk memberikan kado pernikahan kita."

__ADS_1


Tari memalingkan wajahnya, jika benar begitu, ia pun ikut bersalah dengan masalah ini. Bersalah tak memberi kesempatan untuk suaminya menjelaskan semua. Semuanya tersuslut dengan emosi, dan sekarang sudah terjadi.


Tari mengusap lembut pucuk rambut suaminya, keduanya sudah menyadari akan kesalahan masing-masing.


Alga sendiri belum berani memberikan kabar tentang ayahnya, ia takut kondisi Tari kembali melemah. Mengingat janin yang masih begitu muda, ia takut terjadi sesuatu. Sudah cukup kehilangan mertua, ia takut kehilangan calon anaknya.


***


Orang tua Alga sudah menyusul ke rumah sakit, mendengar kabar duka itu membuatnya shock berat. Karena semua sudah hadir, tim dokter dan tim jenazah menyelesaikan urusannya dengan pasien yang meninggal. Mengurus jenazah untuk segera dimandikan dan dikain kapan-kan.


Sementara Ajeng, ia tak melihat keberadaan menantu dan anaknya. Ia hanya melihat keberadaan pria yang bersama Tari sewaktu ke ruamhnya.


"Di mana Tari dan Alga?" tanya Ajeng pada Chiko.


"Di ruangan sebelah sana, Tante. Tadi Tari pingsan," jawab Chiko.


Ajeng berkesimpulan tak sadarkan Tari karena mendengar kabar sang ayah. Lalu, ia pun menemui menantunya.


"Tari," kata Ajeng setibanya di sana.


"Mama." Tari dan Alga pun memposisikan diri agar terlihat nyaman di pandangan ibu paruh baya itu. Ia tak ingin membuat hati seorang ibu terluka akan kabar rumah tangganya, ia ingin mertuanya tahu bahwa mereka sudah baik-baik saja.


Ajeng menghampiri Tari, memberikan semangat pada menantunya itu.


"Kamu yang tabah ya, sayang." Kata Ajeng sembari memeluk gadis itu.

__ADS_1


Tari terdiam, mencerna ucapan ibu mertuanya. Tabah karena apa? Seketika, ia teringat pada ayahnya yang berada di ruangan UGD.


__ADS_2