Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 49


__ADS_3

"Maksud, Mama apa?" Tari melepaskan diri dari pelukkan ibu mertuanya lalu menatap wajahnya.


Ajeng melihat ke arah Alga, sedangkan pria itu memejamkan mata karena tak kuasa apa yang akan terjadi pada istrinya jika Tari mengetahui bahwa ayahnya telah tiada. Pria itu menghempaskan hembusan napas dengan berat, sedangkan Ajeng yang tidak tahu apa-apa hanya melihat Tari dan Alga secara bergantian.


Tak lama dari situ, Yuda datang memberi kabar bahwa jenazah sudah siap dibawa pulang. Tari langsung shock dan kembali jatuh pingsan.


"Sayang, bangun." Alga menepuk-nepuk pipi istrinya agar tersadar.


"Apa yang terjadi?" tanya Yuda yang tidak tahu apa-apa itu.


"Tari belum tahu kalau Ayah sudah meninggal, Ma, Pa."


Penyesalan terlihat pada diri Ajeng.


"Maafkan, Mama. Mama tidak tahu," sesal Ajeng.


Bagaimana pun, Tari memang harus tahu. Tapi bukan sekarang, lalu bagaimana ini? Tari masih belum sadarkan diri, sedangkan jenazah harus segera dikuburkan.


"Apa kita tunggu Tari sadar?" tanya Yuda.


Alga jadi bingung sendiri. Lalu dokter kembali datang menemui ke ruangan Tari karena mendapat kabar bahwa ibu hamil itu kembali pingsan.


"Bagaimana, Dok? Apa istri saya baik-baik saja?" Belum dokter menjawab, Tari kembali siuman.


Bumil itu menangis histeris. "Ayah ... Ayah ..."


Alga mendekap tubuh yang lemas itu.


"Ayah, Mas. Ayah ..." Tak kuasa menahan sesak di dada, ia hanya bisa menumpahkan tangisan di dalam pelukkan suaminya.


"Tenangkan dirimu, ini semua sudah takdir. Maafkan aku juga ya, sayang?" Alga mendekapnya semakin erat.


"Aku mau menemui Ayah, biarkan aku kesana, Mas."

__ADS_1


Yuda melihat kursi roda di sudut ruangan, lalu meraih kursi itu diberikan pada Tari agar ia dapat menemui ayahnya menggunakan kursi roda itu.


***


Tari tersungkur di depan jenazah sang ayah, memeluk tubuh yang sudah terbujur kaku. Terbungkus dengan kain kapan.


"Ayah ... Kenapa pergi begitu cepat, bukankah Ayah ingin melihat cucu, Ayah." Tangis Tari pecah tak terelakkan.


Semua orang menitikkan air mata menyaksikan kepiluan Tari yang kehilangan sosok pahlawan baginya selama hidupnya. Alga meraih tubuh istrinya.


"Jangan menangis terus, kamu harus memikirkan calon anak kita. Kasian, dia juga pasti ikut bersedih." Alga terus mengusap punggung Tari.


"Sebaiknya kita pulang sekarang, jenazah harus segera dimakamkan. Hari semakin sore," ajak Yuda.


Dan akhirnya, mau tak mau Tari merelakan kepergian ayahnya. Menyaksikan acara pemakan itu sampai selesai, hari di mana ia terakhir melihat tubuh sang ayah. Kakinya tak kuasa menahan beban tubuhnya lagi, hampir saja ia kembali pingsan. Untung, Alga dengan cepat menangkap tubuh itu.


"Sayang, kamu harus kuat," ujar Alga.


Tari tak bersuara, ia hanya mengedipkan mata sebagai jawaban. Karena acara pemakaman sudah selesai, satu persatu mulai meninggalkan tempat itu. Hari sudah mulai gelap, Alga mengajak istrinya untuk pulang.


"Aku masih mau di sini, Mas," tolak Tari.


"Besok kita ke sini lagi, hari sudah mulai gelap. Cuaca sudah mendung," kata Alga lagi.


Dan benar saja, hujan turun membasahi bumi. Dengan paksa, Alga membopong tubuh istrinya untuk segera pulang.


***


Acara pengajian sudah dimulai, Tari ikut berdzikir di dalam kamar ditemani oleh Alga. Bumil itu terus menangis disepanjang dzikirnya.


Sahabat terbaiknya pun ikut hadir, Bunga menghampiri Tari lalu memeluknya.


"Yang sabar ya, Tari?" kata Bunga.

__ADS_1


"Hmm, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini," jawab Tari, karena ia tahu kalau sahabatnya itu kuliah di luar kota.


"Sayang, Mas ke depan dulu ya?" pamit Alga. "Bunga, saya titip Tari dulu," katanya lagi pada Bunga.


"Iya, Mas," jawab Bunga.


Karena acara pengajiannya dilakukan di rumah Tari, banyak kerabat Surya yang ikut mendoakan. Meski Alga tidak mengenal mereka, tapi ia menyambutnya dengan hangat.


Acara pengajian itu pun akhirnya selesai, orang-orang yang hadir satu persatu undur diri. Begitu juga dengan sahabat Tari, ia harus segera pulang karena besok akan kembali kuliah.


Chiko pun ikut hadir, ia sendiri pamit kepada Alga dan Tari.


"Baik-baik ya, kalian." Chiko menasehati Tari dan Alga, lalu ia pun segera undur diri dari sana.


Karena semua orang sudah pada pulang, kini hanya ada Tari, Alga dan orang tuanya.


"Ga, Mama sama Papa pulang dulu ya? Besok Mama ke sini lagi sama Bi Ati, biar dia di sini bersama kalian," kata Ajeng.


"Tidak usah, Ma. Aku akan ajak kedua asistenku untuk di sini," tolak Alga.


"Maaf, jadi merepotkan kalian," sahut Tari.


"Ssuuttt ... Kenapa bilang begitu? Kamu 'kan istriku, sudah seharusnya aku di sini bersamamu," timpal Alga.


"Iya, Tari. Kamu bukan hanya sekedar menantu kami, kamu anak kami juga," kata Yuda.


"Terimakasih ya, Pa, Ma."


Ajeng dan suaminya mulai meninggalkan kediaman Tari.


Rumah benar-benar sunyi, Tari masuk ke dalam kamar ayahnya. Ia melihat poto sang ayah terpajang, menggunakan seragam karena Surya adalah seorang guru. Semenjak istrinya meninggal, ia pun sakit-sakitan dan kini meninggal dunia.


Tari meraih poto yang terpajang di atas nakas, membawanya ke dalam pelukkannya. Ia merebahkan tubuhnya di kasur milik ayahnya, bagai anak kucing meringkuk begitu saja.

__ADS_1


Alga yang melihat begitu sedih, ia pun menyusulnya dan merebahkan diri di samping Tari, memeluk istrinya dari belakang. Sampai mereka terlelap bersama di kamar itu.


__ADS_2