
Setelah kejadian itu, Alga dan Tari semakin dekat. Cinta keduanya benar-benar sudah tumbuh. Terkadang, Alga mengajak Tari ikut ke kantor.
Tari selalu beralasan bahwa ia jenuh di rumah sendiri. Tak semua karyawan tahu akan Tari yang menjadi istrinya, karena memang, pernikahan mereka hanya diadakan secara sederhana.
Setelah Tari lulus, ia akan menggelar resepsi pernikahanya dengan Tari. Ia akan mengundang semua kerabat serta rekan bisnisnya.
"Tari, Mas ada meeting. Kamu tunggu saja di sini. Kalau lapar atau butuh sesuatu, kamu tinggal tekan nomor 1. Nomor itu akan teehubung pada Mela," jelas Alga. Mela adalah sekretaris Alga.
"Iya, Mas. Mas tidak perlu mengkahwatirkanku. Kalau tidak menghubungi Mbak Mela, aku akan ke kantin sendiri," jawab Alga.
"Hmm, baiklah. Mas keluar dulu." Alga mencium kening istrinya terlebih dulu.
Satu jam sudah berlalu, Tari merasa bosan berada di ruangan suaminya. Akhirnya, ia keluar dari ruangan itu. Kantor terlihat sepi, karena semua karyawan sedang sibuk dengan aktivitasnya. Hanya beberapa OB yang berlalu lalang di dalam sana.
Tari menangkap sesosok wanita yang tak asing baginya. Gadis itu memakai baju yang sama seperti OB yang ada di kantor suaminya.
"Sinta," panggil Tari, dan benar saja gadis itu menoleh. Sinta sendiri adalah teman sewaktu SMP.
Tari berlari menghampiri Sinta yang sedang membersihkan pintu kaca. Melihat orang yang ia kenal, Sinta pun berusaha pergi dari sana. Ia tak ingin keberadaannya di sini dipertanyakan
"Sin, Sinta," teriak Tari.
Suara Tari terdengar oleh Alga, Alga baru saja keluar dari ruang meeting.
"Kamu panggil siapa, Tari?" tanya Alga.
"Eh, Mas." Tari membalikkan tubuhnya. "Aku tadi panggil Sinta, tapi dia malah pergi," jawab Tari.
"Sinta, siapa dia?" Alga sendiri baru tahu ada nama Sinta yang bekerja di kantornya.
"Kayanya dia OB di sini, Mas. Tapi, apa iya?" Tari sendiri tidak percaya, setahunya Sinta itu anak orang kaya. "Aku minta tolong ya, Mas? Mas cari tahu tentang Sinta," pinta Tari.
"Sinta itu siapa?" tanya Alga kemudian.
"Teman sekolah waktu SMP, Mas. Tapi, dia anak orang kaya, loh. Makanya aku gak percaya ketika melihatnya," jelas Tari.
"Ya sudah, nanti Mas coba selidiki melalui bagian kepala OB. Tapi sekarang, kita makan siang dulu ya? Mas sudah laper." Alga mengajak Tari untuk makan siang di luar.
Alga mengajak ke restaurant yang cukup terkenal di sana.
__ADS_1
"Mas, setelah makan siang nanti, kita mampir ke rumah sakit ya?" pinta Tari.
"Iya, kita ke sana setelah makan siang."
* * *
Di rumah sakit.
Alga dan Tari sudah berada di ruangan bersama ayahnya Mentari. Mendengar tentang rumah tangga anaknya semakin hari semakin membaik, apa lagi sebentar lagi Tari terlepas dari status pelajarnya, keadaan Surya sedikit membaik.
Tari melepas rindu dengan sedikit bersendau gurau bersama sang ayah. Sementara Alga hanya melihat tingkah mereka dari kejauhan, ia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Ia melihat kabar berita lewat ponsel.
Alga bersyukur, dengan bantuannya Citra kembali berkarier seperti dulu. Sesekali ia tersenyum melihat potret wanita itu. Tidak ada dendam di antara mereka.
"Semoga kamu mendapatkan jodoh yang benar-benar mencintaimu, Citra." Alga menutup ponselnya, lalu matanya teralihkan pada dua orang yang masih asyik melepas rindu.
"Yah, kapan Ayah pulang dari sini? Mas Alga akan menggelar acara pernikahan kami loh, Yah. Aku ingin Ayah sembuh dan ikut berkumpul nanti," kata Tari.
"Kamu berdoa saja semoga Ayah lekas sembuh," sahut Alga dari belakang Tari, pria itu ikut bergabung dan duduk di sebelah istrinya.
Keberadaan mereka cukup lama berada di sana, akhirnya, Tari dan Alga memutuskan untuk pulang.
"Hmm, pulang 'lah. Ini sudah sore, kamu istirahat," ujar Surya.
Tari dan Alga mencium tangan Surya terlebih dulu. Setelah itu, baru mereka pulang.
* * *
"Sayang, kita langsung pulang ya? Mas tadi ninggalin kerjaan kantor, Mas mau menyelesaikan di rumah," kata Alga.
"Iya, lagian aku juga cape, Mas. Aku mau istirahat," jawab Tari. "Maaf ya, gara-gara aku mau menemui Ayah pekerjaan Mas jadi terbengkalai."
"Gak apa-apa, lagian masih bisa dikerjakan di rumah kok."
Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, akhirnya mereka sampai di rumah. Alga dan Tari langsung masuk ke dalam, cuaca sudah mendung dan sebentar lagi sepertinya akan turun hujan.
Dan benar saja, setibanya mereka di dalam, hujan pun turun dengan derasnya. Kilat serta petir saling menyambar. Tari yang mendengar menjadi takut, ia tak ingin jauh-jauh dari suaminya.
"Mas, aku takut." Tari terus menempel di tubuh suaminya, Alga sendiri jadi sulit bergerak. Kalau begini caranya juniornya tidak bisa terkendali.
__ADS_1
"Kamu jangan takut, ada Mas di sini." Karena hujan dan petir masih terjadi, jadi Alga pun tidak bisa bekerja. Ia takut sistem eror dan malah pekerjaannya jadi berantakan, ia pun akhirnya menundanya sambil menunggu hujan reda.
Keadaan bukannya membaik, ini malah memburuk. Lampu pun ikut mati, Tari yang takut langsung berpindah tempat. Yang tadinya duduk di sofa, kini malah duduk di pangkuan suaminya. Alga semakin dibuat gerah oleh Tari.
"Tari, ada sesuatu yang terbangun," bisik Alga.
"Apa yang terbangun, Mas? Bangun dari kubur 'kah?"
Alga sedang serius, tapi Tari malah becanda.
"Itu hantu, Tari. Mas gak yakin bisa menahannya sampai kamu benar-benar lulus."
Mendengar penuturan suaminya, Tari pun akhirnya mengerti, tiba-tiba buliran keringat mulai bermunculan. Belum apa-apa Tari sudah ciut duluan. Yang ia tahu, melakukan hubungan suami istri itu menyakitkan. Mengeluarkan darah, gak bisa berjalan di pagi hari.
Banyak lagi selain itu, ia tahu dari Bunga karena gadis itu sedikit nakal karena sering menonton film orang dewasa. Belum apa-apa, Tari sudah merinding duluan.
Alga menyentuh pinggang istrinya, memutarkan tubuh itu agar saling berhadapan. Cuaca seakan mendukung, hujan deras ditambah mati lampu. Alga langsung memulai aksinya.
Tari yang takut tapi penasaran dengan rasanya, ia hanya bisa menerima sentuhan dari suaminya. Alga menyalakan cahaya lewat ponsel. Ia melihat wajah Tari yang tegang.
"Rilex, sayang. Kalau kamu belum siap, Mas tidak akan melakukannya sekarang. Tapi bantu, Mas, ya?"
Tari yang tidak mengerti harus membatu apa? Dengan polosnya ia bertanya.
"Bantu apa, Mas?"
"Bantu mengeluarkan ini." Ucapnya seraya meletakan tangan Tari di pusat bendanya.
Jantung Tari semakin berdebar tak karuan. Bayangannya sudah ngelantur ke mana-mana.
"Ba-bagaimana ca-caranya, Mas?" tanya Tari terbata.
"Kamu cukup menerima sentuhan dariku," bisik Alga. "Kamu pegang ini." Alga memberikan ponselnya pada Tari. Sementara ia, ia meraih tubuh Tari dan menggendongnya ala brdel style.
Sontak, Tari terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya, sampai tibalah mereka di kamar. Alga merebahkan tubuh Tari di atas kasur. Alga yang tak bisa mengontrol diri langsung membuka baju, dan hanya menyisakan celana pendek.
Tari menelan salivanya, itu pun terasa sangat susah. Biasanya ia hanya melihat roti sobek itu, kini ia menyentuhnya saat Alga sudah berada di atasnya. Alga mencium satu persatu disetiap inci wajahnya.
Dari mulai kening, mata, hidung, pipi, dan terakhir di bibir ranum istrinya. Tubuh Tari semakin bergetar kala suaminya menyentuh bagian tubuhnya yang lain.
__ADS_1
"Mas ..."