Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 40


__ADS_3

Keesokkan harinya.


Sesuai keinginan Tari yang ingin ikut ke kantor, Alga mengajak istrinya. Dan sekarang mereka sudah ada di kantor, tepatnya di ruangan kerja Alga.


Alga meminta secangkir kopi pada seorang OB, dan kebetulan yang mengantar minuman itu adalah Sinta. Sinta sedikit terkejut melihat keberadaan Tari, meski satu kelas mereka dulu memang tidak terlalu dekat. Karena Sinta yang terbilang cukup sombong dan tak ingin berteman dengan Mentari.


Sinta menundukkan wajahnya ketika meletakkan kopi, ia malu pada Tari. Apa lagi, kemarin sempat bertemu dengannya dan menyaksikan ia tengah ditarik paksa oleh seseorang. Tari menarik tangan Sinta ketika gadis itu hendak pergi dari ruangan, ia meminta padanya untuk bicara.


"Sinta, boleh kita bicara sebentar?" tanya Tari.


"Maaf, saya banyak kerjaan." Tolak Sinta sambil melipir pergi. Ia tidak ingin ada orang yang mencampuri hidupnya, dan ia ingat betul bagaimana ia memperlakukan Tari sewaktu SMP.


"Biarkan dia pergi, Tari," kata Alga.


"Tapi, Mas."


"Dia sedang bekerja, kamu bisa menemuinya nanti pas jam istirahat."


"Hmm, baiklah."


Jam istirahat yang ditunggu Tari akhirnya tiba, ia menemui Sinta di ruangan OB. Sinta sedang makan siang bersama teman-temannya di sana. OB yang lain mengetahui siapa Tari, tapi tidak dengan Sinta. Gadis itu tetap menikamati makan siangnya.


OB yang ada di sebelah Sinta menyenggol tangannya untuk segera berdiri karena sang bos datang. Sinta pun akhirnya berdiri dan menatap ke arah Tari.


"Duduklah, aku tidak akan mengganggu," kata Tari.


OB yang lain pun duduk kembali.


"Apa, Ibu menginginkan sesuatu? Kopi, atau teh," tawar OB yang lain.


Tari menggeleng, ia tak menginginkan itu. Ia hanya ingin mengobrol dengan Sinta.


"Kamu apa kabar?" tanya Tari basa-basi.


Sinta tidak suka Mentari dari dulu, karena Tari selalu lebih unggul darinya. Padahal, Tari hanya gadis biasa. Tapi kenapa ia selalu bisa mengalahkannya? Kepintaran dan selalu disukai banyak orang. Apa lagi sekarang, keadaan sudah berbalik.


Melihat penampilan Tari, Sinta bisa menyimpulkan bahwa kini ia bukan Tari yang dulu. Apa lagi ia melihat kebersamaannya dengan sang bos.


"Aku tahu dari dulu kita tidak pernah dekat, tapi bisa 'kah kita bersahabat," ujar Tari. Tari tidak pernah menyimpan dendam sedikit pun kepadanya, ia hanya ingin menolongnya.

__ADS_1


"Kita tidak ditakdirkan menjadi sahabat, Tari. Pergilah, aku banyak kerjaan," usir Sinta.


Mendapat usiran dari Sinta, Tari pun pergi. Kini ia kembali ke ruangan suaminya, mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Sudah bicara?" tanya Alga. Tari mengangguk dengan ekspresi wajah kusut.


"Mas sudah bilang, jangan ikut campur. Biarkan saja hidupnya mau seperti apa, sikapnya tidak bersahabat denganmu."


Tari menuruti apa kata suaminya, kini ia tak peduli lagi pada Sinta.


***


Hari-hari yang ditunggu akhirnya tiba. Alga dan Tari sudah berada di atas panggung, wajahnya berseri-seri karena mereka begitu bahagia dengan hari ini. Pesta terlihat begitu meriah.


Semua pelayan dikerahkan untuk menyambut para tamu undangan yang hadir. Termasuk Sinta, gadis itu selalu menerima pekerjaan apa pun itu. Ia menjadi pelayan diacara pesta pernikahan Mentari.


Sinta melihat sang pengantin tengah berbahagia.


"Maafkan aku, Tari. Aku selalu berbuat jahat padamu. Dan aku tidak ingin berbuat jahat lagi, aku sudah cukup mendapatkan karma," sesal Sinta.


Gadis itu memiliki sifat iri, jadi ia menolak untuk kembali dekat dengan Tari. Ia mencoba untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik, tapi sepertinya, alam sedang menghukumnya. Ia selalu disiksa oleh orang tuanya sendiri, karena ia tak menuruti apa yang inginkan oleh ayahnya. Ia terus melamun sampai ia disadarkan oleh pelayan yang lain.


Sinta pun akhirnya kembali bekerja, menawarkan minuman kepada para tamu undangan.


Mentari sendiri melihat keberadaan Sinta, ingin menyapanya tapi ia merasa enggan karena gadis itu masih belum berubah. Masih tetap sombong, pikir Tari.


"Lihat apa sih?" tanya Alga.


"Gak lihat apa-apa," jawab Tari.


Ia memilih untuk tidak melihat Sinta kembali, ia menikmati pesta yang dibuat meriah oleh suaminya. Tawa keduanya selalu terdengar, betapa bahagianya mereka. Ditambah lagi dengan kehadiran Bunga bersama pasangannya.


"Tari, aku ingin segera menyusul ke pelaminan kalau begini caranya," ucap Bunga.


"Ya menyusul saja, bukannya kamu sudah ada calonnya?" Tari mengarahkan pandangannya ke arah pria bule yang tak lain adalah kekasih Bunga, yaitu Jason.


Ketika mereka sedang bersendau gurau, Bunga terkejut melihat seorang pelayan yang tak asing lagi baginya.


"Tari, apa aku tidak salah lihat? Itu Sinta 'kan? Gadis paling sombong di sekolah kita dulu?" tanya Bunga pada Tari.

__ADS_1


"Iya, hidupnya sekarang mengkhawatirkan. Dia juga bekerja sebagai OB di kantor Mas Alga."


"Wah, kamu harus hati-hati. Bisa saja dia masih benci padamu, jangan sampai dia merusak kebahagiaanmu, Tari." Bunga memperingati sahabatnya itu, orang jahat akan tetap jahat.


"Jangan suka berprasangka buruk," sergah Tari. " Sepertinya dia sudah berubah, aku mencoba mendekatinya kemarin. Dia masih jutek, tapi dia tidak berbuat apa-apa," jelas Tari.


"Tetep aja kamu harus hati-hati," kata Bunga lagi.


Sampai Sinta menyodorkan minuman kearah Bunga dan tatapan mereka bertemu. Bunga menatapnya tajam karena dulu mereka pernah bertengkar di sekolah, karena ia membela Tari. Sampai sekarang, Bunga tak menyukai Sinta.


Sinta yang menurut Tari berubah, Bunga pun merasa menyadari itu. Gadis itu langsung pergi setelah memberikan minuman pada Bunga. Sampai gadis itu terheran, karena peubahan Sinta.


Karena acara hampir selesai, Bunga dan Jason pun pamit.


"Aku pulang dulu, ya," pamit Bunga. "Semoga pernikahanmu bahagia selalu," sambungnya lagi.


Satu persatu tamu undangan pun pamit. Yuda, Ajeng, dam Surya masih berada di pesta itu. Masih menemani Tari dan Alga. Sampai pada akhirnya, pernikahan Alga dan Tari diketahui oleh banyak orang, bahwa mereka sudah menikah.


Termasuk Citra, ia tak hadir ke pesta itu karena kariernya yang semakin melejit dan keberadaanya pun sedang berada di luar Negri.


Begitu pun dengan Chiko, pria itu memilih tidak hadir karena tak ingin menyaksikan orang yang di cintainya bersanding di pelaminan. Ia terluka, meski mencoba merelakannya tetap saja sakit di dada begitu terasa sesak.


Pesta itu benar-benar usai, Mentari dan Alga pun akhirnya pulang. Alga mengajak bermalam di hotel, tapi Tari tak ingin. Ia lebih merasa nyaman di rumah. Dan akhirnya, pasutri itu memilih pulang.


Menikmati masa-masa pengantin baru itu, walau pernikahannya terjadi sejak 2 bulan lalu. Keduanya memilih untuk istirahat, tubuh mereka seperti remuk redam. Bahkan Tari langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


"Ganti baju dulu, Tari. Setidak cuci muka," kata Alga.


Tari tak menggubris, ia malam memejamkan matanya. Melihat Tari memejamkan mata, Alga pun mulai iseng. Ia mengambil air dan membasahi wajah istrinya itu. Gadis itu marah.


"Mas ..."


"Makanya cuci muka dulu, sana." Alga berhasil membuat istrinya bangkit dan menuju kamar mandi.


Tari membalas perbuatan suaminya, ia mencipratkan air ke wajah Alga.


"Satu sama," kata Tari.


Alga langsung saja membopong tubuh istrinya, dan membalasnya kembali di atas kasur. Entah apa yang dilakukan Alga dan Tari, ranjang bergetar begitu hebatnya.

__ADS_1


__ADS_2