
Dengan senyum yang mengembang, Tari berlari kecil memasuki area sekolah. Alga yang melihat hanya geleng-geleng kepala. Lalu, ia pun kembali melajukan mobilnya menuju kantor.
Tari terus tersenyum sambil menerawang uang seratus ribu yang diberikan oleh suaminya. Ia senang karena selama ini ia tak pernah diberikan uang lebih dari tiga puluh ribu dari sang ayah. Kini setelah menikah, uang jajannya bertambah tiga kali lipat.
"Weehhh ... Punya uang banyak tuh, traktir dong." Kata Bunga yang datang tiba-tiba dari arah belakang, lalu mensejajari langkahnya dengan Tari.
Tari hanya memberikan senyumnya, lalu dengan cepat ia menyimpan uangnya ke dalam saku.
"Ya ... Kok dimasukin sih." Bunga kecewa karena ia merasa Tari tidak ingin membagi uangnya.
"Takut ketiup angin, lagian kamu ijo banget liat duit."
"Aku lagi gak bawa duit nih, Papa menghukumku karena kemarin ketahuan jalan sama Arka."
"Makanya sama orang tua tuh nurut."
"Tapi nanti siang traktir ya?" Bunga meminta dengan wajah memelas.
"Biasa aja, gak usah dijelekin. Tambah jelek!"
"Aku serius, Tari."
"Iya, tenang saja. Mulai hari ini uang jajanku naik 3 kali lipat." Ucap Tari sembari menunjukkan tiga jarinya ke arah Bunga.
"Kok, bisa? Apa Ayahmu sudah sembuh?"
Tari menggelengkan kepalanya.
"Lalu? Uang dari mana?"
"Omsu." Tari langsung membekap mulutnya rapat-rapat, ia keceplosan. Semoga saja Bunga tidak kepo, tapi ia tahu sahabatnya yang bisanya mengorek informasi.
"Siapa, Omsu?" Benar saja, Bunga langsung mengintrogasi Tari, gadis itu pantang mundur sebelum ia mendapatkan apa yang diinginkannya.
Kemana pun Tari selalu diikuti oleh Bunga, sampai ia merasa risih. Akhirnya ia pasrah.
Tari menarik tangan sahabatnya itu ke tempat yang lebih sepi, merasa tempat itu sudah aman, ia memberitahukan pernikahannya pada Bunga lewat bisikan.
"Apa? Kok bisa?" Saking terkejutnya, asma si Bunga langsung kambuh.
"Duh ribet kalau punya temen penyakitan." Tari mengambil obat yang ada di dalam tas sahabatnya itu. "Ini, cepat hirup!"
"Ah ... Lega," ujar Bunga. Ia menetralkan napasnya sejenak, lalu kembali mengintrogasi sahabatnya. Karena menurutnya infonya belum lengkap.
"Janji, jangan bilang siapa-siapa." Tari mengulurkan jari kelingkingnya.
__ADS_1
"Janji." Sahut Bunga sembari menautkan jarinya di jari Tari. Setelah Tari memberitahukan kronologi pernikahannya dengan Alga, hampir saja asmanya kembali kambuh, untung Tari dengan gesit menyodorkan obat hisap asma milik sahabatnya ke arah mulutnya.
"Udah ah, jangan bahas masalah ini. Bukan cuma asma-mu yang kambuh, bisa-bisa nanti kamu malah jantungan. Intinya aku dan Om tua itu sudah sah."
"Tari tunggu," kata Bunga, saat sahabatnya itu pergi meninggalkannya.
* * *
"Lalu, apa kalian sudah ..."
"Ssuutthh." Tari meletakkan jari telunjuknya di bibir, meminta sahabatnya itu diam. Mereka tengah belajar di dalam kelas, bisa gawat kalau sampai ketahuan wali kelasnya. Apa lagi sekarang tengah pembelajaran ibu Tia yang terkenal garang.
"Ok, anak-anak. Yang sudah menyelesaikan tugas hari ini lebih dulu, maka sudah boleh pulang," ujar bu Tia.
Sontak, murid-murid begitu antusias karena bisa pulang lebih awal dari biasanya. Mentari yang cerdas, ia lebih dulu menyelesaikan tugasnya. Sementara yang masih kepo akan rumah tangga Tari tidak bisa mengintrogasinya karena sahabatnya sudah keluar dari kelas.
Setelah keluar dari dalam kelas, Tari bingung. Menunggu suaminya menjemput tentu masih lama, akhirnya ia putuskan untuk pergi ke tempat yang biasa ia temui dengan Chiko. Duduk sendiri di taman sambil melihat orang-orang berlalu lalang di sana.
Hingga keberadaannya dikejutkan oleh seseorang.
"Mas Chiko." Tebak Tari saat ada orang yang menutup matanya dari arah belakang.
"Kok tahu sih." Chiko melepas tangannya, lalu duduk di samping Tari. "Kamu bolos?" tanyanya kemudian.
"Gak, enak aja bilang aku bolos."
"Mas Chiko tahu aku 'kan? Di kelas, siapa yang dulu bisa menyelesaikan tugas dengan cepat maka bisa pulang lebih awal," jelas Tari.
Chiko hanya manggut-manggut, karena ia sudah tahu kecerdasan gadis itu.
"Mas sendiri ngapain di sini? Gak kerja?"
"Lagi BT, makanya kesini."
"BT kenapa? Lagi ribut sama Mbak Atika?" Atika sendiri adalah pacar Chiko, mereka dijodohkan oleh kedua orang tuanya, perjodohan tanpa cinta selalu membuat mereka tidak akur.
"Semangat dong, Mas."
"Mana bisa semangat, Tari. Aku tidak mencintainya, aku mencintaimu," batin Chiko. Andai Tari bukan anak sekolah, tentu ia akan memperkenalkannya pada orang tuanya. Yang bisa Chiko lakukan sekarang menunggu Tari lulus sambil mengulur pertunangannya dengan Atika.
Lama mereka berada di sana, sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua siang.
"Mas, sudah waktunya aku pulang. Aku pulang dulu ya?"
"Aku antar."
__ADS_1
"Tidak usah, Mas Alga menjemputku." Ujar Tari sembari beranjak dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Chiko yang masih terdiam.
"Alga? Apa pria kemarin?" Chiko mulai bertanya pada dirinya sendiri. Siapa pria yang menjemput Tari?
* * *
Tari sudah kembali ke sekolah, ia melihat mobil yang sudah tidak asing lagi baginya. Pemilik mobil itu keluar, ia merasa heran karena melihat Tari berjalan yang arahnya bukan dari gerbang sekolah.
"Kamu bolos ya?" tanya Alga.
"Kenapa sih bilang aku bolos? Sudah dua orang loh yang bertanya itu padaku." Tanpa mendengar jawaban dari suaminya, Tari lebih dulu masuk ke dalam mobil disusul oleh Alga.
"Siapa selain aku yang bertanya kamu bolos?"
"Mas Chiko," jawab Tari jujur.
"Chiko?"
"Iya, pria yang kemarin bersamaku," jelas Tari.
"Bener kamu bolos terus malah ketemuan sama pria itu?"
"Ish ... Siapa yang bolos? Aku sekolah, tadi emang pulang lebih dulu, terus ke taman. Gak sengaja ketemu Mas Chiko di sana?"
Apa Alga harus percaya dengan penjelasan Tari? Kalau pun berbohong, apa ruginya untuk Alga? Bukankah ia sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing?
"Kenapa diam? Ayok pulang," ajak Tari.
Tanpa menunggu lama, Alga menjalankan mobilnya. Ia mengantar pulang Tari ke rumah. Sesampainya di rumah, Tari langsung pergi ke dapur, ia sudah sangat merasa lapar.
"Tari, kamu sudah pulang?" tanya Ajeng.
"Sudah, Ma. Maaf ya, Ma. Aku langsung makan, soalnya laper banget." Tari langsung saja mengambil nasi dan meletakkannya di piring, ia mulai menikmati makannya.
Alga yang baru saja tiba langsung dicecar oleh mamanya.
"Kamu gak ajak dia makan tadi, hah? Lihat! Istrimu kelaparan, Alga. Tega kamu ya!"
"Mana aku tahu dia kelaparan, memangnya aku cacing yang ada dalam perutnya?" Setelah mengatakan itu, Alga menyusul Tari. Ikut duduk di sebrang gadis itu.
"Kenapa gak bilang kalau kamu laper, tadikan bisa mampir di tempat makan dulu," kata Alga.
"Makan di luar gak enak, masakan Ibu mertua lebih nikmat." Bisa saja gadis itu menjawab, ia hanya tidak ingin kenikamatannya terganggu. Apa lagi debat dengan suaminya.
"Gak balik ke kantor?" tanya Tari disela-sela kunyahannya.
__ADS_1
Alga menggelengkan kepala.
"Aku gerah, aku mandi dulu," pamit Alga pada Tari.