
"Su-sudah selesai," ujar Tari setelah selesai mengamcingkan semua baju kemejanya, sedikit terbata dengan ucapannya. Gadis itu merasa jantungnya hampir copot ketika Alga hampir saja menciumnya.
Meski Tari belum pernah pacaran apa lagi berciuman, dengan gerakkan Alga yang seperti tadi, tentu ia tahu apa maksud suaminya.
Alga menjadi salah tingkat, tak disangka bahwa istrinya menolaknya dengan cara mengalihkan dengan pakaiannya yang sudah rapi. Tari memposisikan tubuhnya. Ia melihat lurus ke depan, padahal hatinya sudah tidak karuan.
"Ayok, Omsu. Nanti ke buru sore," kata Tari.
Alga kembali melajukan mobilnya. Entah kenapa hatinya menjadi deg-degan, ia hanya bisa memfokus matanya pada pandangannya yang lurus ke depan. Lain dengan hatinya yang berkelana entah kemana.
Perjalanan itu begitu terasa lama bagi Tari, ia terus kepikiran akan sikap suaminya yang tak mudah ia tebak. Terkadang, pria itu hangat. Kadang juga menyebalkan, apa lagi ditambah adanya wanita lain di hati suaminya.
Tari jadi pusing sendiri, apa mungkin suaminya itu memiliki perasaan padanya walau hanya secuil?
Setengah jam kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit. Tari dan Alga berjalan beriringan. Rasa canggung, sepertinya masih melanda pada diri mereka.
Tibalah mereka di ruang rawat ayahnya Mentari. Tak disangka, mereka akan bertemu Ajeng di sana.
"Mama, Mama kok ada di sini?" tanya Alga setibanya di ruangan itu.
Mentari mencium punggung tangan mertuanya, lalu berganti pada sang Ayah.
"Mama ke sini dua hari sekali," jawab Ajeng.
"Terimakasih ya, Ma. Mama sudah membantu menjaga Ayah," ujar Tari.
"Itu tak seberapa dengan pengorbanan Ayahmu, Tari. Beliau sangat berjasa. Dan untukmu, Alga. Jagalah Tari, sayangi dia," kata Ajeng.
"Tari," lirih Surya.
"Iya, Yah. Apa Ayah butuh sesuatu?" tanya Tari.
"Sinilah, nak." Tari pun mendekat mengusap lembut wajah sang ayah. Tari merasa sangat sedih, ia melihat wajah itu semakin tirus.
"Jika kelak Ayah tidak ada, hidup rukun bersama suamimu ya?" pinta Surya pada anaknya. "Dan untukmu, Alga. Ayah sangat berharap kamu menjaga Tari. Ayah sudah tidak bisa lagi menjaga putri Ayah," pesannya pada Alga.
"Ayah tenang saja, aku pasti menjaga istriku dengan baik. Aku akan menjadikannya wanita paling bahagia di dunia ini." Alga memberikan janji itu pada istrinya, kelak ia akan membahagiankannya meski ia belum tahu kapan waktunya itu tiba. Ia juga harus memikirkan perasaan wanita lain, yaitu Citra. Bagaimana pun wanita itu sudah menemani hidupnya selama empat tahun.
Tidak semudah membalikkan telapak tangan, ia berjanji akan melepasnya, dan itu butuh waktu. Wanita mana pun akan merasa sakit jika ditinggal oleh pasangannya, apa lagi ditinggal kawin. Alga bukanlah laki-laki yang suka mengobral cintanya. Ia sendiri pun tidak tahu akan berjodoh dengan gadis yang masih belia.
__ADS_1
"Kapan kamu lulus, Tari? Apa sudah ujian?" tanya Surya.
"Sebentar lagi, ini sekarang lagi ujian, Yah. Sebentar lagi Tari akan lulus," jawab Tari.
"Cepatlah berikan Ayah cucu, Ayah menunggu kehadirannya sebelum Ayah pergi."
"Ayah ... Ayah harus semangat, Tari yakin Ayah pasti akan sembuh. Sembuhlah kalau Ayah mau melihat cucu Ayah nanti."
Perasaan Tari campur aduk. Ayahnya memintanya secepatnya meberikan cucu. Cucu dari mana? Melakukannya pun belum pernah, pikir Tari. Tapi sebisa mungkin ia memberikan semangat untuk kesembuhan ayahnya itu. Meski ia harus membohongi semua orang dengan pernikahannya yang hanya penuh kepalsuan.
Tari dan Alga saling lempar pandang. Alga pun jadi bingung sendiri dengan permintaan ayah mertuanya yang baginya itu mustahil. Belum tentu Tari mau disentuh olehnya, pikir Alga.
* * *
Tari dan Alga pulang dari rumah sakit, Ajeng pun ikut. Ia ingin melihat rumah yang di tempati oleh anak dan menantunya. Tentu Tari senang dengan hal itu.
Lain dengan Alga, ia malah kepikiran akan kamar yang ia tempati di sana. Mereka tidur secara terpisah, kalau mamanya tahu, tentu itu akan menjadi bumerang untuknya sendiri.
Alga, Tari, dan Ajeng sampai di rumah. Ajeng melihat-lihat rumah itu, rumah yang cukup bagus. Cocok untuk tinggal berdua. Ia pun masuk ke dalam setelah Alga membuka pintu. Sebelum Tari masuk ke dalam, Alga langsung menarik tangan Tari.
"Ada apa?" tanya Tari.
"Kalau Mama tanya tentang kamar kita, bilang kalau kita menempati kamar keduanya, beres 'kan? Gitu aja repot, siapa suruh pindah rumah?" Tari pun jadi sewot sendiri.
Tahu kedua anak dan menantunya tidak ada di dalam rumah, Ajeng kembali keluar. Ia melihat mereka sedang mengobrol dan nampak serius.
"Kalian ngapain masih di luar?" Ajeng sedikit curiga, jangan-jangan ada yang mereka sembunyikan darinya. "Ayok masuk, Mama haus nih, Tari."
"Ah iya, Ma." Tari pun masuk ke dalam. "Mama duduk saja dulu di sini, aku buatkan minum."
Selagi Tari membuatkan minum, Alga pergi munuju kamarnya. Ia berniat merapihkan tempat itu agar terlihat kosong tanpa dihuni.
"Ma, aku ke atas dulu sebentar," pamit Alga.
"Hmm." Hanya itu yang dijawab Ajeng.
Ajeng mulai memindai isi rumah itu, terlihat sangat rapi dan bersih. "Tari pintar mengurus rumah," batin Ajeng.
Tap tap tap ...
__ADS_1
Langkah Tari terdengar dari arah dapur, gadis itu membawa nampan serta minuman, meletakkannya di atas meja.
"Diminum, Ma. Selagi hangat," ujar Tari mempersilahkan kepada ibu mertuanya.
Ajeng kembali duduk di sofa.
"Ma, aku permisi dulu sebentar ya, mau mandi. Gerah banget," pamit Tari.
"Iya," jawab Ajeng.
Melihat Tari pergi ke arah yang berbeda, kecurigaannya semakin menjadi. Bener-bener ada yang tidak beres di sini, pikirnya. Tak lama kemudian, Alga kembali dari lantai atas dan ikut duduk bersama mamanya di sofa.
"Kamu habis ngapain? Kok keringatan gitu?" tanya Ajeng pada Alga.
"Mmm ... Itu, Ma. Habis-." Habis apa? Pikiran Alga jadi buntu seketika. Ia tak bisa berbohong pada ibunya.
"Habis apa?" Ajeng tahu betul akan sikap mamanya. "Kalian menyembunyikan sesuatu dari Mama?"
"Ti-tidak, Ma. Tidak ada yang aku sembunyikan."
Percakapan mereka terhenti kala Tari keluar dari kamarnya, gadis itu nampak segar, rambutnya masih menyisakan basah. Ia pun duduk di sebelah suaminya.
"Mas, sebaiknya kamu mandi," ujar Tari.
Kedatangan Tari menyelamatkannya dari sang mama, Alga pun bergegas ke kamar yang di tempati Tari.
"Sebentar ya, Ma," ujar Tari pada ibu mertuanya. Lalu ia menyusul suaminya yang masuk ke dalam kamarnya.
"Omsu ngapain ke kamarku?" tanya Tari dengan polosnya.
Alga menepuk jidat sambil geleng-geleng kepala, kenapa istri kecilnya itu begitu polos?
Alga menangkup kedua pipi Tari, ingin rasanya ia membungkam mulutnya itu dengan bibirnya.
"Ih ... Apaan sih!" gerutu Tari yang tak merasa nyaman dengan sikap suaminya.
Tapi Alga begitu kekeh sampai ia tak melepaskan tangkupan itu. Dalam posisi mereka yang seperti itu membuat siapa saja merasa gemas sendiri. Begitu pun dengan Ajeng yang melihat tingkah mereka.
"Ya kalau mau mesra-mesraan ditutup dulu toh kamarnya," ujar Ajeng. Lalu ibu paruh baya itu pun pergi karena tak ingin mengganggu mereka.
__ADS_1
"Iiihh ... Jadi salah paham 'kan," kata Tari.