Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 36


__ADS_3

Ketika Alga sedang bekerja, Tari menemaninya. Ia duduk di sofa, sambil memainkan ponselnya. Ia sedang berkomunikasi lewat chat dengan Bunga sahabatnya.


Tari sedikit bergidik ketika melihat vidio yang dikirimkan dari sahabatnya itu. "Benar-benar si Bunga, dasar gadis nakal." Ucapnya sendiri tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


"Kamu sedang apa sih? Anteng bener," ujar Alga yang masih bekerja.


"Lagi chatan sama si Bunga, Mas," jawab Tari. Tidak ingin suaminya tahu, ia langsung menutup ponselnya. Ngeri-ngeri sedep ketika ia melihat vidio itu, membayangkannya saja ia sudah bergidik. Apa lagi nanti malam?


"Mas, aku siapkan makan malam saja kalau begitu." Tari beranjak dari tempatnya dan meletakkan ponselnya di atas meja.


Sedangkan suaminya masih fokus pada layar laptopnya. Beberapa menit setelah kepergian Tari, Alga memegang dagu sambil berpikir. "Chattan seperti apa sampai Tari serius tadi?" Alga yang penasaran pun beranjak dari tempatnya, lalu mangambil ponsel milik istrinya.


Dilihatnya ada chat masuk dari Bunga dan mengirimkan sebuah vidio lagi.


Alga terkejut ketika melihat isi vidio itu, sahabat Tari memang sedikit aneh, ia begitu agresif ketika melihat laki-laki tampan. Tidak heran bagi Alga jika Bunga seperti ini. "Dasar nakal," ucap Alga.


Ia kembali meletakkan ponsel itu, karena memang tidak ada isi yang membuat ia curiga, bahkan chat dari Chiko pun masih ada. Alga sampai lupa waktu jika ia sudah bergelut dengan pekerjaan.


Tari yang selesai memasak kembali menemui suaminya, ia mendekat dan berkata.


"Ini sudah malam loh, Mas. Mau sampai kapan kerja terus? Kita makan dulu, yuk?" ajak Tari.


Alga menutup laptop, lalu menatap wajah istrinya. Hanya satu kata yang ia ucapkan.


"Cantik."


Wajah Tari langsung memerah karena malu, ia pun mengusap wajah suaminya.


"Kamu juga tampan, padahal kamu sudah berumur loh." Tari malah meledeknya seolah mengusir rasa canggung karena dapat pujian dari suaminya.


"Aku sudah laper, Mas."


"Mas mau mandi dulu ya? Sebentar aja, kok. Kamu bisa menunggu, kalau laper makan saja duluan."


Tari dan suaminya keluar dari ruangan itu.


* * *


"Mas, ayok?" Tari memepersilahkan suaminya duduk di kursi meja makan.


"Katanya laper, kok belum makan?" tanya Alga.


"Aku nungguin kamu, Mas," jawab Tari.

__ADS_1


Mereka berdua makan malam, sampai waktu itu selesai, Tari membereskan semuanya.


"Sayang, Mas ke ruang kerja dulu sebentar. Mau ambil handphone," pamit Alga.


"Sekalian ambil punyaku, Mas," sahut Tari yang sedang mencuci piring.


Setelah pekerjaannya selesai, Tari ke kamar lebih dulu. Ia mengambil baju keramatnya, ia layangkan baju itu ke udara.


"Bajunya tipis banget sih," ucapnya sendiri. Ada niat untuk mengurungkannya, tapi ia sudah berjanji pada suaminya akan memberikan layanan servis seusai menstruasinya. Ia menuju kamar mandi dan memakai baju itu di sana.


Melihat bayangannya di cermin.


"Ya ampun, ini baju atau apa." Tari memutarkan tubuhnya. "Masa begini sih." Tari mencari cara bagaimana caranya agar keluar dari kamar tidak terlalu mencolok, takut suaminya sudah berada di sana.


Hingga ia memiliki ide, ia melapisi baju itu dengan jubah handuk. Keluar dari kamar mandi secara mengendap-ngendap.


"Syukur, belum ada." Tari mengusap dada merasa lega. Ia pun berjalan dan langsung naik ke atas kasur dan membuka jubah handuk itu, lalu membungkus tubuhnya dengan selimut.


Sudah seperti kepongpong, ia begelung dengan selimut itu. Tak lama dari situ, suaminya datang. Pria itu merasa heran dengan istrinya, mengapa gadis itu sudah bersembunyi di balik selimut?


"Kamu kenapa? Sakit?" Alga langsung mendekat dan menyentuh kening istrinya dengan punggung tangannya. "Tidak panas, tapi kenapa kamu keringetan begitu?"


Semakin Alga mendekat, Tari semakin keringatan. Bahkan tubuhnya bergetar, ia sungguh takut, nyalinya jadi ciut.


Tapi Tari menahannya. "Jangan dibuka," cegah Tari.


Alga tidak lagi mempermasalahkan itu, ia pun merebahkan tubuhnya di samping Tari. Mereka saling berhadapan dan kedua matanya saling beradu. Tari sudah mulai bisa menguasai tubuhnya, ia tak lagi mengeluarkan keringat.


Tari melebarkan selimut dan langsung menutupkannya pada suaminya. Alga langsung merespon, ia memeluk tubuh istrinya.


Ada yang aneh ketika ia menyentuhnya.


"Jangan protes," ucap Tari ketika mendapat tatapan dari suaminya.


"Apa ..." Tari langsung membungkam mulut suaminya dengan bibirnya, ia lebih malu kalau suaminya membahas baju keramatnya.


Tentu Alga senang dengan perlakuan Tari yang cara spontan. Ia mendapat kejutan dari sang istri. Lagi-lagi ia tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia melu*at habis bibir itu tanpa ampun, sampai Tari sendiri kewalahan dibuatnya.


Mereka melepaskan pertautan itu.


"Apa aku bisa mendapatkannya malam ini?" tanya Alga.


"Tentu, kamu boleh memiliki lautan ini, Mas. Gunung dan lautan madu ini milikmu," bisik Tari.

__ADS_1


"Boleh aku meminta sesuatu?" kata Tari.


"Apa?"


"Matikan lampu."


Alga langsung mematikan lampu. Ia menarik selimut itu dari tubuh istrinya. Dengan cahaya remang-remang, ia bisa melihat tubuh istrinya yang sungguh menggairahkan baginya.


Tari merasa tidak lagi malu, karena ia kira suaminya tak begitu memperhatikan tubuhnya. Hingga keduanya saling berpelukkan mencari kehangatan.


Alga mengecup kening sampai merambat ke yang lain, hingga ia menghentikan bibirnya di benda kenyal itu. Tari mel*nguh ketika mendapatkan sentuhan itu dari suaminya.


Ia mengigit bibirnya sendiri ketika tubuh suaminya mulai beraksi. Ia menjambak rambut suaminya menahan sesuatu di bawah sana. Alga begitu anteng dengan kedua gunungnya.


Ketika ia sudah mendaki gunung, kini ia sudah tak tahan ingin menyebrangi lautan. Tanpa sadar ia sudah melepas semua pakaiannya.


"Aku siap menyebranginya, Tari," ucap Alga.


"Sebrangilah, gunung salju lautan madu sudah menjadi milikmu, Mas." Tari pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya.


"Mendaki dan sebrangi sesukamu setiap waktu." Tari memejamkan kedua matanya.


Mendapat lampu hijau, Alga langsung menerobosnya. Sedikit ada kendala karena ada polisi yang menjaga, benteng itu terlalu kokoh ketika ia ingin menerjangnya.


Tari sudah tidak lagi bisa berbuat apa-apa, ia hanya mencengkramkan tangannya di sprai. Mere*mas sprai itu kuat-kuat.


"Mas ...," rintih Tari menahan sakit.


Alga terus berusaha, hingga hampir satu jam ia baru bisa menjebol gawangnya. Darah segar itu mengalir, menandakan bahwa ia laki-laki pertama yang melakukannya.


"Terimakasih sudah menjaganya," bisik Alga.


Permainan baru akan dimulai, Alga mulai menggesekkan sesutu di bawah sana. Dari rintihan sampai lenguhan yang didengarnya, ia langsung bersemangat ketika Tari mengeluarkan de*ahannya.


"Mas."


Alga mempercepat laju, Tari yang awal kesakitan berubah menjadi kenikmatan. Malam yang penuh hangat ini menjadi momen yang tak akan pernah terlupakan.


Keduanya memburu napas, entah apa yang mereka rasakan hingga kedua napasnya tersengal. Kenikmatan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.


"I love you," bisik Alga. Ia menjatuhkan tubuhnya tepat di tubuh istrinya sampai di bawah sana masih belum terlepas.


"I love you to," balas Tari.

__ADS_1


Dan mereka berdua terlelap karena lelah, terlelap karena kenikmatan surga dunia.


__ADS_2