Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 8


__ADS_3

Waktu terus berputar, sampai jam menunjukkan pukul enam pagi. Dua insan tengah bergelung di balik selimut, entah kenapa Mentari yang biasa sudah terbangun jam lima, kini ia masih terlelap dengan tidurnya.


Seakan merasa nyaman dengan tidurnya kali ini, begitu hangat.


Sementara Ajeng dan Yuda baru selesai mandi. Biasanya mereka dibangunkan oleh Mentari, namun kali ini tidak.


"Ma, tumben tidak ada yang mengetuk pintu kita pagi ini," kata Yuda. "Apa Tari kesiangan," sambungnya lagi.


"Inikan hari libur, Pa. Wajar saja dia tidak membangunkan kita," jawab Ajeng dengan santai.


"Ya sudah, Papa coba menemuinya." Seusai memakai baju, Yuda segera keluar dari kamarnya hendak ke kamar Tari.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Tari, apa kamu sudah bangun?" kata Yuda tepat di depan pintu kamar gadis itu.


Yuda memutar gagang pintu.


"Tidak dikunci." Yuda pun masuk begitu saja, setibanya di sana betapa terkejutnya ia melihat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat pagi ini.


"Alga!" teriak Yuda.


Alga bukannya terbangun, ia malah menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia masih merasa ngantuk dan tidak ingin diganggu.


"Alga, Tari! Apa-apaan kalian ini!" Yuda kembali berteriak.


Sontak, Tari yang mendengar langsung membuka mata. Ia begitu terkejut ketika pandangannya melihat tubuh seseorang di depannya, karena posisi Tari berada dibalik dada bidang Alga. Gadis itu seketika terbangun, merasa shock ia sedikit terdiam dengan mulut menganga lalu menutupnya dengan kedua tangan.


"Kenapa kalian bisa tidur bersama?" tanya Yuda lagi.


Tidur bersama? Alga yang mendengar itu ikut terbangun dan langsung mendudukkan diri di samping Mentari. Mereka berdua kena omel dari Yuda pagi ini.


"Kalian benar-benar buat malu keluarga. Sudah dua kali Papa melihatmu tidur bersama Tari, apa mungkin kalian memang sering tidur berdua, hah!" Betapa murkanya Yuda hari ini.

__ADS_1


"Tidak, Om. Aku gak tahu Om Alga tidur di sini," elak Tari.


"Iya, Pa. Aku lupa kalau kamar ini sudah di tempati Tari," sahut Alga.


Di sini, Yuda mencium bau alkohol. Dan itu sangat menyengat pada diri Alga.


"Kamu mabuk?" Yuda mengendus ke arah wajah Alga. "Mabuk, tidur berdua. Apa kalian yakin tidak terjadi apa-apa di antara kalian, hah!"


"Aku yakin, Om. Tidak terjadi apa-apa dengan Om ini," ujar Tari membela diri.


"Lihat, kancing bajumu saja terlepas, Tari."


Tari langsung melihat ke arah kancing bajunya, dan benar saja ada dua kancing yang terlepas.


"Papa tidak bisa membiarkan ini, Alga. Papa mau kalian menikah hari ini juga!"


"Apa? Menikah?" kata Alga dan Tari bersamaan, mereka menatap ke arah satu sama lain.


"Om akan membicarakan ini dengan Ayahmu, Tari." Setelah mengatakan itu, Yuda keluar dari kamar.


Bugh


Alga menutup pintu keras-keras, sampai Mentari terkejut dibuatnya. Bukan cuma Alga yang hatinya kacau, Mentari lebih kacau karena sudah gagal menjadi kebanggaan sang ayah jika ia menikah diusia dini.


"Kenapa jadi begini sih? Ini semua gara-gara Om tua itu!" geram Tari. Harus jawab apa jika ia ditanya oleh ayahnya nanti. Alasan apa? Mengapa ia menikah dengan Alga begitu cepat? Cinta? Perasaan saja ia tidak punya pada laki-laki itu.


"Aahhh ..." Tari mengacak rambutnya sendiri, bingung menghadapi ayahnya nanti. Ayahnya pasti marah besar, bagaimana kalau penyakitnya tambah parah? Apa lagi kalau sampai tahu, ia menikah karena terciduk dua kali tidur bersama dengan seorang pria. Mentari semakin gelisah akan kesehatan ayahnya.


Bagaimana kalau nanti malah tambah parah? Mungkin Tari akan menjadi anak yang paling berdosa di muka bumi ini. Pusing memikirkan itu semua, ia beranjak dari tempat tidur bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Di dalam kamar mandi, ia bercermin melihat pantulannya di kaca. Melihat area leher dan tubuhnya yang lain, takut ada bekas mencurigakan di sana. Tapi ia tak melihat apa pun di area itu, Mentari berpikir positif, tidak terjadi apa-apa antara ia dengan Alga, yakin Tari.


Seusai membersihkan diri, Tari menemui Yuda. Ia tidak ingin menikah muda apa lagi dengan orang yang tidak ia cintai sama sekali.

__ADS_1


"Om ... Aku sama Om tua, eh maksudku Om Alga, aku tidak melakukan apa-apa dengannya. Om bisa percaya padaku," kata Tari meyakinkan Yuda.


"Om tidak yakin seratus persen, Tari. Apa lagi keadaan Alga yang sedang mabuk. Apa pun yang terjadi kalian akan menikah, cinta atau tidak cinta. Kalian tetap akan menikah!" Ucapan Yuda sudah tidak bisa diganggu gugat.


Disaat pembicaraan itu berlangsung, Alga mendengar semuanya. Ia hanya bisa menghela napas tanpa bisa membantah. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah Citra, bagaimana nasib gadis itu jika ia menikah dengan Tari?


Meski Citra sudah memutuskan hubungan mereka, tapi itu tidak sah bagi Alga. Karena Citra memutuskan dengan cara sepihak, lagi pula ia mengatakan itu dalam keadaan kalut. Alga yakin kalau Citra tidak serius dengan ucapannya.


"Sebaiknya kamu siap-siap, kita ke rumah sakit sekarang juga. Om mau menemui Alga." Kebetulan, pas Yuda keluar, ia melihat Alga tengah bersandar di dinding.


"Alga, kamu siap-siap, kita ke rumah sakit menemui Surya sekalian meminta restu darinya."


Alga menelan ludahnya sendiri, ia harus menerima kenyataan bahwa ia akan menikah dengan bocah ingusan. Terlebih lagi, gadis itu bukan tife-nya. Menurutnya, Mentari terlalu kecil jika bersanding dengannya.


"Mama setuju-setuju saja kalau kamu dan Tari menikah, Tari gadis yang baik, Alga." Kali ini Ajeng ikut berbicara, ia mengetahui semuanya dari suaminya sendiri. Mungkin, kalau ia yang memperegoki mereka, akan lain ceritanya.


"Papa dan Mama menunggu kalian di mobil." Ucap Ajeng sembari menepuk pundak Alga.


Sementara Mentari, gadis itu masih terdiam di kamar Yuda. Alga pun akhirnya menemui Tari.


"Ini semua gara-gara kamu!" tuduh Alga.


"Kenapa menyalahkanku, siapa yang menemuiku tidur?"


"Kalau kamu tidak menjatuhkan lipstikmu di mobilku, Citra tidak mungkin marah dan mutusin aku."


"Lalu, kenapa mabuk? Jandi cowok gak gantel banget sih. Ya ada masalah dihadepin, bukan mencari pelampiasan. Seperti sekarang, nasi sudah jadi bubur. Kalau Om bisa, harusnya Om bantah pernikahan ini." Setelah mengucapkan kekesalannya pada Alga, Mentari keluar menyusul Yuda dan istrinya yang menunggu di mobil.


"Alga-nya mana, Tari?" tanya Yuda.


Belum Tari menjawab, Alga sudah lebih dulu muncul dan menemui kedua orang tuanya.


"Ayok masuk, penghulu sudah menunggu kita di rumah sakit.

__ADS_1


"Haaahhh ..." Tari dan Alga tidak percaya.


Namun demikian, mereka tetap masuk ke dalam mobil untuk menemui ayah Mentari di rumah sakit.


__ADS_2