
Namaku Arif. Aku tinggal di kota kembang dari umurku 10 tahun, dan ibuku menjadi TKW di luar negri.
Sementara ayah masih mencari pekerjaan sekitar pulau sumatra saja.
Aku tak tau pasti mengapa ayah mencari kerja di luar kota dan mengapa tidak di Bandung saja.
Aku masih bersekolah di salah satu sekolah dasar yang berada di daerah Soreang kabupaten Bandung.
Usiaku saat ini menginjak 12 tahun. Ya, sudah dua tahun aku di Bandung.
Pagi itu aku menuju sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku tinggal bersama ayah dan pembantuku. Setelah semuanya siap, aku lalu naik keatas motor ayah yang sudah siap di depan gerbang rumah.
"Sudah siap?"
Tanya ayah yang mengetahui ku masih membenarkan helm dan tas yang ku gunakan.
"Sudah yah."
Jawabku singkat. Aku lalu mengajak ayahku segera menancapkan gas karena jam sudah menunjukan pukul 7:00 pagi.
Tak terasa, aku sudah berada di depan gerbang sekolah.
"Udah yah. Nanti ayah jemput jam berapa?"
Tanya ayahku setelah menurunkanku.
"Jam 1an aja yah."
Jawabku sambil mencium punggung tangan ayah.
"Oke, nanti ayah jemput ya."
Kata ayah sambil memutar balikan motornya.
"Iya."
Jawabku yang juga melangkahkan kaki ke arah kelas. Di kelas sudah banyak teman-temanku yang menunggu guru bahasa Indonesia masuk.
__ADS_1
"Assalamualaikuum."
Salamku di depan mereka semua.
"Waalaikumsalaam."
Jawab mereka serempak. Aku menuju bangku yang paling tengah dari depan. Di kelas ini ada 28 bangku yang berjejer sebelah kanan 14 kiri 14. Aku duduk dibangku yang nomor 7 di sebelah kiri dari pintu masuk.
Tak lama kemudian, Pak Dadang pun masuk.
"Pagi semuaa."
Sapanya.
"Pagi paaak."
Sahut kami serempak.
Pelajaran pun dimulai. Aku bisa mengikuti pelajaran di hari ini dengan baik.
Sampai tak terasa jam sudah menunjukan 09:30 yang artinya waktu istirahat sudah tiba. Anak anak berhamburan menuju kantin kecuali aku, Fida, Ari dan Nanang.
Sesampainya di taman, aku dan teman temanku mengeluarkan bekal masing masing.
"Eh fid, kamu bekal apa hari ini? Kok kamu cuma diam saja?"
Tanya Nanang yang melihat Fida hanya melamun menatap ujung batang pohon yang berada di depan taman ini.
"Nggak nang, aku nggak ada bekal. Ibuku tidak masak hari ini karena sedang menjenguk kakakku yang diluar kota."
Jawabnya dengan tatapan kosong.
"Owh, Ini, aku ada sedikit roti untukmu. Lumayanlah, ganjel ganjel dulu."
Tawar Nanang.
"Iya, terimakasih."
__ADS_1
Jawab Fida sambil mengambil roti yang di pegang di tangan kanan Nanang.
"Rif, kayaknya si Fida lagi galau ya."
Tanya Ari setengah berbisik.
"Iya, tuh mukanya murung banget."
"Iya rif, kenapa ya kira kira?"
"Ya nggak tau lah ri, lu nanyain ke aku memang aku ibunya?"
Jawabku kesal.
"Hehehe. Ya barang kali taau."
Sahut ari lagi.
Kami pun menyudahi perbincangan itu dan segera menuju kelas karena bel masuk sudah terdengar jelas.
Setelah dikelas, lagi lagi belum ada guru. Padahal sudah jam 10:00.
Kami pun menunggunya sambil mempersiapkan buku bahasa Sunda.
"Wilujeng siang sadayanaa."
Selamat siang semuanyaa.
Sapa bu Euis begitu datang di depan kelas.
"Siang bu."
Jawab kami lagi lagi serempak. Pelajaran pun dimulai. Aku jujur, kurang minat belajar bahasa Sunda dengan Bu Euis karena mengajarinya terlalu berbelit belit.
Tapi yasudahlah, mau bagaimana lagi fikirku.
Jam pulang pun telah tiba. Kami segera menghambur menuju gerbang. Kecuali aku, Ari, Nanang dan Fida.
__ADS_1
Kami menuju kembali ke taman itu.