MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
Masih Tak Terima.


__ADS_3

Tak lama, Raka dan Indah pun datang.


"Hoy, darimane lu?"


Tanya Priska.


"Malming."


Sahut raka sekenanya. Yaiyalah, sekenanya, wong mereka lupa hari apa, wakakakak.


"Kemana si haikal?"


Tanya Indah.


"Katanya otw ke sini sih."


Sahut Fida.


"Eh tar dulu, kalian kalau nggak salah sebulan lagi ultah ya?"


Tanya teh indah. Hahaha.


"I, iya teh."


Jawab Arif dan Fida berbarengan. Hari sudah semakin malam, awan awan tidak menutupi langit. Bintang bertebaran diangkasa. Bulan nampak bersinar terang.


"Guys, aku pamit ya."


Ujar priska. Waktu menunjukan pukul 21:35.


"Iya, hati hati."


Sahut teman temanya. Priska pun melangkah menuju sepedanya lalu ia pun melesat.


"Bodoh, lihatlah dikalender. Sekarang hari Selasa, besok hari rabu."


Pekik ika.


"Aduh,"


Kata bela sambil menepuk jidat.


"Kenapa tadi nggak liat di hp ya?"


Tanya Arif.


"Ya gitulah, kita lupa. Tapi guys, kayaknya aku juga pamit ya."


Kata Indah.


"Iya, eh ntar dulu ndah, ada yang mau aku omongin."


Sergah ika, bela, Fida.


"Cowok cowok diem disini."


Tambah Fida dengan wajah yang dingin.


"Iya, iya."

__ADS_1


Sahut Arif dengan santai.


"Ada apa sih?"


Tanya indah ketika sampai di taman belakang. Sudah author jelaskan, ditaman ini ada rerumputan yang hijau, disebelah kiri pintu masuk taman ada kursi taman pada umumnya, dan ditengah taman ada lampu yang seperti di bang bang yang itu loh, bentuknya bulet dan ada tiangnya. Simpelnya, coba kalian cari permen yang ada tangkainya.


"Udah beres urusan kamu ama bapaklu?"


Tanya Ika.


"U udah."


Sahut indah sedikit gusar hingga ia memainkan rambutnya.


"Tanganya diem!!"


Gertak Fida sambil mengikat kedua telapak tangan indah dengan kedua tanganya.


"Aaa, sa, sakiiit."


Pekik Indah.


"Diaaaam!!!"


Gertak Ika, Bela dan Fida.


"Kami hanya ingin tau, kenapa kamu bisa seperti ini?"


Indah menjelaskanya dari awal. Bagi readers yang mau tau ada apa dengan raka, indah dan bapaknya boleh baca episode 27 sampai 32 sampe 33 an lah, author lupa juga hehehe. Maklum, ada kesibukan.


"Oh, begitu. Tapi seharusnya kamu tidak ***,"


"Au,"


Pekik Fida. Ya, indah melepaskan tangan mungil nan mulusnya itu. Tangan putih itu kini harus memar dan merah merah di telapak tangan karena fida terus mencengkramnya dengan kuat.


"Sudah, cukup! Hentikan omongan busuk kalian. Jangan menasihatiku lagi. Aku sudah tau, langkah apa yang harus aku ambil dan resiko apa yang akan terjadi. Ini aku yang menjalani, ini aku yang menikmati, ini aku yang merasakan, jadi kalian hanya bantu aku dengan suport saja, dan jangan pernah mau tau masalah aku. Kalian boleh tau ceritaku, tapi kumohon, jangan usil. dengan urusanku. Ngerti nggak kamu tuh?!!!"


Teriak Indah sambil menangis. Ya, dia tidak rela jika ada orang yang terus menyudutkan dirinya. Toh dia begini buat pacarnya, dan ini prifasi. Tidak ada yang berhak untuk mengkritik indah dan hak untuk berpacaran tidak seharusnya diatur oleh orang lain. Makanya dia berani pacaran, berarti dia sudah siap. Begitu seharusnya teman-temanya.


"Aku, bukan kayak gitu ndah, tapi aku,"


Indah langsung melompat tinggi dan melompati pagar kayu yang membatasi antara taman dan halaman belakang.


"Indah, tunggu,"


Pekik bela. Dia sudah tidak mempedulikan lagi.


"Kalian akan menyesal ketika kalian mengatakan seperti itu. Jika aku sudah pergi dan tak akan kembali."


Ia semakin terisak, dadanya sakit. Raka yang sedaritadi menguping pembicaraan itu sontak memeluk kekasihnya dan menenangkanya.


"Lain kali, kalau mau menasehati indah dengan baik baik ya."


Kata raka dengan senyum yang terpancar dibibirnya.


"Aku kesel yang, kenapa semua orang seakan menyalahkanku dengan kejadian kemarin? Padahal bapak sudah menerima kamu, dan beliau sudah tidak menginginkan si go…g dimas. Aku nggak suka ada orang yang menyalahi tindakanku. Kenapa aku berkorban buat ultah kamu karena aku peduli dan aku sayang sama kamu. Aku makanya melakukan ini semua aku sudah siap untuk menghadapi semua ujian ini. Apa pun rintanganya, yang penting kamu dan aku bahagia. Tapi, adaa saja orang yang seakan akan paling bener. Ndah, kamu itu harus gini gini gini gini gini gini. Emangnya aku bakal nurut sama kalian hah? Dasar beren…k!!!!!"


Teriak indah sambil melempar botol kaca ke mereka bertiga. Bapak arif yang mendengar hanya bisa diam dan menonton di balik meja makan. Ya, bapak arif ini jika ada permasalahan remaja seperti ini beliau tidak ikut campur, karena dia bisa mengerti dan pangpangnamah beliau sudah melewati masa masa itu. Pangpangnamah itu artinya adalah, terutama.

__ADS_1


"Kalian boleh memberi saran untuk dia, tapi aku mohon, jangan rusak kebahagiaanya."


Raka angkat bicara sambil merangkul kekasihnya.


"Aku tau arah bicara kalian, tapi jangan mengatur atau menasehati dia. Dia paling tak suka ada orang yang ikut campur dengan urusan pribadinya yang special. rencana itu untuku. Iya nggak yang?"


Tanya raka mengelus rambut indah. Uh romantis sekali. Gumam indah dalam hati.


"Iya say."


Sahut indah merangkulkan tanganya ke pinggang raka. Ika bela fida hanya tercengang.


"Kami minta maaf."


Sebelum raka menjawabnya,


"Maaf maaf. Kau pikir dengan maaf saja aku sudah sembuh dari luka hatiku hah?"


Kata indah sangat sangar. Dia kasar ke orang yang mencampuri urusanya, namun dia menjadi teramat sangat lembut ketika lawan bicaranya raka.


"Iya teteh, aku minta maaf."


Kata fida.


"Adeku sayang, itu bukan salahmu, tapi itu tuh!!"


Tunjuk indah dengan jari tengah kearah ika. Karena dia yang bilang, iya ndah, tapi kamu tuh nggak ***, nah yang ngomong seperti itu.


"Karena aku tangan teteh jadi memar, aku terlalu keras. Maksudku hanya agar teteh fokus dalam bercerita."


Lanjut fida.


"Udah, nggak usah difikirkan. Aku peringati sekali lagi, kalian boleh memberisaran terhadap setiap masalahku, kalian boleh tau masalah aku, tapi aku mohon untuk masalah ini jangan nasehati aku. Kalian hanya boleh tau ceritanya, dan inti masalahnya. Tidak untuk mengatur. Faham?"


Kini nampaknya indah menjadi lebih tenang karena ada raka disisinya.


"Aku pamit. Yang, anteriiiiiin."


Kata indah menggelayut manja di pundak raka. Setelah raka dan indah pergi, arif, fida, bela dan ika pun masuk kedalam. Waktu menunjukan pukul 22:55, dan ika bela serta arif masuk ke rumah.


"Pak, aku pulang ya."


Bela menyalami tangan bapak arif. Memang sih mereka semua kemaleman untuk itu, tapi bapak arif tak mempermasalahkan hal itu. Baginya, dengan memberitau jangan berisik, jangan ngoprek, jangan berantem saja pun sudah cukup. Jika beliau mendengar keributan itu beliau siap siaga menjaga takut takut ada yang berantem.


Sisilain di chat.


Ika: "Udah deh bel, kita nggak usah ngasih saran lagi kedia. Aku rasa dia sudah mempersiapkan segalanya dengan matang."


Bela: "Kamu betul, yaudah, seperti yang ia bilang sendiri. Kita tetap menjadi pendengar setianya, dan kita boleh tetap memberikan saran, namun tidak dengan hal ini."


Percakapan pun usai, mereka segera ngampar dan tarik selimut Masing masing di rumah masing masing.


"Yang, kenapa ya disaat aku bahagia selalu aja ada yang membuat aku menangis."


Tanya indah dengan suara lirih.


"Itu karena mereka tidak faham dengan apa yang kamu rasakan. Coba mereka faham soal perasaanmu."


Jawab raka dengan merangkul bahu Indah.

__ADS_1


Bersambung. Mohon maaf nih bro, author baru up lagi, karena ada tugas dan pekerjaan yang harus author kerjakan. Terimakasih semuaaa.


__ADS_2