
Waktu menunjukan pukul 11:00. Yang berarti acara doa bersama akan dimulai 30 menit lagi. Saat itu anak anak sedang bersenda gurau dan kembali ke pasangan yang sedang ulang tahun.
"Terus kenapa kita bisa mimpi yang sama ya?"
Tanya Fida manja.
"Kalau boleh jujur sih, pada waktu itu aku sedang memikirkanmu hingga aku terlelap. Sungguh Fid, kamu wanita yang pertama kali membuat hidupku berwarna. Apakah ini yang dinamakan cinta?"
Tanya Arif sekaligus mengungkapkan rasa. Fida tersenyum dan dia memberanikan diri merangkul sekali lagi.
"Jangan dulu cinta cintaan, kita masih kecil bos, sayang boleh, tapi cinta jangan ya. Aku juga sayang sama kamu. Seandainya kita sudah 15 tahun, aku ingin sekali jadi pacar kamu rif."
Ungkap Fida.
"Buset dah, bocil bocil udah saling ungkap mengungkapkan. Belajar dulu sono,"
Tegur teh Indah.
"Hooh, jangan mesra mesraan di sini lu."
Ledek teh Ika.
"Tau ah."
Timpal Priska yang baru datang.
"Ngomongin apa si?"
Tanya Bela.
"Ini nih, ada bocil yang lagi kasmaran. Hahaha."
Ejek indah. Wajah keduanya jadi merah padam dan tak bisa berkutik lagi.
"Oooooooooh."
Sahut Bela membentuk bibir huruf o.
"Ciaelah mereka nguping njir."
Gerutu Fida.
"Iya nih."
Timpal Arif.
"PJ, PJ, PJ PJ, Pj."
Sorak Indah, Priska, Bela, Ika sambil bertepuk tangan. Tanpa mereka sadari, Raka sudah memvideokan dari jarak yang lumayan dekat diatas mereka. Ya, raka panjat pohon yang waktu itu arif dan kedua temanya sembunyi. Mereka saling melempar candaan tanpa sadar waktu menunjukan pukul 11:30. Waktunya mereka berdoa bersama.
Sisilain didalam rumah.
"Gimana to bu? Udah oke kan?"
Tanya ibu gendut tadi pagi.
"Sudah, ini bener bener perpek lah."
Jawab ibu Fida mengacungkan jempol. Didalam sudah ada kue tart yang kurang lebih ukuranya 40cm. Cukup untuk anak anak. Ayah Arif datang melalui pintu belakang. disain ruang tamu menjadi sangat elegan dengan tempelan pita disana sini berwarna warni menambah kesan indah. Lampu bulat yang sedaritadi berdiri menanti dinyalakan kini telah menyebar cahayanya. Ruangan istimewa yang diistimewakan untuk anak gadis tercinta. Fida Nur Fitriani.
"Ayo semua, masuk sini, acara akan segera dimulai."
Teriak ibu Gendut kepada keenam insan yang sedang asyik bercanda.
"Ashiaaaap."
Sahut mereka serempak dengan semangat membakar jiwa mereka.. Semua berpenampilan modis dan modern. Dengan dandanan masing masing mereka pun masuk dengan tertib.
__ADS_1
"Rangkaian acaranya adalah, 1. Doa bersama, 2. Maber, makan bersama, 3. Hiburan, disini kita memiliki challenge yang dimana challenge tersebut kalian merusak dandanan kalian. Yang paling semberawut, dia yang akan memenangkan challenge tersebut. Dan yang terakhir, penutupan."
Jelas Fida secara rinci.
"Baik ratuku"
Sahut Arif.
"Cieeeeeeeeeeeee."
Ejek mereka.
"Baik doa bersama dimulai. Kita berdoa dengan khusyuk dan tenang, menurut kepercayaan dan keyakinan masing masing berdoa mulai."
Pimpin Fida. Setelah selesai, mereka di suruh mengungkapkan doa dan harapan kepada pasangan tersebut.
"Sok sekarang dimulai secara alfabet ya. Dimulai dari Bela, Indah, Ika dan seterusnya."
Tambah Arif.
"Heh, dimana mana yang mimpin jalanya acara itu ortu tau. Bukan yang ultah."
Protes Indah.
"Udah gimana aku ajalah teh."
Jawab Arif manyun.
"Oke oke, harapan aku sih, semoga kalian banyak rezki terus semoga kalian makin dewasa di umur kalian yang 14 ini. Jangan ribut mulu. Udah gitu aja."
Bela menyalami dan mengungkapkan isi hatinya.
"Oke, dari aku, semoga kalian cepet jadian."
Kata Ika selanjutnya setelah Bela.
Kata Indah. Selanjutnya, Raka.
"Cie, pasti setelah Teh Indah pasti belakangna Raka da."
Ejek Ika.
"Masbuloh?"
Tanya Raka.
"Oke dari aku semoga kamu kamu berdua, bisa mencapai cita cita yang kamu inginkan. Semoga, apa yang di semogakan bisa tersemogakan."
Raka menirukan gaya bicara tetangga rumahnya. Sontak semua orang yang ada diruangan itu mengerutkan kening.
"Maksudnya?"
Tanya Indah.
"Yaa, semoga apa yang kamu inginkan cepat terlaksana."
Raka memperditail ucapanya.
"Ooooooh." Sahut semuanya. Kini Priska si centil dan tukang gosting eh, gosip maju ke depan keduanya.
"Nggak banyak yang bisa mbak ucapkan. Hanya satu kata yang bisa mbak ucapkan dan semoga ini bisa menjadi fahala bagi kalian. Kalian mbak harap bisa menurut ke ortu, makin dewasa, dan makin bijak untuk memilih sesuatu. Janganmembangkang ya."
Kata Priska menyalami tangan keduanya.
"Aammiin makasih mbak Priskaa."
Tanpa sadar kedua tangan mereka memeluk Priska si ratu centil. Suasana berubah haru dan diiringi tepuk tangan yang meriah. Ibu dan ayah arif berencana mendoakan anaknya dan mengungkapkan harapanya secara special dan pribadi diluar rumah. Mereka tersenyum bangga. Ternyata banyak temanya yang peduli kepada anak anak mereka.
__ADS_1
"Silahkan mama papa."
Kata Indah.
"Oh, tidak. Kami secara pribadi nanti."
Sahut mereka. Ada kejutan apa ini? Tanya Arif dan fida dalam hati. Acara kini berganti ke maber. Makan bersama. Acara pun dimulai. Potongan pertama, Arif berikan ke ayahnya, begitu pun fida.
"Woy rif, harusnya lu mempersilahkan ortu dulu, baru kita. Gimana sih?"
Protes Raka.
"Wong beliau beliau pengen secara pribadi, ya gimana mereka lah."
Sahut Arif. Kedua orang tua itu hanya tersenyum. Acara makan makan berlangsung dengan hikmat, dengan sesekali canda tawa. Sampai acara maber itu selesai, dilanjutkan acara hiburan.
"Dipersilahkan bagi temen temen untuk keluar, karena ada banyak tetangga yang udah buanyak sekali seperti mau demo kumpul diluar sana."
Arahan ibu gendut itu.
"Waaaah, ternyata Arif dan Fida mempunyai sosialitas yang tinggi ya? Eh, sosialitas apa sih namanya yang suka membaur sama masyarakat sekitar teh?"
Tanya Raka.
"Nya eta weh lah pokonamah."
Sahut Indah.
"Widiiiih orang kalteng bisa basa sunda tuuuh."
Kata Bela.
"Wis iya dong."
Sahut Indah. Mereka mengobrol sambil jalan teratur keluar. Sesampainya di luar,
"Buset, mau demo bu?"
Tanya Bela. Sontak teman temanya menggetok kepala bela dengan koran yang tergeletak diatas meja teras rumah Fida.
"Bodoh,"
Pekik Priska.
"Heheh, iya nih mbak, kita mau demo kenapa harga beras naik?"
Lolucon bapak yang berdiri di paling depan. Bela dengan bodohnya mengangguk dan ngeloyor gitu aja.
"Dasar sengklek."
Maki Riska ke Bela. Mereka terus berjalan menuju taman samping dan membiarkan tetangga itu masuk juga dengan tertib. Satu jam kemudian. Karena banyaknya orang yang memenuhi rumah dan teras Fida, akhirnya baru bisa kalem sejam kemudian. Waktu menunjukan pukul 13:00 yang mana ini menjadi waktu istirahat bagi mereka. Acara mereka tunda sampai pukul 15:00 yang diperkirakan jam tersebut tamu tamu yang menyalami Fida dan Arif bubar.
"Ih asik banget disini. Semuanya pada empatinya tinggi. Aku nggak tau hubungan Fida dan Arif sama tetangga sekitar kompleknya sampai sebegininya. Ada tetangganya yang ultah aja mereka datengnya kayak mau ke ondangan hajatan."
Kata Bela.
"Yaps, kamu betul."
Sahut Priska sambil menjentikan jari.
"Yaaa mungkin orang orang sini sudah mempunyai kebiasaan seperti itu."
Timpal Ika.
"Ih iya ya. Aku aja di kalimantan sana aku nggak pernah kayak gini kalo ultah."
Sahut Indah. Raka hanya bisa menjadi pendengar setia para cewek cewek disebelahnya.
__ADS_1
Bersambung.