MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
RESAH, PART2


__ADS_3

Ketika hampir sampai, aku lihat Haikal sedang terkapar tak berdaya di jalanan dengan sepeda yang menindih tubuhnya.


"Eh, lu ikut?"


Tanyaku sedikit terheran.


"Ya ikutlah. Bego lu. Kalau lu bukan sahabat gue udah gue tinggalin dah."


Ujarnya sewot.


"Nya matakan sok atuh buru."


Ya makanya sok atuh cepat. Kataku. Dia hanya mengangguk dan terdiam menahan sakit yang dabel itu. Aku memapahnya untuk berrjalan kerumah dan Fida ku rangkul di tangan kanan. Sesampainya dirumah, aku langsung menarik mereka ke taman belakang dan aku ambil kotak p3k untuk mengobati kedua sahabatku itu. Tak ada kata kata yang terlontar dari mulut kami. Kami hanya terus merentih dan merintih kesakitan. Ku basuh luka milik Fida terlebih dahulu agar dia tidak marah.


"Oh gitu. Jadi gue di cuekin gitu? Fida aje sono lu urus. Jomblomah bebas. Kagak ada yang nemenin dan ngobat,"


"Berisik lu. Ini gue juga obatin luka lu. Ah dasar lu."


Aku membekap mulut sahabatku itu dan aku langsung berpindah menuju Haikal. Teman temanku masuk satu persatu ke taman ini. Disana sudah lengkap. Mulai dari Indah, Ika, Bintang, dan Fauzan. Maaf kalo sedikit berantakan karena author lupa wkwkwk. Kulihat mereka saling mengobati satu dengan yang lainya. Aku penasaran dan bertanya.


Kenapa ini teh kok kayak abis liat setan?"


Mereka menjawab dengan serempak.


"Ada geng motor ngejar kami."


Aku kaget dan takut. Aku Coba bertanya lagi.


"Gimana kronologinya? Silahkan bagi yang paling lama bersama preman tersebut."


Kulihat Ari dan nanang memasuki taman dan mulai angkat bicara.


"Tadi urang keur jalan jeung si Nanang tah, tiba tiba teuing salah urang naon, jol jol di gebug ku balok weh tonggong urang teh. Nya Nang?"


Tadi aku dan Nanang lagi jalan, nggak tau salah kita apa, tiba tiba ada yang mukul pake balok kayu ke punggung kita. Ya nang? Jelas Ari yang langsung dianggukan kepala oleh nanang. Mereka pun bercerita.


Indah pov.


Aku keluar rumah untuk janjian dengan pacarku Raka. Ketika sudah sepakat untuk janjian, aku segera keluar dan aku naiki sepeda menuju komplek rumah adikku, Arif. Ketika hendak berbelok dari rumah ku menuju jalan besar, aku lihat segerombol orang yang membawa balok kayu dan pisau. Kukira itu tukang kayu yang sedang berjalan untuk pulang bersama tukang kebun. Tapi mengapa jumlah mereka begitu banyak? Ini sungguh mencurigakan. Disaat hari mulai senja, ternyata ada orang yang mengambil kesempatan waktu shalat magrib orang orang untuk melakukan kejahatan. Kukayuh sepeda dengan santai seolah tak melihat apa pun. Ketika ku permisi kepada sekelompok orang itu karena mereka menghaalangi jalanku. Tiba tiba:


"Waaaah, ada cewek mulus tuh bos. Kita bawa ke markas untuk kita cobain bos. Ya mungkin bos tau, apa arti di cobain. Hehehe."

__ADS_1


Ujar salah satu orang yang membawa balok kayu. Aku takut dan hendak mengayuh sepeda secepat cepatnya agar segera bertemu dengan Raka. Ketika sudah agak jauh, aku melihat preman preman itu mengejar dan aku berbelok menuju salah satu jalan yang kuketahui itu adalah jalan menuju komplek Fida. Kulihat preman itu terus mengejar dan kulihat juga Fida hendak berbelok tapi salah satu preman itu berkata kepada Fida.


"Apa lu, mau stor nyawa juga?"


Aku tak bisa tinggal diam. Kukayuh untuk menabrak salah seorang preman itu. Dan, bruuugg. Dua orang sekaligus berhasil ku tabrak. Namun aku tak melihat kemana perginya Fida. Aku yakin, pasti dia menuju rumah Arif. Berhubung jalurnya sama, ku kejarlah dia. Dibelakangku ada Ari dan Nanang. Aku sedikit tenang ternyata ada teman dibelakangku. Kulihat rambut yang digerai seperti milik Fida didepan. Kutambah kecepatan dan ternyata benar. Itu Fida. Sampai kecelakaan ini tidak bisa terelakan.


Indah pov end.


"Oh, begitu. Oke terimakasih."


Kataku yang saat itu tanpa disadari pak Doni masuk untuk mengambil keterangan. Beliau memang tidak memakai baju seragamnya, tapi dia terlihat membawa senjata. Azan magrib pun berkumandang. Kami tetap diam, dan tidak bergeming. Karena rasa lelah dan nyeri disekujur tubuh. Kang Fauzan berdiri dan berpamit kepadaku.


"Hayu ah."


Ujarnya seraya menepuk bahuku.


"Kamana atuh kang?"


Tanyaku.


"Balik aingmah."


Pulang sayamah.


Eh, tunggu dulu, ayo kita makan bareng bareng disini. Tawarku. Dan dia hanya mengangguk dan tidak jadi untuk pulang. Ayahku yang melihat semua masih berkumpul di taman langsung membuatkan cemilan dan beberapa porsi nasi goreng.


"Sayang,"


Sapaku sambil merangkul bahu Fida. Dia menoleh.


"Apa,"


Sahutnya.


"Apakah kamu benar benar sayang sama aku?"


Tanyaku yang langsung dia merebahkan kepala dibahuku.


"Aku sayang sama kamu tapi aku resah dan gelisah. Jujur ya rif, aku nyesek ketika kamu bilang, tenang. Da udah ada yang lain. Disitu aku berfikir, apa aku hanya dijadikan sebagai pelampiasan? Apa aku dijadikan sebagai permainan? Apakah aku hanya dijadikan sebagai, ah, aku tak sanggup lagi."


Hiksy hiksy. Dia mulai menangis.

__ADS_1


"Kalau itu semua adalah benar, ka kamu ja jahat rif, jahaaaaaaaaaat!!!!"


Huuuuuuuu. Fida makin menjadi dengan suara khasnya yang berteriak diakhir kalimatnya. Semua mata memandang kearah kami.


"Ssttt, tenangkan dulu dirimu sayang, aku tidak seperti apa yang kamu fikirkan. Aku hanya ngetes seberapa pedulikah kamu?"


Jawabku sambil mengelap airmata yang menetes. Dia masih merebahkan kepalanya dibahuku, dan dia berkata:


"Oh jadi gitu. Kamu meragukan aku?"


Teriaknya.


"Lalu untuk apa aku ada disini dan mau bersamamu jika aku tidak sayang sama kamu? Seharusnya yang dites itu kamu. Kamu itu harusnya sadar dan intropeksi diri ketika chat kamu aku blok."


Imbuhnya. Aku terdiam dan tidak bisa mengelak.


"Maafin aku sayang."


Aku memeluknya. Dan dia membalas pelukanku.


"Jangan diulang lagi ya, aku takut kehilangan kamu. Aku tak bisa tanpamu."


Ujarnya. Aku terdiam dan terlarut dalam perkataannya. Bulan yang bersinar terang menjadi saksi bisu kemesraan kita berdua yang perlahan larut ditelan dinginnya malam. Sampai ku sadari, ditaman ini sudah tidak ada siapa siapa. Ya, tinggal kita berdua. Ketika kulirik menuju dapur, ternyata mereka sedang menyantap nasi goreng yang dibuat oleh ayah. Nasgor itu nampak masih panas. Tanpa banyak bicara, aku melepaskan pelukan dan segera menggandeng tangan putih Fida menuju ruang makan.


"Woy, kok nggak bilang sih?"


Kataku berbarengan dengan Fida.


"Cieeee."


Sorak mereka.


"Habisnya lu lama sih, yaudeh gue tinggal."


"Iya, adek kayaknya mesra banget sampe nggak denger kita manggil."


Tambah kak Indah. Aku malu dibuatnya. Tanpa banyak basa basi lagi, aku duduk dan mengambil dua porsi nasgor untuk aku dan Fida.


Pak Doni pov.


Aku masih terheran mengapa tiba tiba ada geng motor dihari gini. Aku langsung keluar rumah dan tanpa berpamit kepada keluarga Arif. Aku langsung berlari menuju rumah dan segera ganti baju serta mengambil senjataku. Aku membawa pistol repolfer berisi 12 butir peluru. Aku ambil motor dan kunyalakan sirine polisi. Ketika sirine meraung, semua orang yang melintas seperti ngeh dengan apa yang terjadi. Mereka langsung tancap gas, dan ada beberapanya rela untuk berlarian karena motornya dipinjam oleh temannya. Ketika aku sudah dekat, kumatikan sirine dan mulai terlihat ada beberapa orang yang sedang menghakimi kesepuluhan preman itu. Sempat kulihat seorang ibu terjambret. Tanpa pikir panjang, kulepaskan tembakan peringatan untuk membubarkan masa. Masa bubar, tapi preman itu berlari dan menjauh. Lantas kembali aku menembakan tembakan pringatan. Tetap, mereka berlari. Aku tembak kakinya baru mereka berhenti namun hanya 3 orang yang terluka. 7 lainya melarikan diri. Aku segera hubungi pihak kantor dan seketika pasukan anak buahku membeludak datang ke tkp. Lantas kami mulai meringkus preman itu untuk di introgasi di kantor.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2