MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
4. Fida Sembuh Dari Sakit Kankernya


__ADS_3

Tok tok tok. Suara ketukan pintu kamar ruang rawat Fida terdengar begitu mengagetkan.


"Selamat malam bu. Saya izin memeriksa keadaan anak ibu Fida."


Ujar dokter itu kepada ibu Fida.


"Iya dok silahkan."


Jawab ibu Fida. Lalu aku dan ayah mundur beberapa ubin dari ranjang Fida.


"Hmm, ini sudah tidak lama lagi untuk sembuh. Yang diperlukan, Fida harus banyak banyak istirahat dan menghirup udara segar lalu ditahan dan disalurkan ke otak. Insya Allah cepat sembuh."


Jelas dokter Arif sesuai tag dibajunya.


Aku jadi tertawa geli ketika membaca tag di bajunya. Hahaha, aku udah jadi dokter haha. Aku jadi senyum senyum sendiri.


"Oh gitu ya dok. Oke deh."


Jawab Fida.


"Iya, kamu boleh jalan jalan sekitar rumah sakit ini. Di belakang ada taman yang sejuk dan masih asri."


Jelas dokter itu lagi.


"Baik dok."


"Oke, saya tinggal ya nak. Kamu hati hati disini."


Pamit dokter arif lagi.


"Makasih dok."


Sahut ibu Fida. Lalu dokter Arif melangkah menuju ruang rawat.


Ayah, aku dan ibu Fida berbincang mengenai ijasah masing masing. Fida yang sedaritadi mendengarkan hasil kelulusan dirinya hanya bisa senyum senyum sendiri.


"Pak Bambang, saya mau bicara serius sama bapak."


Ujar ibunya Fida begitu serius.


"Baik, adakalanya kita keluar dulu dari rs ini biar mereka tidak bisa mendengarkan pembicaraan kita."


Lalu ayah pun segera mengambil HP dan carger dan langsung berdiri melangkah menuju pintu.


"Rif, Fid, tunggu bentar ya. Ayah sama ibu mau ada urusan kantor bentar."


Ujar ayah.


"Iya yah."


Jawabku. Ayah dan ibunya Fida segera keluar dan menutup pintunya. Kini tinggalah ku dan Fida berdua di ruangan ini.


"Riif, kita kan udah mau SMP, gimana kalau kita satu sekolah aja? Aku nggak mau pisah dari kamu. Aku udah sayang sama kamu. Aku sayang kamu itu sebagai saudaraku sendiri."


Sebenarnya, ada rasa lain di hati Fida pada Arif. Dia suka sama Arif. Ya maklumlah, kan cewek itu akil baliknya diantara 9 sampai sebelas taun. Dan kondisinya Fida sudah akil balik.


"Ma ma maksud kekekamu?"


Tanyaku kaget campur heran mengapa Fida tiba tiba begitu serius bicara padaku?


"Iya, aku mohon, jangan tinggalin akuuuuuuuuuuuu. Hix hix."

__ADS_1


Jerit Fida sambil menggenggam tanganku erat erat.


Aku jadi ikut ikutan meneteskan air mata.


"Iya fid, aku nggak akan tinggalin kamu. Aku juga sayang sama kamu."


Jawabku. Jujur, aku juga sayang sama Fida.


"Makasih Ariif."


Seketika senyumnya menembang.


Huh dasar cewek. Gerutuku dalam hati.


Ayah Arif dan Ibu Fida.


"Jadi ada apa kau mengajaku kemari ibu Fida?"


Tanyaku kepada orangtua Fida teman anakku.


"Begini pak bambang, saya berniat menjodohkan anak bapak dengan Fida anakku."


Aku jelas kaget bukan main sampai sampai tersedak ludah sendiri.


"Jejejadi, kekekamu ba ba bakal menjodohkan anakku?"


Tanyaku sewot.


"Iya pak bambang, kemarin saya sudah bicara pada mereka bahwa jangan lupa belajar. Kalau sampai lupa belajar, saya tak akan segan untuk memutuskan hubungan mereka. Apakah pak bambang setuju? Niat saya menjodohkan anak saya dengan anak bapak agar saling memotifasi dalam belajar saja."


Terang ibu Fida panjang lebar.


Tanyaku lagi.


"Iya pak bambang. Begitu maksud saya."


Lalu aku mengangguk setuju.


Arif dan Fida.


"Duuuuuh, ayah sama ibu mana yaa?"


Tanyaku.


"Assalamualaikum."


Nah itu ayah sama ibu. Ujar Fida. Lalu beliau beliau pun masuk. Ibu dan ayah sudah merahasiakannya dari arif dan Fida.


"Waalaikumsalam."


Jawabku berbarengan dengan Fida.


"Udah beres ya?"


Tanyaku pada ayah.


"Udah kok."


Tak biasanya wajah ayah sumbringah seperti ini. Tapi yaudahlah.


Keesokan harinya. Fida, aku, ibu Fida dan ayah sudah bangun kira kira jam 05:30. Yang pertama mandi ayah. Karena ayah jam 7 udah masuk kerja.

__ADS_1


"Rif, fid, ayah berangkat dulu ya."


Ujar ayah sambil memakai sepatu.


"iya yah."


Jawabku. Tak lama kemudian, disusul dengan ibunya Fida yang berangkat kerja. Yaaa lagi lagi aku tinggal berdua dengan Fida.


Tok, tok, tok. Suara ketukan pintu mengagetkan kita berdua.


"Selamat pagi bu, eh dek Arif dan Dek Fida."


Sapa dokter Tatang sesuai tag di bajunya.


Pagi dok."


Sahut kami.


"Ayo Fida, periksa dulu."


Fida hanya mengangguk lemah diatas tempat tidurnya.


"Hmm, sudah bagus. Ini bisa dibilang sudah sembuh. Kamu besok bisa pulang."


Jelas Dokter Tatang.


"Asiiik."


Sorak Fida.


Dokter itu hanya tersenyum.


"Baiklah kalau gitu, saya permisi."


Pamit dokter dan kembali kami berdua.


Drrt drrtt.


"Ha halo nang,"


Nanang ternyata yang meneleponku.


"Halo bro, gimana Fida? Baik baik aja kan? Maaf banget, aku nggak bisa kesitu karena lagi nganter Ari ke bogor ke rumah neneknya."


"Oh iya nang. Nggak papa. Fida alhamdulillah udah sembuh."


"Oh, gitu. Oke deh. Udah dulu ya."


"Iya Nang."


Kami pun memutuskan obrolan di pagi itu. Waktu menunjukan 07:00.


"Fid, mau ke taman?"


Tanyaku.


"Nanti aja ya Rif."


Aku pun menganggukan kepala.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2