
Setelah memarkirkan sepeda di halaman rumah Fida, aku melangkahkan kaki menuju teras rumah. Tak lupa aku memencet bel dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
Salamku yang langsung dibukakan pintu oleh ibu Fida.
"Eh, Arif."
Kata beliau sambil menarik handel pintu agar terbuka keseluruhannya. Aku hanya mengangguk seraya menyalami tangan ibunya Fida. Tak lama kemudian, Fida pun ikut masuk dan bergabung bersama kami.
"Jadi ada apa ini? Ibu nggak ngerti. Ada apa ini? Kok wajah kalian sumbringah betul?"
Tanya Ibu Fida heran.
"Ibumah lupa ah samma akuu."
Ujar Fida dengan bibir yang dimonyongkan kedepan mirip orang yang sedang mau cipika-cipiki sama sahabat. Ibunya hanya tersenyum.
"Ibu inget. Hari ini kalian ultahkan?"
Tanya beliau.
"Ia betuuul."
Pekik kami berdua dengan kompak.
"Iya ia. Bentar, ibu mau nelpon temen temen ibu biar datang kesini."
Ujar ibu Fida melangkah masuk untuk mengambil handphone nya. Sementara itu, aku juga melakukan hal yang sama dengan ibu Fida. Kurogoh HP dan mulai mengundang beberapa teman SD serta saudara. Fida yang sedaritadi manyun hanya melirikku dengan tatapan mata yang sedikit sembab tapi tatapan manjanya tak luput dari pandangannya. Setelah tersambung aku menyapa teman temanku yang kebetulan saat itu sedang melakukan konvrensi video call. Disana ada ka Indah dan kawan kawan.
"Hai semuaaaaa."
Sapaku.
"Hai juga. Oh iya ada yang ultah nih guys, itu. itu orangnya."
Ujar kak Bela dengan ka Priska. Kalau sudah ada mereka dunia serasa pecah dan mau amburadul karena jeritan dari bibir mungil kaka kelasku yang cantik cantik ini.
"Waaaah, ganteng ya."
Ujar salahsatu kaka kelas perempuanku yang tidak diketahui namanya. Kulihat Fida makin mematutkan wajahnya. Matanya yang tadinya ceria dan manja, kini mulai meneteskan airmata. Sorot matanyapun terlihat marah seolah tak suka saat ada cewek lain memujiku.
"Sudah. Cukup! Kapan saya bisa bicara? Mau dilaporkan ke om saya?"
__ADS_1
Teriakku dengan nada kesal. Semua seketika hening. Kulihat ka maman dan ka Bintang nampak menarik napas lega.
"Tujuan saya menelpon kalian saya ingin mengundang kalian untuk datang keacara ulangtahun kami."
Aku mulai berujar sambil mengarahkan hp ke pacarku yang sudah tersenyum kembali.
"Saya akan membuat siaran di WA dan saya akan sharelok kekalian. Faham!!"
Tanyaku jengkel. Mereka mengangguk faham.
"Baik. Saya akhiri selamat sore dan tunggu sharelok dari saya."
Katakku seraya mengakhiri konvrensi itu. Sementara disisilain kak Indah sedang terperangah takjub saat mendengar adik kelas yang sudah dianggap saudaranya sendiri itu marah.
Indah pov.
Aku mengakhiri panggilan itu dan aku mulai siap siap saat aku menerima notif dari adikku Arif. Aku mulai menghubungi pacarku Raka untuk menjemputku ke rumah. Setelah chat Raka, aku melangkah masuk menuju kamar mandi untuk sekedar dandan yang terbaik untuk acara ultah adikku itu.
Indah pov end.
Disisi lain ka Bela juga terkesiap saat arif membentak. Sebenarnya lebih ke penegasan sih. Ka Bela pun melangkah menuju lemari baju untuk ganti baju dan bercermin. Disisi lain ka Priska nampak tersungut sungut saat Arif membentak. Ka priska melempar hp ke kasur tanpa mematikan panggilan itu. Namun ia tetap melangkah keluar kamar untuk cuci muka dan ganti baju. Disisilain. Ka Bintang nampak lega saat ocehan kedua sahabatnya itu berhenti. Ka bintang yang sudah siap daritadi pun melangkah menuju garasi dan menarik sepeda orennya keluar. Disisi yang berbeda, ka maman lari terbrit birit saat mendengar kata kata, sudah cukup! Mau kapan saya bicaranya? Mau dilaporkan ke om saya? Tanpa mematikan panggilan itu. Ka maman pun segera mandi dengan terburu buru disaat sudah mendapatkan lokasi yang sudah diberikan Arif.
Dirumah Fida. Arif dan Fida masih sibuk dengan urusannya sendiri sendiri. Fida nampak teruuuuuuus mematutkan wajah tanpa menghilangkan tatapan manja yang selalu ia lirikan ke arah Arif yang masih membagikan lokasi rumahnya. Arif, kamu ganteng deh. Aku mau kita terus bersatu. Ucapnya setengah bergumam. Aku lelah di gantung seperti ini, aku ingin ada status yang jelas diantara kita. Lanjutnya. Nampaknya Arif mendengar gumaman Fida dan ia menoleh.
Ujar Arif dengan tatapan mata yang teduh sambil merangkul Fida yang masih kaget dengan gumamannya.
"Bagaimana Rif, apa sudah di bagikan semua alamat dan undanganya?"
Ujar ibu Fida yang begitu mengagetkan.
"Susu su sudah bu."
Sahut Arif tergagap. Sontak, ia melepaskan rangkulan dari pundak Fida.
"Nggak papa, rangkul aja rif, kan mau dijodohkan."
Sahut beliau sambil terkekeh. Arif yang malu hanya bisa menggenggam telapak tangan Fida yang basah sama airmata.
"Udah bu, bentarlagi pasti mereka datang."
Sahut Arif dengan tenang. Satu persatu dari mereka pun mulai berdatangan. Termasuk Pak Doni dan Ayah. Tapi tunggu, mana ka Haikal? Oh itu dia. Menyempil diantara masa yang mulai merapat dan memenuhi perkarangan rumah Fida.
"Mau saya pasangkan tenda bu?"
__ADS_1
Tawar bapak bapak tukang ojek depan rumah.
"Mau dipasangkan lampu bu?"
Sahut ibu ibu sambil mengangkat tinggi tinggi lampu bohlam ukuran 75 wat.
"Perlu lilin?"
Tawar ibu warung seraya mengangkat kumpulan lilin.
"Mau kursi?"
Tawaran demi tawaran terus berdatangan. Ibunya Fida hanya mampu geleng geleng.
"Semuanya aja. Tapi saya tidak meminta ya."
Sahutnya singkat. Spontan tetangga tetangga ibu Fida pun mulai berlarian menuju rumah masing masing untuk mengambil barang yang mereka tawarkan.
"Cemilanya buu."
Tawar seorang anak yang berjualan di kompleknya.
"Boleh, mau semuanya."
Sahut beliau.
"Total 130 ribu bu."
Ujar anak itu. Tanpa pikir panjang, ibunya Fida menarik uang sebesar 200 ribu dari dompetnya. Dan anak itu hanya melongo.
"Sudah, ambil saja."
Kata ibunya Fida sambil tersenyum. Tak lama kemudian, masa itu datang dan mulai bekerja dengan cekatan dan penuh semangat. Teman teman SD Arif pun tiba. Disusul oleh teman teman dari sekolahnya. Arif dan Fida hanya bisa tersenyum haru melihat masa yang berdatangan begitu banyak. Tanpa sadar, ia menitikan airmatanya. Terimakasih Ya Allah. Dan ibu, seandainya ibu ada disini, pasti Arif akan lebih senang. Ucapnya dalam hati.
"Kenapa sayaang?"
Tanya Fida.
"Nggak, cuma terharu aja liat mereka. Sama aku inget ibu."
Sahut Arif sambil menunjuk orang yang sedang bekerja. Ada yang memasang lampu, ada yang memasang meja, ada yang memasang sound, ada yang menyeting tata letak lilin, bahkan ada yang membentuk batang lilin itu menjadi sebuah kalimat. Ada juga yang berjaga di depan pagar. Yang berjaga ada Pak Doni, dan beberapa warga serta satpam juga ikut dalam pesta ini. Setelah semuanya sudah hadir, waktu menunjukan pukul 19:00. Acara pun dimulai. Dimulai dengan sambutan dan ucapan selamat ulangtahun untuk Arif dan Fida. Jika dilihat dari jauh, pesta ini seperti acara hajatan nikahan. Arif dan Fida duduk diatas kursi sepesial diatas panggung dengan memegang mikrofon.
Bersambung."
__ADS_1