MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
Pertandingan Bola Sudah Dimulai


__ADS_3

Pertandingan bola sudah dimulai dan aku serta teman teman asyik menontonya secara live. Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi suporter sepertiku. Pertandingan semakin panas ketika tim lawan berhasil mencetak gol kearah gawang tim kesayanganku. Sontak seluruh suporter dari tim berlatar belakang tangguban parahu itu bersorak garam. Yooo ayooo, ayoo P…ib Bandung, kuingin, kita harus menaaaang. Yooo ayooo, ayooo Pe..ib Bandung, kuingin, kita harus menang.


Nyanyinyan itu terus kami kumandangkan demi menyemangati tim kebanggaan sejawa barat itu. Dan tak lama kemudian, timku itu berhasil melawan tim lawan sehingga skor imbang 1-1. Kami terus menyanyikan lagu itu. Ku yakin kau bisa. Ku yakin kau bisa menaang. Kami selalu ada disini, kami slalu ada untukmuu.


Dari sudut pandangku, Sempat ku lirik kearah tribun wanita, maaf kalau salah. Soalnya author nya nggak pernah ke stadion hahaha. Kulihat Kak Indah menatapku dengan khawatir. Ada apa ya? Aku pun balik menatapnya. Kami para cowok sengaja mengambil tempat duduk dekat tribun wanita karena agar bisa kompak pada saat pulang nanti. Tak terbayangkan stadion yang kurang lebih 20000 orang ini semuanya akan pulang, dan kami terpisah, kan nggak lucu. Dia masih menatapku. Lalu bergantian menatap Pacarnya yang berada dibelakangku. Aku pun iseng melihat kebelakangku, dan ternyata dibelakang kak Raka ada suporter dari Jakarta. Kalian pasti tau, siapakah dia?


Disisi lain di tribun wanita.


Fida pov.


Aku jadi ikut ikutan Kak Indah untuk melirik kearah Arif. Dan ketika kulihat, aku menjadi geram mengapa kok bisa Arif duduk bersama cewek lain? Padahal sudah jelas wanita dan pria itu dipisah. Ah, sudah lah. Mungkin tuh cewek nyasar. Maklum, stadion yang terletak di soreang ini kan luas. Fikirku. Aku perhatikan kak Indah dan dia juga mencurigai sesuatu. Dia menatap terus kearah pacarnya tanpa henti.


Fida pov end.


Aku lihat Kak Raka menatap salah satu perempuan yang sepertinya yang tadi bertanya dimana toilet padaku. Sesaat kemudian Joe mencuri pandang ke kakaku itu. Dan apa yang terjadi? Kak Raka berteriak,


"Goooooooooooolll. Gol deui euy. Hahai."


Soraknya yang langsung diikuti oleh akang akang suporter lain. Skor kini 2-1. Dimenit terakhir sebelum istirahat. Aku pun terus memfoto pemain dari tim salapanbelas tilu tilu itu. Kami selaku suporter masih asik menyoraki kemenangan tim kebanggaan orang bandung ini. Sampai,


"Rif, tadi siapa?"


Tanya Fida yang menghampiri kearahku. Aku menjawab.


"Itu yang nanyain dimana toilet."


Sahutku jujur sambil membelai rambut Fida.


"Oh, dikirain siapa."


Sahutnya cemberut. Aku mencubit ujung hidungnya yang mancung.


"Ih, sakit tau."


Pekiknya.


"Ah modus meren."


Timpalku.


"Terseraahhh."


Dia melangkah kesal kembali ketempat duduknya. Aku hanya terkekeh. Sedaritadi jika diperhatikan joe terus memperhatikan kaka tersayangku itu. Aku towel kak Raka. Dia sepertinya ngeh dan spontan menatap kekasihnya yang juga sama gusarnya sepertiku.

__ADS_1


"Naon sia nempo nempo wae kabogoh aing?"


Apa kamu ngeliatin terus pacar saya? Tegur Raka kepada Joe.


"Nyuwun sewu bos."


Kata Joe. Awas siah mun wani nikung. Gumam Kak Raka.


Sebenarnya aku ingin mengungkapkan rasa. Tapi mengapa aku slalu tak biisa. Bagaimana caranya agar dirimu bisa tau kalau aku suka, suka, suka, suka sama kamu.


Lagu itu yang terus mempengaruhi pikiran Joe.


"Pertandingan babak kedua akan segera dimulai. Boleh berikan tepuk tangan kepada kedua tim yang masih bertarung dengan skor akhir 2-1."


Ujar hos. Hah, kapan mulainya? Perasaan tadi masih istirahat deh. Masih ngalempengkeun suku. Tanpa banyak bicara, kami langsung menyuarakan yel yel pamungkas kami. Biasanya setelah menyuarakan yel yel ini tim kami menjadi ada kekuatan untuk membantai tim lawan sampai eleh. Tak terasa, 15 menit telah berlalu. Skor masih bertahan 2-1. Kulihat Kak Imade behitu lincahnya menangkis serangan dari lawan. Sampai bola dikuasai oleh kak Febri, akhirnya,


"Gooooooool."


Kami bersorak lagi. Skor 3-1. Dimenit ke 30 itu. Sementara itu, joe yang mengaku salah satu anggota suporter surabaya malah memperhatikan kak Indah melulu. Aku kembali menowel kak Raka. Kak Raka menoleh dan dia melayangkan tinju ke Joe.


"Opo toh mas?"


Apa sih mas?


Pindah kamu!!!


"O, oke mas."


Joe dan Raka pun bertukar tempat.


"Kamu nggak papa kan?"


Tanya Raka. Kak Indah hanya menggeleng lalu menundukan kepala. Nampak Raka menghela nafas. Dan dia kembali fokus kedepan. Dimenit 45 tim kami kembali mencetak gol sehingga menjadi 4-1. Nampak suporter dari jakarta mulai membuat ulah dibandung. Kepulan asap membumbung tinggi di pinggir lapangan. Sungguh memalukan. Pak polisi pun segera menghampiri suporter itu dan dibawa ke arah komandannya. Eh tardulu, siapa komandanya? Aku kayak tau dari postur tubuhnya. Tinggi, berkulit hitam, berwajah tegas dan dipinggang kanan terselip pistol laras panjang dan dipinggang kiri ada wokitoki. Iya itu pak Doni. Perlu kujelaskan juga, pak Doni ini selain bertugas beliau juga mengikuti jalanya pertandingan dan juga ikut bersorak ketika tim salapanbelas tilutilu itu mencetak gol. Pertandingan pun usai. Kami tanpa diperintah langsung berdiri dan membentuk baris kebelakang seperti kereta. Kami bersepuluh lanjut ngabret kearah parkiran. Kami bergegas menaiki sepeda masing masing takut di keroyok anggota orange itu. Haha. Kalian tau kan, seberapa musuhannya tim orange dan tim biru? Setelah jauh dari stadion, kami istirahat di tempat cendol mang engkin dekat sekolahan.


"Ndah, kamu udah punya pacar?"


Tanya joe sedikit genit. Kak Indah menepis tangan joe yang hendak membelai rambut Kak Indah.


"Naon siah? Aing kabogohna."


Teriak kak Raka emosi. Kulihat mang engkin spontan melepaskan gelas yang sedang diisi cendol untuk kami.


"Oh, tak kira kowe sahabatnya."

__ADS_1


Ujar joe dengan muka polos dan menyebalkan.


"Pan tadi geus ngomong. Koplak."


Kata Kak Raka. Joe ngalelewe Raka.


"Naon maksudna?"


Apa maksudnya? Kak Raka melangkah geram mendekat ke joe. Kak Indah mulai terisak dan mulai menggenggam tangan kekasihnya.


"Hiksy, udah yaang. Udaah. Hiksy."


Isaknya. Namun kak Raka melepaskan tangan pacarnya itu dan, buakk. Sebuah tinjuan melayang kearah Raka. Aku yang tak berani segera ngabret kebelakang mang engkin. Dan Raka memberi pantun untuk Joe.


"Dahar indomi dahar belut. Mun wani hayu gelut."


Makan indomi makan belut. Kalau berani hayu gelut.


"Udaaaaaah!!!"


Teriak Cewek cewek ketika kak Raka menampar pipi Joe.


"Sori mas, kowe enda berhak miliki dia."


Ejek Joe.


"Sidik aing nu jadi kabogohna. Saha sia!!"


Sudah jelas saya yang jadi pacarnya. Siapa kamu?


"Iya joe, aku nggak sama kamu. Raka udah resmi menjadi pacar aku. Iya kan yang?"


Tanya Kak Indah dengan masih menangis. Kak Raka mengangguk pelan lalu merangkul bahu kekasihnya.


"Mang, nu abi mah dibungkusnya. Tah acisna dua kali lipat kangge ngagentosan tadi gelas nu peupeus."


Mang, yang saya di bungkus ya. Nih uangnya duakali lipat untuk ngegantiin gelas yang pecah. Mang Engkin pun menerima dan membungkus untuk Kak Raka. Setelah itu, kak Raka berpamitan kepada kami dan dia pun melangkah pergi dengan tangan kanan menggandeng tangan kakaku.


"Um, kasian ya mereka."


Ujar Haikal dan Fida berbarengan. Aku mengangguk lalu segera menghabiskan cendol.


Bersambung. Note author.

__ADS_1


Guys, maaf tim ini aku sensor ya dengan elipsis. Karena takut wkwkwk. Dan mohon doanya ya semua, mudahmudahan karya author ini dapat di kontrak. Makasih semuaa.


__ADS_2