
Hari ini aku sedang berjalan-jalan tanpa arah, hingga aku terfikirkan tuk segera menembak calon pacarku. Aku belok ke toko bunga dan membelikan mawar untuknya. Setelah urusanku selesai di toko bunga, aku lalu berjalan menuju mini market yang ada disebrang toko bunga. Aku belikan coklat untuknya. Pasti dia suka. Pikirku. Aku berjalan keluar mini market lalu tujuanku selanjutnya adalah toko parfum yang tak jauh dari toko bunga.
"Mas, ada parfum merk ini nggak?"
Tanyaku sambil mengangkat botol kosong parfum Fida yang berhasil aku curi dari tas yang ia bawa.
"Ada mas, tunggu bentar ya. Mau beli baru, atau beli refilnya?"
Tanya mas penjual.
"Baru aja mas."
Sahutku. Mas itu kedalam dan tak lama kemudian, datang lagi dengan menggenggam botol yang sama sepertiku. Aku tersenyum dan membayarnya.
"Berapa mas?"
Tanyaku. Mas itu menjawab.
"500000 aja mas."
Aku membayarnya lalu keluar. Aku selanjutnya menelfon calon pacarku.
"Halo sayang?"
Sapaku. Fida yang mendengarnya tersipu malu.
"I iya? Ada apa?"
Tanya Fida manja.
"Temui aku sekarang didepan gapura kompleks. Se, ka, rang."
Aku mematikan telfonya. Fida yang belum menjawab langsung siap siap memakai jaket hitamnya dan tak lupa ia menggerai rambutnya. Tak lama kemudian, Fida tiba di tempat yang dimaksud. Disana sudah ada Arif yang berpenampilan dengan memakai kaos lengan panjang dengan warna putih cerah. Dibagian depanya ada tulisan, Tak kan pernah lagi tersakiti karena sudah ada kamu yang mengisi hatiku.
Fida yang membacanya jadi terkikik geli.
"Hahaha, kok gitu bajunya?"
__ADS_1
Tanya Fida.
"Biarin. Daripada kamu kemana-mana cuma pake jaket weh jeung jaket. Apa nggak gerah hah?"
Tanya Arif. Fida yang kesal segera menurunkan reseletingnya dan membuka jaketnya lalu melemparkanya ketengah jalan. Pak Supir yang melihat jaket melayang dengan refleks menangkapnya dan melipatnya. Setelah melipatnya, pak supir pun memasukanya kedalam mobil.
"Nah kan kalo gitu jadi lebih imut dan cantik."
Kata Arif.
"Berisik ah."
Fida masih ngambek. Hahaha, maklumlah cewek. Fikirnya. Tak lama kemudian, kedua insan beda kelamin ini masuk kedalam taksi.
"Jalan, pak."
Kata Arif. Arif merangkul pundak Fida dan membelai rambut panjangnya. Fida yang sebenarnya pura-pura marah hanya menggigit bibir bawahnya yang tipis karena menahan senyum. Masih ia rasakan belaian lembut tangan Arif di atas rambutnya. Saat itu Fida berpenampilan modis dengan jam tangan yang melingkar di tangan kananya yang mulus, baju tangan panjang berbahan katun yang mudah meral berwarna putih polos, rambut yang digerai dan celana jean biru yang sedikit ketat hingga membentuk setiap jenjang kakinya dengan sepatu kets sebagai alas kaki mereka. Tak lupa tas kecil berbahan kulit yang dengan setia menggantung di pinggang kirinya. Tak jauh berbeda dengan arif, hanya yang membedakan hanyalah Arif membawa sling back yang dengan setia menggantung di pinggang kananya. Isinya pun sama dengan calon kekasihnya.
"Masih ngambek sayang?"
"Oh ternyata pacarku masih ngambek. Yaudah ah. Aku turun sini aja."
Kata Arif. Sontak Fida memeluk tubuh Arif.
"Jangaaaan."
Fida akhirnya tidak kuat.
"Jangan tinggalin aku sendirian. Aku menyayangimu. Lebih dari apa pun. Jadi please, jangan turun."
Sontak Arif menikmati harum yang keluar dari mulut dan nafas fida karena wajah mereka yang berhadapan dan dengan jarak kurang dari 6cm.
"Kamu makan apa yang?"
Tanya Arif. Fida menjulurkan lidahnya yang atasnya sudah nemplok lampu teplok, eh, permen karet.
"Mau?"
__ADS_1
Tanya Fida. Arif menggeleng lalu berkata,
"Sudah ada kamu, aku takut diabet terlalu memandangi yang manis manis."
Tak sempat berkelit, wajah Fida sudah berubah seperti cepot.
"Hahaha, ada cepot cewek."
Ejek Arif. Fida hanya mendengus kesal seraya mencubit pipi Arif..
"Eeeemmmmmh, tah pengen dicubit hah?"
Tanya Fida cengengesan. Arif hanya memberikan pinggangnya bersiap-siap dicubit.
"Eeemmmmm, tapi enggak ah. Takut nangis. Hahaha."
Ejek Fida. Yang diejek hanya senyam senyum sendiri.
Tak lama dari itu, mereka tiba disuatu taman yang begitu asri di tengah kota Bandung. Jailin ah. Gumam Arif dalam Hati. Dengan cepat dan tanpa sepengetahuan Fida, label harga yang merekat di botol parfum baru fida kini sudah merekat dibotol kosong.
"Yang, terima ini. Mudah-mudahan kamu suka."
Fida yang melihatnya sontak berbinar dan mengambil botol itu. Ketika lihat label harganya,
"500000 rupiah? Nggak salah?"
Tanya Fida. Arif tersenyum dan mengangguk. Fida mencoba menyemprotkan parfum itu tapi kosong.
"Aaaaa, ayang kok kosong."
Tanya Fida tanpa sadar. Pak supir yang saat itu bertugas memvideokan mereka hanya tersenyum dan pura-pura merokok.
"Hahaha, sini kamunya makanya sayaaang."
Fida menghampiri dan sebuah pelukan hangat pun ia terima di badan langsingnya.
Bersambung biar penasaran.
__ADS_1