
Kulihat Fida makan dengan begitu lahapnya. Aku sampai ketinggalan darinya. Aku masih sisa setengah mangkok, sementara dia sudah tinggal kuah dan kerupuk ditangannya. Sampai tiba tiba:
"Bang, baksonya satu lagi. Uangnya ada di si Arif."
Teriak Fida begitu memmalukan.
"Siap neng."
Sahut abang bakso. Aku sampai tersedak ludah ku sendiri mendengar Fida berkata uangnya dariku.
"Fid, kamu nggak malu?"
Tanyaku.
"Nggak. Kan emang kamu yang mau bayarin aku."
Sahutnya sewot.
"Loh, siapa yang bilang aku mau bayarin kamu?"
Tanyaku lagi.
"Siapa suruh ajak aku kesini?"
Dia bertanya balik.
"Iya iya deh. Gimana kamu aja."
Akhirnya aku mengalah. Sementara itu Fida hanya tersenyum puas. Huh, dasar cewek. Gerutuku dalam hati.
Setelah beres makan baso, kami pun pulang dengan jalan kaki. Kebetulan jarak rumahku dan tukang baso tidak terlalu jauh palingan satu kilo meter.
Sesampainya dirumah.
"Assalamualaikum."
Aku dan Fida mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam. Masuk Fid Rif."
Sahut Ayah.
"Eh ayah, udah pulang?"
Tanya Fida.
"Ini mau ke kantor lagi."
Sahut ayah singkat. Sampai sekarang aku tidak tau kapan ayah mulai bekerja. Karena waktu itu aku sedang menemani Fida di rumah sakit. Itu ada di bab selama dirumah sakit.
"Oh, hati hati ya yah."
Sahut Fida lagi.
"Iya Fid, makasih."
"Ayah pergi ya. Assalamualaikum."
Lanjut ayah.
"Waalai,"
"Waalaikumsalam."
Potongku. Habisnya kesal daritadi aku tidak dikasih kesempatan untuk bicara. Semuanya di embat oleh sicantikku ini.
"Iiiiiiiiiih, jahat!!!"
Pekik Fida sambil mematutkan wajahnya. Kalau sudah begini, minta di cubit pipinya.
__ADS_1
"Habisnya kamu terus daritadi yang ngomong sama ayah."
Sahutku tak kalah cemberut.
"Yasudah, ayah pergi dulu ya nak."
Pamit ayah.
"Iya yah hati hati."
Sahutku dan Fida berbarengan.
Keesokan harinya.
Pagi pagi sekali aku sudah siap dengan seragam olahragaku. Aku segera membangunkan Fida agar segera bangun dan mandi. Setelah mandi, lalu ia pun mengenekan baju yang sama denganku. Rambutnya ia ikat menjadi satu seperti buntut kuda. Setelah sicantikku ini selesai, lantas aku pun mengeluarkan sepeda dari dalam garasi.
"Ayo cantik. Cepetan."
Ujarku ke pada Fida yang masih menalikan tali sepatu.
"Ayo, udah be,"
"Udah. Cepetan maju."
Tiba tiba saja Fida sudah duduk diatas jok belakang sepedaku dengan tangan kanan membekap mulutku.
Aku lantas menggowes sepeda dengan santuy tidak keburu buru. Fida pun melepaskan bekapannya dari mulutku.
"Huh, heh, heh, heh, akhirnya, aku bisa bernapas dengan lega."
Ujarku pada Fida. Fida dengan kerasnya mencubit pinggangku.
"Auu."
Keluhku.
Sampai jam pulang pun tiba. Aku tak langsung pulang, melainkan aku dipanggil oleh pak Doni selaku kapolsek menuju ruangan CCTV yang terletak di ruang guru. Biar aku jelaskan ya, jadi ruangan guru ini mempunyai lebar kurang lebih 6 meter dan panjang kurang lebih 10 meter. Ada satu ruangan yang berbentuk persegi empat kurang lebih 4 kali 4 meter. Di ruangan ini sudah ada beberapa polisi dan salah seorang wakasek.
"Siang pak"
Sapa ku saat aku sudah ada diambang pintu.
"Siang nak. Mari masuk"
Perintah Pak Doni yang pasti ku turuti. Aku pun masuk dengan Fida yang tak mau lepas dari pundakku.
"Baik pak, lalu apa tugas saya sekarang?"
Tanyaku.
"Kamu tinggal memastikan rekaman ini. Kalau bisa, di ambil foto untuk bukti yang lebih jelas untuk keputusan besok."
Jelas pak Doni panjang lebar.
"Oh baik pak."
Aku lantas mengambil beberapa foto dari layar monitor dengan kamera Handphone ku. Setelah serasa cukup, lalu aku memperlihatkannya kepada pak Doni.
"Ini pak, apakah sudah cukup?"
Tanyaku.
"Emmm, sudah dek."
Sahut pak doni setelah melihat beberapa foto yang ada di galeri handphone ku.
Setelah itu, aku pun izin pamit pulang karena aku ingin memberikan sesuatu untuk Si cantik.
"Tugasmu sudah selesai dek, sekarang mau pulang, boleh. Masih betah di sini, silahkan."
__ADS_1
Pak doni langsung bicara seperti itu sebelum sempat aku meminta izin untuk pulang.
"Oh baik pak. Saya pamit pulang. Selamat siang."
Pamitku yang dibalas anggukan kepala dari beliau.
Aku melangkah menuju gerbang dan mengambil sepeda dengan Fida yang langsung duduk diatas jok belakang.
Tanpa pikir panjang, aku memacu sepedaku menuju salah satu toko emas yang ada di kotaku.
"Loh, kita mau kemana?"
Tanya Fida.
"Ssstttt. Diem aja."
Sahutku. Fida pun menurut. Dijalan, aku bertemu dengan Nanang dan Ari.
"Eh bro, cieee. Berduaan aja nih?"
"iya. Ehem ehemm."
Sahut Nanang saat Ari mulai mengejekku.
"Iya nih Ri. Kamu dari mana? Mana sama si angry brut lagi."
Tanya Fida.
"Hhhhhh, hahhahaha, angry brut. Hahahaha. Angry brut."
Ari terpingkal pingkal.
"Aduh, bird woy. Bukan brut. Hahahaha."
Nanang ikut menimpali.
"sudah sudah."
Aku mencoba meleray ejekan mereka.
"Kenapa sih lu, bela banget sama si kecoa mateng."
Ari makin menjadi jadi.
"Iya."
Timpal Nanang.
"Apa kamu bilang?"
Plak. Aku menampar pipi mereka berdua.
"Aduh aduh, ampun boss."
Ujar mereka sambil memegangi pipinya yang memerah.
"Sudah ya, kami pamit dulu"
Sahut Nanang sambil menarik tangan Ari.
Ketika kulihat, Fida nampak menangis di jok belakang.
"Udah yang, jangan nangis. Antepin aja."
Apa, aku keceplosan bilang sayang ke Fida.
Fida nampak tersenyum sekarang. Dan kami melanjutkan perjalanan.
Bersambung
__ADS_1