
Sesampainya di kantor polisi, orang tua Rahmat dan korban yang menjadi pelecehan itu pun segera disidang di ruangan khusus.
"Selamat siang bu."
Sapa seorang polisi senior.
"Si si siang pak."
Jawab ibu Rahmat gugup.
"Ini sudah ada bapak hakimnya, silahkan untuk saksi menjelaskan kejadian yang telah dilakukan."
Ujar pak polisi itu kepada pak kepsek yang saat itu ikut serta untuk menjadi saksi.
"Baik saya akan menjelaskan semuanya dan juga saya akan memberikan bukti yang ada. Saya rasa cukup untuk buktinya."
Sahut pak kepsek.
Flashback. Pak kepsek pov.
Saat itu aku sedang duduk sambil menatap buku data data siswa baru yang baru saja aku terima. Aku sempat mendengar suara suara teriakan, cacian, makian, umpatan, dll dari kaka kelas dari anak baru tersebut. Jujur, aku tidak bermaksud untuk menyiksa murid murid yang ku cintai dan ku banggakan ini. Aku mengadakan aktivitas ospek ini untuk menguatkan mental anak baru. Aku tak sangka bahwa akan ada kejadian yang seperti ini menimpa salah satu anak baru di sekolah yang ku pimpin selama ini. Disaat aku sedang fokus menatap buku data data siswa tersebut, aku dihampiri oleh salah satu murid baru.
"Permisi."
Salam anak itu.
"Iya silahkan nak. Ada apa?"
Sahutku.
"Pak, telah terjadi pelecehan kepada saya."
Ujar anak itu to the poin.
"Apa?"
Aku terbelalak mendengarnya. Lantas anak itu memberikan bukti bukti yang jelas kepadaku. Sirahmat memang kurang ajar. Batinku.
"Baik, terimakasih bukti dan laporanya."
__ADS_1
Ujarku dengan muka memerah.
"Bagaimana kalau saya melaporkan ke polisi?"
Tawar anak itu kepadaku. Aku yang sudah kesal, menyetujui tawaran anak itu.
"Mau gimana sistemnya?"
Tanyaku dengan raut wajah yang nampak tertarik.
"Boleh saya minta data kak Rahmat?" Ujar anak itu. Lalu aku pun menuliskan alamat lengkap rahmat.
"Ini nak."
Ujarku setelah menuliskan alamat anak nakal itu. Lalu anak itu permisi sambil menyalami tanganku. Aku pun izin untuk tidak masuk kerja saat ini karena aku yang sudah jadi saksi makanya aku ada di kantor polisi ini. Aku pun siap siap dan berangkat ke kantor polisi.
Pak kepsek pov end. End of flashback.
"Jadi begitu, baik lah. Apakah ada buktinya?"
Tanya pak hakim.
Aku lalu merogoh hp dan menunjukkan beberapa video porno yang dilakukan oleh Rahmat. Tak lupa juga, aku perdengarkan juga audionya.
"Baik, bukti sudah jelas, dan terpaksa, ananda Rahmat kami tahan selama tiga hari untuk kami selidiki."
Ujar pak hakim.
Selama tiga hari itu, dihari pertama akan dilakukan olah TKP, hari ke dua dilakukan pengecekan kamera CCTV. Dan hari ketiga, keputusan Rahmat.
Hari ke satu: Para pihak kepolisian berbondong bondong menuju smp NN yang terjadi keributan tak wajar tersebut.
Author pov.
Pak Doni selaku kepala kepolisian sudah datang pertama dengan dua anak buahnya. Lalu disusul dengan anggota kepolisian lainya. Disini pak Doni sengaja tidak memanggil wartawan untuk di shoot karena takutnya tidak ada lagi murid yang mau bersekolah disini lagi.
"Bagaimana pak Doni? Apakah sudah siap?"
Tanya pak kepsek yang sedari tadi hanya mondar mandir tak karuan.
__ADS_1
"Sudah pak, kami sedang menunggu dek Arif dan dek Fida."
Ujar pak Dani. Tak lama kemudian, Arif dan Fida pun datang. Dan mereka mulai melakukan olah TKP. Setelah selesai, Arif mengajak Fida untuk berkeliling sekolah untuk mengecek apakah ada yang rusak, atau yang lainya gitu?
Author pov end.
Sambil berkeliling, aku sesekali merangkul Fida yang nampak masih trauma karena syok.
"Fid, cantik, kamu nggak apa apa kan?"
Tanyaku khawatir padanya.
"Eng, enggak kok rif."
Sahutnya sedikit tergagap. Aku memiliki tinggi badan sekitar 165cm dan sementara Fida mempunyai tinggi badan 163cm. Jadi tidak perlu repot untuk merangkul atau menggandengnya.
Setelah puas berkeliling, kami pun kembali ke lapangan yang sudah dipenuhi oleh polisi.
"Bagaimana nak? Apakah aman?"
Tanya salah satu polisi.
"Aman pak. Alhamdulillah."
Sahutku. Tak lama kemudian, lalu kami disuruh pulang. Dari pada langsung pulang, mending ajak Fida makan bakso di depan toko boneka langganannya.
"Eh cantik, kamu mau nggak makan baso dulu? Itu loh, didepan toko boneka langganan kamu."
Tawaranku nampaknya berhasil menarik senyum dari bibir tipisnya.
"Ayo."
Sambarnya singkat.
Lalu kami berjalan menuju gerbang dan menunggu angkot saja untuk pulang. Setelah angkot datang, kami pun masuk kedalam angkotnya. Selama di perjalanan, Fida nampak menguap berkali kali. Dan untungnya jalanan tidak macet sehingga dalam waktu 5mnt kami sudah berada di depan tukang baso itu.
"Kiri kiri kiri mang."
Teriakku agar terdengar diantara penumpang yang sedang tertawa keras sambil berbincang. Angkot pun berhenti. Kami pun turun dan segera masuk ke dalam lapak tukang baso lalu memesan dua mangkok baso.
__ADS_1
Bersambung.