MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
Jail


__ADS_3

Setelah di rumah, aku termenung dan duduk sendiri. Ayahku belum pulang kerja, ibu masih sibuk untuk mengurus persyaratan untuk pulang ke negri rantauannya. Surat apa itu, aku tidak tau pasti. Tinggal menghitung hari menjelang keberangkatan ibu ke luar negri. Aku hanya bisa pasrah melepas ibuku kembali. Toh beliau begini untuk membantu ayah dan memenuhi semua kebutuhan keluarga kami. Aku duduk di ruang tamu sambil menatap layar ponsel yang begitu terasa membosankan. Daripada aku diem terus, mending jalan jalan pake sepeda. Aku lalu menentukan kemana aku harus pergi. Setelah terbayang aku akan kemana, aku melangkah menuju pintu dan aku keluar lalu menguncinya. Lanjut berjalan menuju garasi untuk mengambil sepeda. Aku naiki sepeda kesayanganku, lalu aku kayuh menuju warung tempat nobar Persib langgananku. Sesampainya diwarung, aku lalu memesan teh manis botolan dan satu botol air mineral untuk persiapan dijalan. Setelah semua beres, kukayuh kembali menuju komplek perumahan Fida. Sedikit ragu begitu aku hampir dekat dengan rumahnya. Lewat jangan yaa. Pikirku. Aku akhirnya memutuskan untuk lewat namun dengan kecepatan yang sangat sangat tinggi. Satu, dua, dan, kukayuh sepedaku secepat kilat. Aku lihat ia ada dihalaman rumahnya sedang menyiram tanaman. Kuputuskan untuk menjailinya dengan lemparan batu. Ku parkir kan sepeda lalu kuambil kerikil dan,


"Au. Siapa?"


Kudengar teriakan suara cempreng miliknya. Aku terkikik geli sambil terus bersembunyi dibalik pohon. Kuambil lagi batu krikil dan,


"Au. Iiiih, siapa sih? Jangan nakut nakutin deh."


Kudengar getaran dari suaranya yang hampir mau nangis. Lutut dia naik turun sepertinya dia gemetaran. Huh, dasar cewek. Segitu aja udah mau nangis. Gumamku. Kulakukan hal yang sama hingga beberapa kali.


Fida pov.


Kuletakan sejenak alat penyiram bunga milik ibu di kakiku. Aku lihat kesekitar nampak tidak ada siapa siapa. Jujur, dibenakku aku kepikiran terus Arif. Sayang, dia tidak tau bahwa aku lagi nge test dia seberapa pedulinya dia sama aku. Mana chat nya di blok lagi sama aku. Aku takutnya dia benar benar marah dan dia menyuruh pasukannya untuk mencelakaiku. Kembali terasa hantaman batu di kepalaku. Aku menangis karena takut dan aku iseng iseng menyemprotkan air ke arah pohon yang menurutku mencurigakan. Kunaikan volume tekanan air, dan ku semprotkan kearah yang dimaksud. Awalnya tidak terjadi apa apa, kucoba kembali. Tetap. Hasilnya nihil. Daripada aku disini ketakutan, aku lebih baik lari menuju belakang rumah.


Fida pov end.


Aku terus terkikik geli sambil kembali menaiki sepeda. Kini kukayuh sedikit lambat. Setelah keluar komplek, aku berikutnya menuju jalan raya. Dijalan aku bertemu dengan kak Haikal.


"Woy!"


Sapanya.


"Hm."

__ADS_1


Sahutku. Kami memang sudah dekat sehingga cuek.


"Mau kemane lu?"


Tanyanya lagi.


"Ke kantor pak Doni. Bokap lu."


Sahutku lempeng. Dia menyamakan kecepatan sepedanya dengan sepedaku.


"Mau ngapain emangnye?"


Tanya Kak Haikal lagi.


"Kepo lu."


"Tunggu, gue ikut."


Teriak Haikal ketika agak jau denganku.


"Iye. Makanya cepet lu. Jangan banyak ngomong."


Sahutku. Khirnya kami pun bisa menyamai keccepatan sepedaku.

__ADS_1


"Jangan ngebut ngebut nape si?"


Keluhnya. Aku hanya terkikik sambil melambatkan laju sepeda. Aku sebenarnya nggak bener bener mau ke pak Doni, tapi aku hanya menjaili haikal. Setelah dekat, aku dengan cepat membelokan sepeda ke jalan menuju komplekku. Haikal yang menyadari hal itu spontan membanting sepeda kearah tembok.


"Ka.p..t lu!"


Ledeknya dengan tangan yang berdarah.


"Sukurin lu, siapa suruh banyak ngomong?"


Dia hanya melotot marah kearahku.


"Kalau bukan sahabat gue, udeh melayang nyawalu."


Teriaknya. Namun siapa sangka pak Doni hadir dan mendengar perkataan anaknya.


"Kaaaal?"


Tegurnya.


"Puas."


Teriakku sambil meloyor pergi menuju rumah. Tanpa memperdulikan lagi haikal aku melajukan sepeda dengan santai. Aku berhenti sebentar, aku minum air yang sudah ku beli tadi. Setelah minum, aku segera menuju ke rumah. Sesampainya dirumah sudah ada ayah yang baru datang.

__ADS_1


Bersambung.


Udah dulu ya, keyboardnya udah nggak bisa diajak untuk berkompromi lagi. Keyboard author eror. Good by


__ADS_2