MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
MENCOBA MENGUNGKAP. SIAPAKAH MEREKA?


__ADS_3

Pak Doni pov.


Ketika pasukan anak buahku datang, kami langsung meringkus ketiga preman brandalan ini. Perlahan tapi pasti, aku yakin 7 sisanya akan ketangkap. Aku memberikan kode yang tidak bisa difahami oleh orang awam untuk memerintahkan anak buahku untuk segera masukan kedalam mobil. Mobil pun melaju. Dengan aku yang menjadi sopirnya. Jujur, ini diluar jam kerjaku. Namun sebagai kepala polisi yang baik, tentu aku harus memberikan contoh yang baik kepada anak anak buahku, juga masyarakat. Ketika sampai dikantor, salah satu anak buahku menyeret ketiga brandalan itu menuju ruangan khusus untuk introgasi. Dan setelah terkumpul apa yang menjadi bahan bukti serta identitas pelaku, dari 10 orang itu 3 diantaranya berasal dari Jakarta. 7 lainya orang Bandung asli. Diketemukan juga ada kartu jack mania yang menandakan bahwa ia juga seorang anggota suporter Persija. Ini tidak terlalu penting bagiku, tapi ini juga menjadi pelengkap sebagai pengumpulan data.


Pak Doni pov end.


Setelah selesai makan, satu persatu anak anak gengku pun pulang. Termasuk kak Ika.


"Hayu ah."


Pamit kang Fauzan. Disusul Bintang. Juga yang terakhir Haikal.


"Bro, besok kan nyokap lu berangkat lagi ke luar negri, besok gue kesini ye. Buat nemeninlu. Sesuai janji gue minggu lalu."


Kata Haikal sambil menepuk nepuk bahuku.


"Nuhunnya. Makasi banget."


Kataku sambil tersenyum.


"Iye, gue balik dulu ye."


Dia berjalan menuju luar.


"Iye, ati ati."


Kataku. Yang tersisa hanyalah kakaku yang paling author ku sayang. Siapa lagi kalau bukan kak Indah? Hahaha.


Author. Stop, stop, stop. Apa apaan ini Rif? Jangan aneh aneh lu.


Arif. Hehehe. Maaf tor.


Author. Sok lanjut.


Terus ada Fida, Ari, juga Nanang. Seperti biasa, Ari dan Nanang ini selalu nyari gara gara.


"Au, ih. Diem kamu!."


Tiba tiba saja aku mendengar Fida berteriak. Aku reflek melotot kearah dua anak preman ini.


"Naon popolotot?"


Apa melotot? Tanyanya.


"Naon, siah kabogoh aing dinaonkeun?"


Apa kamu? Pacarku diapain? Tanyaku.


"Hente, ngan di tusuk hungkul ku Garrpuh,"


Enggak, cuma ditusuk doang pake garpu. Aku terperanjat kaget.


"Naonna?"


Apanya? Kataku yang mulai naik pitam. Tanpa Arif sadari, ibu dan ayahnya memperhatikan dari arah ruang tengah.


"Ditojos tonggongna kuaing. Paeh paeh lah."

__ADS_1


Ditusuk punggungnya. Mati, matilah. Ujarnya santai.


"Gob..g siah!!!"


Bere..sek kamu!! Kataku emosi.


"Hahaha."


Dia malah tertawa. Kakaku Indah berdiri dan, plak. Tamparan pedas mendarat dipipi kiri Nanang. Disusul Ari.


"Udah!! Udah!! Udaaaah!!!"


Teriak kaka dengan emosi.


"Sia mun hayang gelut jeung urang kadieu, dasar bang.at!"


Maki ku. Kalau mau, berantem sama saya sini. Dasar bang.at. Ketika satu kepalan tangan meluncur kearah wajahku, kak Indah berdiri didepanku untuk melindungiku. Alhasil tonjokan itu mengenai batang hidung kakaku itu. Tanpa banyak basa basi, aku menghempaskan tubuh langsing kakaku kearah luar dan aku menonjok balik wajah kedua sampah ini.


"Pantes weh maneh di bawa ku preman da siana oge kalakuanna kawas preman. Si Pida teu salah nanaon, jol jol ditojos. Dasar anj.ng!!!"


Pantes saja kamu dibawa sama preman, da kelakuannya juga kayak preman. Si Fida nggak salah apa apa, tiba tiba ditusuk. Kataku dengan penuh emosi. Disaat yang sama kedua orangtuaku turun dan melerai kita.


"Sudah!!! Arif, nanang!! Ari!!!"


Ujar ayah dan ibu bersahutan. Aku berhenti.


"Kalau masih seperti ini, kalian berdua tidak boleh datang lagi kerumah ini. Mulai sekarang, angkat kaki kalian dari rumah ini. Sekarang."


Kata ayah dengan penekanan di kata terakhirnya.


Makan kamu!! Kataku. Di bagian kata kasar sengaja di sensor. Kedua sampah ini pergi dan orangtuaku terus bersungut sungut memaki kedua berandalan itu.


"Kamu nggak papa?"


Tanya kami serempak. Kami pun tertawa.


"Aku baik om."


Kata Ka Indah.


"Ak, aku juga om."


Kata Fida.


"Arif juga yah."


Kataku. Dan beliau pun segera menarik kami bertiga untuk diobati. Untung saja punggung Fida tidak terlalu dalam. Sehingga tidak perlu dibawa ke RS. Ayah dan ibu mengobati luka Fida, sementara aku mengobati kakaku tersayang. Diantara usapan lembutku yang mengelap darah dari hidung kak Indah, aku berfikir. Hmm, cantik juga ya kakakku ini. Pantes aja author nya suka. Hahaha.


Author: Apa tadi rif? Coba bilang lagi?


Arif: Eh, eng, enggak tor. Maaf.


Hadeuh, kok bisa baca fikiran ya? Fikirku. Aku pun segera menuntaskan pekerjaanku.


"Ka, kakak nggak papa kan?"


Tanyaku khawatir.

__ADS_1


"Eng, enggak kok dek. Cuma mimisan doang."


Sahutnya. Meski pun dia dalam keadaan mimisan, tapi kecantikannya tetap terpancar dari wajahnya.


"Hmmm."


Tiba tiba saja Fida mendeham. Aku menoleh.


"Apa say?"


Tanyaku.


"Kamu suka ya sama kak Indah?"


Tanyanya sewot.


"Ih, siapa juga yang suka. Hatiku hanya milikmu."


Kataku keceplosan.


"Heh, diajar heula siah! Bobogohan wae."


Tegur ayahku.


"Hehe iya yah."


Kataku malu. Kami pun saling terkikik geli. Sungguh, keluarga yang bahagia. Fikirku.


Pak Doni pov.


Aku segera mengarahkan ketiga pemuda brandal ini menuju sel tahanan. Aku akan menjatuhkan hukuman 6 taun penjara. Setelah selesai, aku tak lupa memantau CCTV terlebih dahulu diruanganku sambil siap siap untuk pulang. Tak lupa aku membawa berkas mengenai data komplit tersangka. Set elah semua dirasa aman, aku menitipkan ruang CCTV kepada salah satu polwan yang juga menjadi anak buahku. Aku segera meninggalkan kantor dan kembali menuju rumah Arif untuk sekedar berpamitan. Sesampainya dirumah Arif, aku ketuk pintu yang langsung dibukakan oleh Indah.


Pak Doni pov end.


"Eh pak, silahkan masuk."


Sapaku ketika melihat pak Doni didepan pintu.


"Nggak usah, tolong bilangin aja ke Arif dan keluarga bapak langsung gitu yah. Dan maaf juga tadi nggak berpamit dulu karena ada kerjaan mendadak mengenai geng motor itu."


Jelas beliau panjang lebar.


"Oke, baik pak."


Kataku sambil hormat.


"Tah kitu. Bapa uih heulanya. Assalamualaikum."


Pamitnya. Nah gitu. Bapak pulang dulu ya, Assalamualaikum.


"Iya pak, hati hati. Waalaikumsalam."


Sahutku sambil menutup pintu.


Bersambung. Note author.


Jika dikata kasar disensor saya harap untuk tidak mencari tau artinya ya guys. Kenapa? Karena diadegan ribut kalau tidak menggunakan kata kasar rasanya hambar. Jadi saya harap tidak dicari tau. Terimakasih semua.

__ADS_1


__ADS_2