MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
Back To Story


__ADS_3

Setelah dari kejadian itu, entah mengapa ada perasaan yang begitu mendorongku untuk supaya cepat cepat nembak Fida. Tapi apalah daya, aku dan dia hanya sahabat, dan yang lebih tidak mungkinya lagi, umurku baru 13 tahun, sementara ka Raka dan kak Indah itu udah 15 taun. Mana mungkin bocil sepertiku pacaran? Aku hanya bisa menunggu 2 taun lagi. Lama memang, tapi gapapalah. Toh author nya juga masih jomblo dan masih belum rezeki untuk cewek yang nyamperin. Hahaha. Sekedar promosi, author ku menciptakan beberapa lagu yang pertama, Babaturan Impian, yang kedua, Takkan terpisah oleh jarak, yang terakhir yaitu, efek jomblo. Bagi kalian yang mau denger lagu lagunya, boleh komen aja. Oke, back to story. Meskipun harus menunggu dua taun lagi, tapi aku ke fida kan tetap selalu sayang dan dia masih yang terbaik untuku. Lebay lah. Hahaha. Tapi memang begitu. Sedang asik asik melamun, tiba tiba, "Dar, ngapain kamu?" Tanya Fida yang begitu mengagetkan. "Eh kamu. Ngapain kesini?" Tanyaku. "Ngapain ngapain. Ya ketemu kamu lah." Sahutnya sewot. Suara cemprengnya itulah yang membuatku semakin dakdikduk menahan ini. rasa. "Ooooh." Sahutku acuh. "Ah ah oh oh. Gua gamparlu ya." Ujarnya emosi. "Kesel dah, udah ah, gua mau kesana dulu. By. Wllleee." Dia menjulurkan lidahnya kepadaku dan dia mau ngeloyor namun aku menarik tangannya sedikit kasar. "Aaaaauuu. Sakit, bego." Dia dengan masih nada tingginya kembali membentakku. "A, ampun tuan putri." Kataku seraya mengusap kembali lengannya yang kutarik. "Lepasin! Ngapain pegang pegang?" Ada raut tersipu malu yang tergaris diwajah cantiknya namun aku yakin, dia menahan itu. Uh, lucu sekali nih cewek. "Sayang, mau minum nggak?" Tanyaku lembut. Kini benar benar tidak bisa dibohongi lagi, wajahnya memerah, dan dia kembali menutupinya. "Ja, jangan, hehehe. Ja," Dia tergagap. "Apaan sih? Gaje kamumah. Tadi marah marah, sekarang ketawa ketiwi." Kataku. "Ehh, aku, aku, aku, aku aku mau" Dia tetap tergagap. "Mau apa wahai anak bidadari?" Aku mencoba menggombal. "Ahh, aku, mau, mau mau," Rasa gemasku tidak bisa dibendung lagi, akupun melayangkan cubitan kecil ke pipi putihnya. "Au." Pekiknya. "Aku, mau, kamuuu. Hahaha." Dia ternyata mengerjaiku. "Ayo kejar sini, hahaha. Ea, ea, ea. Wllleeeee." Dia kembali menjulurkan lidah mengejek. "Lama lama gua potong lidahlu yah." Umpatku. Dia bukanya sakit hati, tapi dia makin tertawa dan terus mengajakku bermain kejar-kejaran. Dengan terpaksa, aku mengejarnya. Uh, sangat sangat memalukan. "Hayoh, beunang. Hahaha." Kataku sambil menangkap tubuh mungil Fida. "Heh, heh, heh, heh. Kenapa sih harus kenaaa? Aaaaah." Dia dengan nada manja mencubit lenganku. Aku hanya bisa tersenyum dan dia tersipu malu. "Eh, pak Doni kemana ya?" Tanyanya. "Nggak tau, udah lama juga beliau nggak main main kerumah." Sahutku. Aku menggandeng tangan putih Fida menuju warung yang tak jauh dari tempat kami bercanda. "Ki, kita mau kemana?" Tanyanya. Aku tidak menjawab dan terus menggandengnya lembut. "Stt, kita mau ke," Aku mendudukan dia dengan lembut diatas bangku yang ada di warung itu. "Mau minum apa Fid?" Tanyaku seraya mengelap keringatnya dengan tisu. "Ehh, jejangan, hehehe." Dia semakin tersipu. "Iihh, jangan, hihihi." Aku sedikit tak menghiraukanya dan langsung saja aku kipasi dia yang kepanasan. "Au, udah, jejangan," Aku memotongnya. "Jangan jangan. Jangan apa sih?" Kataku. "Ehh, eng, anu, nggak papa." Wajahnya memerah seperti cepot. Ni anak kenapa sih? Daritadi cuma jangan, jangan, jangan, jangan aja. Gumamku dalam hati. "Udah, cepetan mau minum apa?" Tanyaku lagi. "Emmm, aku, aku mau teh manis botolan aja. Itu tuh," Dia menunjuk botol kemasan teh manis. Aku mengambilkannya dan membukakannya lalu menempelkan kemulutnya, dan dia menggenggam sendiri botol itu. "Ma, makasih ya." Dia berujar dengan rona merah di pipinya. Aku tau dia salah tingkah. "Fid, aku maunanya." Kataku. "Apa?" Dia meletakan botolnya. "Asal kamu darimana?" Tanyaku lagi. "Mmm, dari Bandung lah. Kayak nggak tau aja." Sahutnya. "Ooh, dikirain dari hati aku." Sudah, tidak bisa ditahan lagi, dia sekarang menjadi klu dan tidak bisa bergerak karena malu. Aduh, rif, jangan sekaraaang. Batin Fida dalam hati. Tau aku itu suka sama kamu, tapi kenapa kamu kayak gini? Gombalin aku ditempat yang nggak pas. Dia kembali tersenyum sendiri. "R, rif, u, heheh. Udah ya, aku nggak kuat lagi." Ujarnya semakin salting. Kuberanikan untuk merangkulnya dan sedikit memainkan rambutnya. "Berhasiiil." Kataku. "Ih, kok kamu perhatian banget sama aku?" Tanyanya. "Ya, karena aku, sayang sama kamu." Loh, apa apaan ini? Aku ngomong apa sih? "Kalau boleh jujur, aku juga begitu rif." timpalnya. Aku tersedak ludahku sendiri. "Nih, minum dulu." Aku meraih kemasan teh manis itu dan meminumnya. "Teh ini makin manis karena sudah diminum oleh kamu." Gombalku. Lagi lagi dia hanya tersenyum dan tanganya mulai berani untuk balik merangkulku. Ups, maaf ya tor, jangan iri. Iri, bilang boss. Udah, skip. Aku yang dirangkulnya menjadi semakin kikuk ditambah hidungku menghirup wangi parfumnya yang begitu soft dan wangi. Entah apa nama parfumnya, namun yang jelas wangiiii banget. Krruuueeekkk. "Heh, suara apa itu?" Tanyaku. "Ehh, emmm, anu, aku, aku aku lapar. Hehehe." Dia mengusap perutnya. Tanpa babibu lagi, dengan cekatan aku berdiri dan langsung berlari meninggalkannya sendiri. "R, rif? Tu tunggu. Aaaa. Riiiiiiiiif!!" Dia menjerit dan seperti mau menangis. Tanpa mempedulikanya, aku belok ke tukang baso lalu memesankanya untuk tuan putri yang begitu istimewa dihatiku. "Bang, basonya satu porsi, pedesnya dikit, cukanya dikit, nggak pake mie, kecapnya agak banyak tapi jangan giung." Aku memesan. Setelah siap, aku membayar dan langsung ngeloyor pergi kembali kewarung. "Kamu darimana? Hix." Fida sedikit terisak. Kalau lagi pengen dimanja memang begitu diamah. "Ini, makan dulu. Jangan ngosongin perut, ya." Aku menuangkan baso ke mangkok yang dipinjamkan oleh ibu warung. "Makasih ya." Dia kembali kelu dan tidak bisa bicara lagi. "Aku nggak mau kamu sakit, fid." Kataku sambil membelai rambut panjangnya. Dia menangis dan dia menghentikan acara makanya, kini dia memeluku. "Hix hix, makasih banyak ya rif. Hix. Aku nggak tau lagi harus membalas kebaikan dan perhatianmu gimana lagi. Hix hix. Huuuuu." Mulai histeris permisa. Ujarku dalam hati. Aku membalas pelukanya dan aku mengelap airmata yang membanjiri pipinya. "Nggak usah ngomong kayak gitu, aku tulus melakukan ini semua untuk kamu." Kataku tersenyum. "Huuuuuu, hix hix." Dibalas dengan tangisan. Tanganya bergetar, badanya berkeringat, dan rambutnya acak acakan. Untung aku membawa sisir dan aku melepas pelukanya lalu aku beralih menuju rambutnya. Lagi lagi aku mengelap keringatnya dan aku membantu merapikan rambutnya. "Udah, makan lagi gih." Kataku seraya menyerahkan mangkok baso itu. "Mau disuapin?" Aku menggoda. Dia menggeleng cepat dan langsung saja merebut sendok garpu itu daritanganku. Aku menunggu dia beres makan dan sambil menunggu, aku kembali mengipasinya. Dia nampak sss, senyam senyum sendiri. "Jangan senyam senyum hei, nanti kamu ada yang nyulik loh, kan kamu udah jadi milik aku. Haha becanda." Kataku. Tanpa disadari ternyata kata kata arif itu menyerap kehatinya. Dia kembali tersenyum dan segera menghabiskan sisa basonya. "Eh iya, kamu nggak makan?" Tanyanya. "Dengan melihat dirimu makan saja pun sudah membuat aku kenyang kok. Apa lagi ada senyuman yang terpancar dibibirmu." Lagi lagi entah berapa kali dia menampilkan rona merah dipipinya. "Tau nggak rif, hari ini kamu udah membuatku salah tingkah dan malu tau nggak?" Katanya sedikit meninggikan suaranya. "Emangnya kenapa sayang? Nggak boleh aku gombalin kamu?" Aku balik bertanya. "Boleh. Hehehe." Dia melingkarkan kedua tanganya ke lenganku dan dia bersandar ke pundakku. Bersambung.


__ADS_2