MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
9. Hari Ketiga Dari penyerahan Bukti


__ADS_3

Setelah membuat Fida tersenyum, lalu kami melanjutkan perjalanan. Ketika hampir sampai, kurang lebih 300 meter kedepan aku menyuruh sicantik untuk menutup matanya.


"Cantik, tutup mata kamu coba, please."


Perintahku dan langsung diturut oleh Fida.


Setelah aku memarkirkan sepedaku di pelataran parkir toko emas, aku pun menuntun Fida untuk masuk ke toko emas tersebut. Tak lupa aku mencubit pipi kurusnya.


"Au."


Pekik Fida. Aku hanya tersenyum dan terus menuntun Fida kedalam. Setelah didalam, lalu aku mencari kalung dan cincin yang pas untuk Fida.


"Ntik, buka matamu."


Perintahku dan langsung diturut oleh Fida. Ketika dia buka mata,


"Haaaaaah, apa ini?"


Jerit Fida tak percaya.


"Ini untuk kamu. Bukan cincin untuk tunangan ya, gila aja kamu. Kita kan baru kelas 1 SMP. Ini hanya untuk tabunganmu aja."


Jelasku kepadanya. Dan Fida hanya tertunduk haru sambil perlahan menyeka air matanya dengan kasar.


"Ma ma makasih ya Rif."


Ujar Fida sambil memalingkan muka karena malu.


"Udah ah, yuk kita bayar."


"Tunggu, cocok nggak sama kamu?"


Tanyaku seraya menghentikan langkah.


"Cocok kok Rif, aku suka. Bentuknya juga lucu, terus warnanya juga pas sama kulit aku."


Ujarnya.


"Iya cantik. Yuk kita bayar."


Aku mulai menggandeng Fida.


"Kalung seberat 2 gram dan cincin seberat 1 setengah kilo gram. Total 2 juta rupiah."


Aku menarik uang dari dompetku untuk membayarnya.


"Terimakasih."


Ujar Mbak kasir. Aku pun hanya mengangguk. Setelah naik sepeda, Fida terus mengamankan kalung dan cincinnya di balik kertas yang ada di tasnya.


"Ka kamu dari mana uang itu?"


Tanya Fida.


"Ini uang tabungan aku, dan memang sudah dipersiapkan untuk kamu."

__ADS_1


Jawabku.


"Tapi ingat, jangan sampai ortu kamu tau. Ini khusus buat tabunganmu aja."


Lanjutku.


"Ma, maksudnya tabungan apa?"


Fida bertanya lagi.


"Kalau kamu pengen apa apa yang mahal, atau apa pun itu, kamu bisa gunakan emas ini dengan cara menjual atau menggadainya jika kamu tidak ingin melepaskan emas ini."


Terangku panjang lebar.


"Ya ampuuuun, makasih ya Rif, kamu memang sahabat aku yang paling baik."


Sahut Fida sedikit berkaca kaca.


"Iya sama sama cantik."


Jawabku lagi.


"Aku, aku, aku aku nggak akan menjual kalung dan cincin ini."


Ujarnya lagi.


Sesampainya di rumah, aku langsung bersih bersih dan makan siang. Setelah itu, aku menuju kamar untuk beristirahat. Tak terasa, aku mulai terlelap. Tak sadar, aku lilir bangun pukul 20:00. Aku segera beranjak menuju kamar mandi lalu aku cuci muka dan setelahnya aku melangkah menuju meja makan. Disana sudah ada Fida, ayah dan Beberapa piring diatas meja. Kami pun makan tanpa banyak bicara. Setelah makan, aku kembali menuju kamar untuk melanjutkan tidur.


Keesokan harinya, aku bangun dengan dikagetkan oleh bunyi handphone ku. Setelah dilihat, ternyata itu dari mamanya Fida.


Sapa ibu Fida dari sebrang sana.


"Iya, halo bu. Ada apa?"


Sahutku.


"Tolong tanya ke Fida, apakah dia mau pulang kapan, nggak enak terus terusan nginep di rumah kamu."


Ujarnya.


"Oh oke. Tapi bu, jujur buat Arif mah Fida ada disini nggak ganggu kok. Justru Arif seneng kalau arif ada temen."


Sahutku.


"Oh, begitu, yasudah nggak usah sampein ke Fida jika memang dia nggak ngeganggu ke keluarga kamu."


Sahut beliau lagi. Setelah itu, aku lantas menaruh handphone diatas meja lalu tidur lagi karena waktu masih menunjukan pukul 05:05. Namun lagi lagi aku terbangun dikala aku mendengar suara nada dering handphone ku lagi. Setelahku lihat, ternyata dari pak Doni.


"Pagi pak,"


Sapaku.


"Pagi. Begini dek Arif, bapak ingin meminta waktumu bersama Fida untuk menemui bapak dikantor polisi."


Terang pak Doni panjang lebar.

__ADS_1


"Oh, baik pak."


Sahutku dan langsung diputuskan oleh pak Doni.


Aku lalu bangun dan segera mandi selesai mandi, aku menuju ke kamar sbelah untuk membangunkan sicantik.


"Caaantiiik, ayo ba,"


Kriiieeeett. Sebelum aku menuntaskan ucapanku, pintu telah terbuka dengan Fida yang badannya sudah terbungkus jaket tebalnya.


"Aku udah siap, tadi aku sengaja nguping pembicaraan ibu dan pak Doni ke kamu."


Ujarnya dan ia segera menarik tanganku untuk segera keluar. Aku masih kaget. Dan aku pun menuruti apa kemauannya.


Sesampainya dikantor polisi, aku langsung dihadapkan dengan pak Doni.


"Siang pak. Ada yang bisa saya bantu?"


Tanyaku dengan Fida yang menggenggam erat jariku. Entah mengapa setiap dia melihat pistol yang terselip di pinggang pak Doni ia selalu takut dan tidak mau banyak bicara. Pak Doni yang menyadari hal itu sedikit menakutinya dengan mengangkat pistol dengan kertas yang sudah di bentuk menjadi seperti bom. dan apa yang terjadi, pak Doni menodongkan pistolnya sambil menarik pelatuk dari kertas yang berbentuk seperti bom itu. Dan, Dak.


Terdengar suara ledakan dari kertas itu.


"Hahahaha, kamu ini, tegang banget sih Fid, bapak mana mungkin nembak kamu."


Ujar pak Doni sambil memasukan senjatanya lagi ke sarungnya. Sementara itu, Fida pingsan dengan keadaan terduduk diatas kursi.


Aku hanya terkekeh geli melihatnya.


"Jadi gini dek Arif, kami sudah mendapatkan bukti yang teramat jelas dan keputusan terakhir, Rahmat akan di hukum penjara selama dua taun."


Jelas pak Doni seraya menempelkan minyak kayu putih di depan hidung Fida. Fida pun sadar dan ia pun mematutkan wajahnya ketika melihat wajah pak Doni yang saat itu berekspresi menyebalkan kepada Fida.


"Oh gitu pak, lalu tugas saya?"


Tanyaku.


"Tugasmu adalah memantau sekolah selama ada murid baru yang masih trauma dengan keadaan yang sudah lalu."


Terang pak Doni.


"Oh baik pak."


Sahutku singkat.


"Kamu boleh pulang."


Ujarnya lagi. Tanpa pikir panjang, aku langsung menyalami tangan pak Doni dan segera menarik Fida yang masih mematutkan wajahnya.


Pak Doni pov.


Setelah kedua anak itu berlalu, aku pun sedikit menjaili Fida dengan kertas yang tadi aku gunakan untuk menakutinya. Dak, dak, dak. Suara letupan kertas itu tepat di belakang punggung anak itu. Fida langsung berlari tanpa menunggu Arif. Aku terbahak melihat tingkahnya yang konyol. Aku sempat mendengar teriakan arif yang berteriak, tungguuuu.


Pak Doni pov end.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2