MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
Resah.


__ADS_3

"Eh ayah. Udah lama?"


Sapaku.


"Lumayan. Tapi nggak lama lama amat sih. Nggak kayak kamu tuh."


Ejek ayah.


"Lho kok ke aku?"


Tanyaku heran.


"Kamu ngapain keluar?"


Tanya ayah dengan tatapan mata seakan lelah bekerja.


"Jenuh yah."


Sahutku.


"Ah, jenuh atau kamu pengen ketemu Fida?"


Ayah makin menjadi.


"Ih, apaan sih ayah mah. Arif nggak kemana mana."


Sahutku sewot.


"Jangan bohong kamu. Tadi ayah liat kamu lagi jailin Fida."


Aku sontak kaget sambil tersedak ludah sendiri.


"Uh, sampe segitunya."


Kata ayah seraya menyeruput kopi.


"Udah ah yah. Malu aku."


Ujarku. Ayah hanya tertawa lalu terdiam. Kami pun duduk di teras dengan santai sambil minum minuman yang telah ku beli tadi di warung.


"Ayah ngapain disini?"


Kataku setelah beberapa menit membisu.


"Nungguin Haikal sama bapaknya. Besok ibu kamu mau pergi lagi.


Jawab ayah. Tak lama kemudian, Haikal datang dengan langsung berteriak:


"Woooy! Ka..ret lu."


Aku kaget dibuatnya.


"Eh tunggu dulu. Siape suruh lu ikut gue?"

__ADS_1


Tanyaku. Dia pun terdiam sambil menggaruk garuk kepalanya.


"Ah, udeh lah. Lu gue maafin tapi obatin luka gue njir."


Katanya sambil memarkirkan sepeda dekat sepedakku.


"Iye iye. Sini lu."


Kataku. Dia menghampiri dan menyodorkan tangannya. Aku obati lukanya dengan sedikit di tekan.


"Au, sakit bego."


Pekiknya.


"Ahh, lebai lu."


Ejekku. Dia hanya bisa pasrah.


"Udah noh."


Kataku. Dia pun duduk lemas disebelahku.


Disisi lain, Fida sedang menangis ketika dia menatap layar HP yang menampilkan tampilan yang bertuliskan anda ingin membuka blokir kontak ini? Fida langsung menekan tombol oke. Setelah chat Arif terbuka, dia langsung meng close aplikasi chat itu. Fida melangkah menuju garasi dan menarik sepeda pinknya.


"Mau kemana nak?"


Teriak ibu.


Sahutnya. Fida langsung saja mengayuh pedal sepeda kearah jalan raya.


Disisi lainya, pak Doni sedang menyiapkan berkas berkas yang menumpuk diatas mejanya untuk dibawa pulang. Setelah semua berkas tersiapkan, beliau pun melangkah pulang. Sesampainya dirumah, beliau mengganti pakaian dan dia mengantungi kartu tugasnya di saku celana. Tak lupa dia menyelipkan senjata di pinggangnya. Kali ini beliau bukan membawa pistol laras panjang seperti biasanya, tapi beliau membawa pistol senapan angin saja untuk berjaga jaga.


Sisi lain di rumah Arif. Fida datang di sore itu dengan wajah yang banjir oleh airmata.


"As, assalamualaikum."


Salamnya dengan terisak. Arif terkaget dan tak percaya.


"Rif, maafin akuuuu."


Hiks hiks. Dia menangis dan memeluk tubuh bocah laki laki itu.


"Udahlah. nggak papa. Lagian aku udah sama yang lain kok."


Arif yang bergantian mengetes seberapa pedulikah dia?


"Ap apa?"


Tanya Fida dengan lutut yang gemetaran. Arif mengangguk.


"Kamu jahat!!!"


hiksy hiksy. Dia makin menjadi. Arif tersenyum. Dan Arif memeluk tubuh wanita itu. Fida merasa nyaman tapi resah dengan ucapan Arif. Apa itu benar? Tanya Fida dalam hati. Tak lama kemudian, pak Doni datang.

__ADS_1


Selamat sore. Kami dari pihak kepolisian."


Sapa pak doni sedikit legeg. Legeg dalam bahasa sunda artinya belagu.


"Iya pak. Silahkan. Ada apa?"


Tanya ayah.


"Anak bapak telah tertuduh mencuri hati seorang wanita."


Kata pak Doni sambil tersenyum.


"Wah, sejak kapan kamu jadi polisi cinta?"


Tanya ayah sedikit mengejeknya.


"Baru satu detik yang lalu. Hahaha."


Sahutnya seraya duduk didekatku.


"Mau minum apa?"


Tawar ayah.


"Milk syek ada?"


Tanya beliau.


"Tunggu sebentar."


Ujar ayah. Ayah masuk kedalam dan aku serta kedua teman ku segera pindah ke taman belakang rumah dekat kolam ikan. Apa siarif itu bener ya, udah punya yang lain selain aku? Apakah dia kemarin hanya sebagai hiburan saja? Apakah arif itu hanya menjadikan aku sebagai pelampiasan? Ah entahlah. Aku tak mampu untuk memikirkan itu semua. Aku menangis dan aku berdiri lalu melangkah menuju pintu belakang rumah Arif. Tapi aku yakin dari tatapan mata Arif dia tidak sungguh sungguh bicara seperti itu. Firasatku pun mengatakan seperti itu. Aku berdoa semoga feeling ku itu benar. Aku duduk dekat pintu agar sedikit jauh dari dua lelaki itu. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak mau tau. Sampai tak terasa, waktu menunjukan pukul 17:30. Aku hendak berpamit pulang tapi Arif menahan tanganku.


"Eits, mau kemana?"


Tanyanya.


"Kepo. Lepasin ih."


Kataku sambil menampik tangan lelaki itu. Dia hanya geleng geleng kepala. Aku tanpa banyak bicaa lagi, aku berlari menuju gerbang dan aku naiki sepedaku. Meskipun umurku 13 taun, tapi jika dilihat aku itu seperti umur 15 tau nggak? Karena aku tinggi. Setelah naik sepeda, aku melanjutkan menuju rumah. Tapi belum sampai rumah, aku bertemu sekelompok orang yang mencurigakan. Dari gelagatnya sih mereka sepertinya kawanan begal. Tapi tunggu. Itu bukannya Nanang dan Ari? Kenapa mereka bisa dibawa oleh kumpulan itu? Aku sebenarnya ingin tau, tapi ketika ku ingin menghampiri,


"Ape lu gadis kecil? Mau stor nyawa?"


Ujar preman itu. Aku langsung kayuh sepeda secepat mungkin berbalik menuju rumah Arif.


Disisilain di rumah Arif. Arif merasakan firasat buruk tentang Fida. Ada apa gerangan? Aku tak boleh tinggal diam. Aku melangkah menuju garasi dan aku ambil sepeda. Aku kayuh dengan kecepatan hampir sama seperti kecepatan kereta bintaro 34 taun silam. Tak disangka, dibelakangku ada beberapa sepeda juga. Dan diarah berlawanan ada sepeda Fida, Ari, dan Nanang. Tak bisa menghindar karena jalan tak terlalu besar, akhirnya tabrakan itu tak bisa terelakan. Kami bertabrakan, dan darah bercecer dimanamana. Loh, ternyata beberapa sepeda dibelakangku itu adalah kak Indah, kak Ika, Kak Maman, kang Fauzan dan kak Bintang. Kenapa bisa seperti ini? Pertanyaan kamu nggak papa? Terus saling bersautan diantara lembayung senja yang mulai menampakan dirinya. Aku hampiri semua teman teman ku termasuk Fida.


"Yang, kamu nggak papa?"


Tanyaku dengan khawatir. Dia menggeleng sambil menangis. Setelah ku lihat tidak ada luka serius di tubuhnya. Berbeda jauh dengan korban teman-temanku dibelakang sana. Aku meneriakan agar segera bangkit dan aku akan mengobati luka mereka di rumah saja. Kugandeng Fida menuju rumah. Dan langsung diikuti oleh seluruh temanku. Sepeda kami tinggalkan begitu saja. Seolah mereka ketakutan habis melihat sesuatu. Kubelai rambut fida, dan aku rangkul menuju rumah.


Bersambung. Note author.


Hai hai hai semuaa. Maaf author baru up lagi karena ada kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. Jangan lupa untuk selalu bantu dukung karya author dengan cara vote, like, follow and favorite oke, sampai jumpa di next episode.

__ADS_1


__ADS_2