MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
Akhir Dari Kisah Cinta Indah, Part1


__ADS_3

Tinggal empat hari lagi untuk Indah mengakhiri semua prank nya. Dia sudah tidak tahan lagi akan ini semua. Pukul 14:50 Arif dan ketiga temanya sudah tiba dipelataran rumah Fida.


"Fidaaaa,"


Seru Haikal.


"Fiiidaaa."


Arif kini ikut-ikutan memanggilnya.


"Dek, gimana ini?"


Tanya Indah.


"Sttt, tenang aja kak. Kaka nggak usah takut dan nggak usah pura pura jadi hantu lagi, aku yakin, mereka pasti ada perlu ke aku, bukan ke kaka. Jadi tenang aja ya,"


Ujar Fida.


"Ffiiid,"


Belum selesai mereka menyebut nama Fida, orang yang dimaksud udah keluar dengan penampilan cantik dan manis.


"Iyaa, tungguuuu."


Dia buru-buru lari keluar dengan membawa suara cemprengnya.


"Ehh, kaliaan."


Sapa Fida cengengesan.


"Gini, Fid,"


Haikal mulai menerangkan.


"Yuk masuk dulu. Nanti aja ngobrolnya."


Potongnya. Arif dan kawan kawan pun masuk dan duduk disofa yang empuk.


"Mau minum apa?"


Tanya Fida dengan logat khasnya.


"Aku, minum oren jus aja."


Arif membaringkan kepalanya ke sandaran sofa.


"Kamu?"


Tanyanya lagi ke joe.


"Kalau ada, jus jambu aja deh."


Joe ikut membaringkan kepalanya.


"Kalau kamu?"


Sekarang giliran ke haikal.


"Emmmm, kalo ada jus alpuket aja."


Fida ngeloyor begitu saja saat semuanya sudah memesan.


"Rif, beraksiii. Semangat brooo."


Haikal menyemangati.


"Eh, ntar dulu, siape aje sih yang tugas ngobrol sama Indahnya?"


Tanya Arif.


"Aaaahh, gimane si luu. Gue kedapur buat ngobrol secara baik baik ama ayang mbeb lu, nah lu ama joe ketuk pintu itu."


Haikal mengingatkan.


"Oke, beres broo."


Mereka pun berpencar. Sisi lain di dapur.

__ADS_1


"Dor."


Haikal mengageti Fida. Dia terperanjat tapi untungnya gelas dan blender tidak jatuh.


"Aaaaaaaaa. Kaget tau kaak ihh."


Kata Fida sedikit centil.


"Lebay lu."


Ledek haikal. Fida hanya bisa manyun dan tanganya mulai nakal meninju perut haikal sekencang mungkin.


"Awh, sakit go…g"


Pekik Haikal.


"Makanya kaka jangan gangguin aku. Aku disini adalah ratu. Dan aku pemilik rumah ini. Tidak ada yang berhak untuk mengaget ngageti tuan putri. Faham? Ngerti nggak sih kamu tuh?"


Fida ceramah dengan masih dengan gaya legeg dan centil.


"Katakan. Ada apa?"


Ketusnya lagi. Judes amat si nih cewek. Gumam haikal dalam hati.


"Eh tongtong, bilangin ke si indah nanti ada pelajaran, apa ya? Lupa gue. Oh iya, pelajaran biologi kalo nggak salah. Nanti gue tanyain deh ke gurunya."


Jelas Haikal.


"Teruss? Digabung gitu?"


Tanya Fida. Haikal hanya mengangguk dan langsung duduk diatas kursi kayu didepan meja makan.


"Eeeeeh, siapa suruh duduk disitu?"


Dia lagi lagi bertingkah kasar dan seolah ia lah yang menjadi ratu disana. Haikal pun tanpa banyak basa basi langsung ngabret ke ruang tamu karena takut.


Sisi lain dikamar Indah.


"Kekekalian, ta, tau d dari ma, mana a, aku didisini?"


Indah sangat gemetaran.


Indah sedikit lega ketika menatap mata adiknya yang tidak dipenuhi kebohongan ini.


"Menurut aku ya ndah, kamu itu kurang apik untuk menyembunyikan identitas dan barang kowe. Piye to iki?"


Joe mulai mengemel.


"Iya, kak. Mana bisa kaka menyembunyikan identitas dan barang barang kalau itu, tuh liat. Ngerti nggak sih kakak tuh?"


Arif memberi penegasan dan sedikit ngalelewe gaya bicara kakanya. Indah seketika tepuk jidat dan bergumam dalam hati. Aduh, kenapa aku bisa secoroboh ini sih


"Tapi tenang aja kak, pacar kaka nggak tau kok. Dia berhasil kita bodoin."


Lanjut Arif.


"Apa? Dibodoin?"


Indah mulai menangis.


"Iya, dia ngiranya kaka pulang ke kalimantan dan dia hanya bisa muter muter doang tanpa bisa menemukan jawaban bahwa kaka sedang mengepranknya."


Arif duduk disebelah joe.


"Jejejejadi, d dari kekemarin, ka, kalian u uda tau?"


Tanya Indah.


"Iya."


Sahut Joe dan Arif barengan.


"Baiklah, aku percaya sama kalian. Pastikan tidak ada yang tau selain kalian."


Pesan Indah.


"Beres."

__ADS_1


Sahut arif dan joe lagi lagi barengan. Tanpa ada rasa ragu, Indah keluar kamar dan duduk disebelah Haikal.


"Hey, bro."


Sapa haikal. Indah hanya melirik sebentar dan langsung memalingkan wajah. Nih cewek kagak ada yang bener apa ye? Si fida, sok sokan jadi ratu. Si indah pura pura budeg. Gimane ini? Haikal uring uringan dalam hati. Tak lama kemudian, Fida sudah beres dengan urusan dapurnya dan dia tentu terkejut dengan ini semua.


"Berhentilah membohongi kami wahai Fida Nur Fitriani."


Ketus haikal.


"Iyo, kowe karo Indah yo sama aja."


Iya, kamu sama indah sama saja. Joe ikut mengomel.


"Sudah tidak usah pura pura nggak tau deh say,"


Arif memberanikan diri merangkul sahabatnya itu. Arif juga membantu untuk meletakan baki diatas meja.


"Kal, keluarkan."


Joe memberi kode. Haikal menyodorkan hp nya kehadapan para ciwi ciwi yang masih termenung. Fida sontak menjadi gemetaran didalam rangkulan Arif.


"Udah, nggak usah takut, kita akan aman kok."


Arif membelai rambut Fida. Mereka akhirnya duduk dan mencoba untuk tetap tenang meskipun masih ada rasa takut diantara Indah dan Fida.


"Lagian ngapain sih lu pake prank prank segala? Kagak habis fikir dah gua mah."


Haikal yang mulai jengkel pun menggebrak meja.


"Berdampak ke pendidikan lu juga tau nggak? Lu kagak masuk selama seminggu karena hanya untuk nge prank pacar sendiri, sepenting itu kah?"


Tambahnya.


"Mikir, bro, mikir. Lebih penting mana pacar ama pendidikan? Iya juga pacar dan pendidikan itu mungkin sama sama penting. Pacar sebagai penyemangat, dan belajar demi bekal lu kedepannya. Faham kagak!!!"


Indah hanya terdiam sambil menangis.


"Udah, kal. Udah."


Joe menenangkan.


"Sekarang ginilah. Apa tujuan lu buat prank si raka?"


Haikal makin emosi.


"Ya, tadinya aku cuma pengen ngasih surprise aja sih buat dia, dengan cara aku membohonginya dan nanti aku ngomong jujur sama dia sambil ngasih kado buat dia. Hix hix."


Indah menangis meratapi perbuatanya.


"Ya terus kalo cuma ingin ngasih surprise buat pacarlu kenape jadi ngerembet ke sekolah? Lu tau kagak, banyak yang ngomongin tau nggak lu?"


Indah lagi lagi hanya tertunduk dan tak mampu bicara apa apa lagi.


"Ssttt, udah kal udah. Udaaaaah!!"


Arif berteriak.


"Gini ya ndah, mohon maaf nih. Kowe, kalo mau prank prank kayak gitu, harusnya kowe tetep masuk sekolah tapi kowe harus pinter pinter menyembunyikan diri. Sehabis pulang, kowe jangan nongkrong dulu, dan kowe juga usahakan jangan pake sepeda."


Joe menasehati.


"Iya, aku akui aku yang salah, hix hix."


Indah termenung.


"Yaudah gini aje, gue, arif, dan joe kagak ngebocorin kesiape siape, nanti jika waktunya sudah tiba, gue harap, lu mengakhiri prank konyol lu ya."


Haikal mulai tenang. Yang diajak bicara hanya mengangguk lemas dan langsung meminum jus alpuket milik haikal.


"Dih, itu punya gue njir."


Haikal sewot.


"Mi, hix, mintaaa. Hix."


Masih tersedu sedu, dia akhirnya menelan jus alpuket itu. Yang punya hanya bisa geleng geleng kepala. Fida yang sedaritadi mendengarkan, juga tidak mampu untuk mengelak apalagi membela Indah. Dia hanya bisa diam dan tidak bersuara.

__ADS_1


Bersambung. Mohon maaf sedikit keliru yang harusnya arif dan kedua temannya, ini malah arif dan ketiga temannya. Karena author sedang sakit kepala. Terimakasih.


__ADS_2