
Setelah dari rumah Fida, aku dan kawan kawan mampir ke warung terlebih dahulu untuk sekedar meluruskan kaki yang sedaritadi tertekuk. "Eh, rif, lu kagak mau minum apa?" Tanya Haikal. "Kagak ah, tadi gue minum terus." Sahutku. Haikal pun menurutiku. Dia hanya memesan roti tanpa minum. Sudahnya, dia hanya makan permen. Tak terasa, waktu menunjukan pukul 16:00. Tak ada percakapan diantara aku, Joe, dan Haikal. Sampai Joe berkata: "Apa cukup sampai disini guys?" Tanya Joe. "Cukup apanya?" Tanya Haikal sedikit oon. "Cukupin buang eeknya." Sahutku jengkel. "Ya cukupin menyelidiki si Indah lah." Kata joe lagi. "Ya cukup kali. Kagak ada yang mencurigai lagi sih." Sahut Haikal. "Yakiiiin?" Tanya Joe sedikit memancing. Sepertinya dia masih penasaran, namun entah apa. "Emmmmm, nggak jadi deh. Yang jadi pertanyaan, kenapa dia kagak pulang pulang ke rumahnya." Sahut Haikal. "Sip." Joe menjentikan jari. "Itulah, yang aku cari." Aku menjawab diantara obrolan mereka. "Indah itu diusir ama bapaknya dari rumahnya karena bapaknya kadak setuju indah ama Raka." Kataku dengan lancar. "Apa?" Nampak wajah mereka tegang. "Iya." Sahutku. "L, lu tau darimana njir?" Haikal tergagap. "Kagak sengaja denger dari obrolan Indah dengan Fida waktupas gue kagak sengaja lewat didepan rumah Fida." Kataku ngasal. "Ah, yang benerlu!?" Haikal sewot. "Kagaak, gue kagak sengaja lewat di depan rumah Indah dan gue denger ribut ribut masalah itu waktupas indah pertama kali keluar." Kataku lagi. "Kapan lu lewatnya?" Tanyanya lagi. "Ya waktu itu ama bokap gue sepulang dari anter bokap beli rokok dan kopi. Kebetulan warung dekat rumah Fida dan gue pada tutup." Aku menjelaskan. "Ooooooh, gitu toh. Oke deh, kita sudahi saja misi ini ya." Timpal joe. "Iya." Sahut kami serempak. Setelah itu kami pun pulang kerumah masing masing. Kukayuh sepeda dengan santai menikmati indahnya sore hari ini. Tak terasa, aku hampir sampai di depan gerbang rumahku. Kuparkirkan sepeda, dan aku masuk kedalam rumah. Disisilain di rumah Fida. "Dek, aku takut. Takut mereka cuma membodohi kita doang." Indah hendak memeluk tubuh Fida namun ia tepis. "Jangan peluk peluk!!" Teriak Fida sambil melotot. Wajahnya merah padam. Indah menangis lagi. "Salah kaka kenapa mau prank Raka." Fida berdiri dan membanting gelas didepan Indah. Kaki indah bersimbah darah, dan tanpa belas kasian, Fida mau membantingkannya lagi kekepala kakanya namun indah berhasil berkelit. Praaaaaaaannkk. Sisa pecahan gelas itu kini membentur tembok dibelakang indah. "Kalau kayak gini kejadianya, ini murni salah kaka. Kenapa prank prank segala." Fida seperti kesetanan. Dia hendak mencekik, namun dia tersadar dan langsung masuk kedalam kamar dengan membanting pintunya dengan sangat sangat keras. Jebllaaaaaaaaggggg. Suara pintu. Duuuh, ibunya Fida kemana sih? Tanya Indah seorang diri. Kakinya sudah mengeluarkan banyak darah, dan lantai kini berwarna merah. Kenapa jadi kayak gini sih? Gumam Indah dalam hati. Kini dia tidak ada tempat lagi untuk mengadu dan dia sudah sangat putus asa. Tau gini, aku batalkan aja lalu bilang, tapi boong. Hayuukk ke pacarku. Duh, maafkan aku yang, maafkan aku buk, maafkan aku pak. Rasa sakit tidak ia hiraukan. Dia kini berjalan menuju kamarnya dan dia berjalan diatas kubangan darah yang keluar dari betisnya yang menganga. Bayangkan saja, dari bawah pangkal lutut hingga matakaki itu luka semua. Dan didalam luka itu bersarang beling. Indah terpincang hingga membuat beling yang menancap di dalam betisnya terjatuh kelantai. Tak lama kemudian, dia sampai di depan kamar mandinya dan langsung saja cuci kaki dan setelahnya ia membaringkan diri dengan kaki yang ia sandarkan ke tembok. Dia tidur dengan posisi kepala dibawah, kaki menempel ditembok. Persis seperti orang sedang pegal kaki. Karena tak tahan, akhirnya ia mengobati lukanya. Setelah selesai, dia membersihkan darah yang menggenang diatas lantai. Bau amis menyeruak memenuhi seisi ruang tamu itu. Setelah kembali fresh, indah duduk diatas sofa. Sebelumnya dia tak lupa membuang pecahan hatinya yang remuk. Eh, pecahan gelasnya yang remuk seperti hati author yang luka karena menyukai dan menyayangi dia tanpa bisa author miliki. Tuhkaaan, kemana mana ceritanya. Oke lanjut. Dia terus termenung dan termenung menghadap pintu keluar berharap ibunya Fida datang dan menenangkanya. Ini memang salahku, Fida harusnya tidak boleh tau, seharusnya aku hidup dijalanan aja. Indah menangis. Satu hari kemudian. Paginya indah bangun pagi sekali. Dengan celana jeans nya, dan baju putih yang polos serta tangan panjang menjadi pakaian yang disukainya. Rambutnya ia gerai dan wajah cantiknya dia poles dikit dengan bedak seadanya. Bibirnya yang mungil dan tipis ikut dioleskan dengan lipstik warna merah. Makin cantik saja Indah ini. Dia bertekat akan menemui raka hari ini dan dia akan pulang membawa cowoknya itu. Tapi sebelum pulang ia menulis surat diatas kertas hps yang ia punya. Bandung, 4Mei2019. Saya Indah Ayu Putri Lestari ingin mengucapkan mohon maaf sebesar besarnya kepada keluarga ibu Nina dan keluarga. Saya tau saya salah. Saya harusnya tidak boleh mencari keributan diantara kalian, saya tau, anak ibu nampaknya sudah kesal dan mumet menghadapi saya yang bodoh ini. Karena cinta, saya menjadi seperti ini. Terutama, keluarga ibu yang mungkin terganggu dengan kehadiran saya. Maka dari itu, saya intropeksi diri. Saya faham, seharusnya saya itu hidup dijalanan aja. Mumpung sekarang musimnya persib, pasti semua orang akan berkumpul dijalanan untuk menonton pertandingan itu. Saya akan menyamar menjadi suporter tim oren aja biar saya dikeroyok masa sampai mati. Ya, saya harusnya begitu dan tidak menyusahkan kalian. Salam hangat dari saya, Indah Ayu Putri Lestari. Tulisnya. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan rumah Fida. Surat itu dia letakan didepan pintu rumah. Berhubung ada sensornya, maka barang siapa yang meletakan surat kepada yang punya rumah, lampu merah akan berkedip di kamar salah satu tuan rumah. Dia berjalan mengambil sepedanya, lalu ia pergi ke puskesmas terdekat karena kakinya yang luka. Sebenarnya luka itu bisa diobati sendiri, namun dengan alasan tidak mau budug dan ingin kelihatan tetap putih, maka ia lebih memilih ke dokter. Setelah itu ia hendak ke salon untuk memperbaiki penampilannya yang kusut. emmh, olo-olo. Sesampainya di puskesmas, ia langsung saja daftar dan menunggu. Tak lama kemudian, "Saudari Indah Ayu Putri Lestari, silahkan masuk." Teriak suster. Ia pun berjalan menuju ruangan pasien khusus dokter kulit. Kulit budug hahaha. 3 hari kemudian. 7Mei2019. Nampak hp Raka begitu penuh dengan notif notif pesan yang berbunyi, HBD ya Raka, semoga panjang umur, sehat selalu, bla bla bla. Ketika dia sedang membaca notif itu, tiba tiba Pacarnya datang. "Halo, sayang, selamat ulangtaun yaaa." Pekik Indah sambil membawa kue tart dikedua tanganya. Tanganya yang sedikit kecil tidak mampu jika memegang kue raksasa itu dengan satu tangan. Diatasnya ada lilin berangka 16. Diatas kue itu juga ada tulisan, aku menyayangimu, Raka Herdiana. Uh, sungguh romantis. Raka hanya bisa tersenyum dan membantu kekasihnya meletakan meja diatas kue. Eh, tibalik. Meletakan kue diatas meja. "Kamu kapan datang sayaang?" Tanya Raka sambil memeluk tubuh Indah yang tinggi dan langsing itu. "Tapi boong. Aku nggak jadi pulang ke kalimantaaaaaan." Teriak Indah dengan semangat. Dia berlari menuju lapangan. "Wleeeeee, coba kejar." Seru Indah. Raka bergumam. Kayak anak kecil njir. Dengan mudahnya raka menangkap tubuh tinggi kekasihnya dan langsung saja memeluknya. Pada hari itu juga Arif, dan kawannya datang memenuhi rumah Raka. Pada hari itu pula kekasihnya jujur dan memohon ampun. Raka bukanya marah, ia malah berkata: "Makasih sayang, kamu telah menjadi wanita yang paling sempurna dalam hidupku selain ibu." Indah terharu mendengarnya. Bersambung. Tak perlu diucapkan mengapa raka bilang begitu, karena kalian sudah pasti tau indah itu orangnya gimana, kan udah author bilang juga.