
Keesokan harinya aku menepati janjiku pada pacarku bahwa aku sekarang akan menemuinya. Aku berjalan kearah luar rumah, aku ambil sepeda lalu mengayuhnya ke rumah Fida. Setelah memakan waktu sekitar 3mnt, akhirnya aku tiba di depan rumah Fida. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, kerumah fida ini sekitar 5 menitan.
"Haaallo sayaang."
Sapaku. Tiba-tiba,
"Cieeeeeee. Selamat ye, selamat."
Sorak ketiga cewek ini. Siapa lagi kalau bukan Ika Priska Bela?
"Eh sayang. Duduk cinih."
Kata Fida so imut. Aku menggandeng tanganya lalu aku pun duduk di sebelahnya.
"Pj dong,"
Kata Ika.
"Iya, bagi gitu."
Timpal Priska.
"Au nih. Emh."
Bela mencubit pipi keduanya.
"Sayang ya teteh teteh sekalian."
Ujar Fida tiba-tiba.
"Apanya yang sayang?"
Tanya Ika. Fida tertunduk, lalu berbicara.
"Dulu kita bersembilan, sekarang, tinggal berapa coba? Tinggal berlima. Kak Raka kan udah jelas mau deket sama ortunya, sekaligus entahlah. Ikut pacarnya, ka Haikal juga terakhir itu bilangnya baru pulang dari jakarta, sekarang entah kemana. Terus joe. Masih inget nggak waktu pas joe lagi mules?"
Tanya Fida. Ketiganya mengangguk.
"Nah, joe juga nggak tau kemana dia. Hadeeh."
Fida menghela nafas.
"Ya kan tokoh utamanya elu fid, masa mereka terus yang disorot sih? Ari kamunya mana? Harusnya, kamu itu bisa complain ke si abang author, tor kenapa aku jarang aktif gitu?"
Timpal Priska sekenanya.
"Iya, mbak. Ari akumah nggak masalah sih, terserah. Disorot sukur, enggak juga kajeun. Da nulieur mah manehanana. Hihihi."
__ADS_1
Sahut Fida terkikik′.
"Hah, kamu ini."
Sahut Arif.
"Jujur yank, nggakpapa aku nggak disorot sepenuhnya juga, yang penting setiap alur setiap judul ada akunya."
Sahut Fida. Arif hanya geleng-geleng.
"Udah makan belum?"
Tanya Ika tiba-tiba.
"Emang teteh bakal nraktirin gitu?"
Tanya Arif. Ika mengangguk dan segera menggiring keempat temanya ke mang baso.
"Yuk pesen ah. Jangan nostalgiaan mulu atuh."
Ajak Ika. Yang lain mengangguk. Setelah memesan akhirnya baso itu sudah bisa bersarang di perut mereka.
"Bapak kamu mana rif?"
Tanya Ika.
Sahut Arif.
"Iya, sibuk kayak anaknya."
Arif bengong.
"Sibuk apa teh?"
Tanyanya.
"Sibuk pacaran. Hahahaha."
Sahut Ika. Arif hanya bisa tersipu malu.
"Ah teteh. Kitamah nggak kayak gitu kali,"
Fida angkat bicara.
"Ah nggak kayak gitu gimana? Segitu nemppel mulu kayak lintah."
Ejek priska.
__ADS_1
"Gimana mbak aja ah."
Sahutnya malas sambil bersandar dipundakku.
"Tuh kaaaaaaan."
Sorak ketiga cewek ini.
"Cie."
Imbuh Ika. Keduanya makin malu saja dibuatnya.
"Sudah-sudah, gimana nanti kalau kita pergi berlibur?"
Tawar Ika.
"Hallah. Emang punya duitnya?"
Ejek Priska. Ika mengeluarkan amplop coklat dari tas pinggangnya dan memperlihatkanya kepada kami. Kami yang melihatnya terbelalak ketika membaca tulisan di amplop itu RP10000000.
"Apa? sepuluh juta?"
Tanya kami kagum.
"Yuk, besok atau kapan gitu,"
Sahut ika memasukan kembali uangnya.
"Tet, tapi,"
"Udah, nggak usah tau darimana aku dapetin uang itu."
Potong ika saat bela akan berbicara.
"Kapan bosku?"
Timpal Priska.
"Yaudah pas udah liburan aja."
Sahut Ika. Semua menyetujui.
"Iya, daripada mengingat-ingat kenangan waktu pas kita masih ber9."
Kata Fida. Keempatnya mengacungkan jempol pertanda setuju.
Bersambung. Note author. Rencananya author bakal namatin di episode 50han aja ya, karena sumpah, author bingung harus kayak gimana lagi. Mana nggak ada yang like, nggak ada yang komen, sama aja kayak nulis diari. Jika memang kalian setuju ada sisen2nya, nanti boleh chat aja di bawahnya. Eh chat lagi, komen maksudnya. Ya, komen aja nanti mau lanjut, atau stop di episode 50.
__ADS_1