
"Kirain aku kamu nggak akan nurutin akuh." Kata Indah centil. Raka tersenyum dan ia membelai rambut kekasihnya yang selalu wangi dan terawat itu. "Apa pun yang kamu inginkan, selama aku bisa dan aku mampu, kenapa nggak diturutin aja si? Kecuali aku benar benar tidak mampu untuk mengwujudkan keinginanmu, baru aku tak bisa menuruti keinginanmu." Raka menjawab sambil tersenyum. Tuhan, jangan pernah pisahkan kita ya Tuhaan. Batin indah berkecamuk. Tanpa sadar ia menitikan air mata. Raka yang menyadarinya segera memeluk tubuh tinggi nan langsing kekasihnya lalu merebahkan kepalanya di pundak. "Ssttt, udah yang jangan nangis. Udah yaa." Raka menepuk pelan punggung Indah dan membelai lembut kepalanya. "Hix, yang, aku sayaang banget sama kamuuuu. Hix hix." Tubuh Indah bergetar dan dia menangis semakin histeris. "Jangan pernah tinggalin aku ya. Kutetap menyayangimu apa pun yang terjadi." Kata Indah lagi. "Iya sayangku, jangan ngomong kayak gitu ah, lagian perlu kamu tau, aku tak akan pernah meninggalkanmu. Kau remaja wanita yang paling sempurna yang pernah aku temui. Ku coba tuk selalu berada disampingmu apa pun yang terjadi." Sontak teman temanya terlarut dengan perbincangan sepasang kekasih itu. Terutama bagi bela, Priska dan Ika. Mereka hanya bergulat dengan perasaanya sendiri sendiri. Biar ku lukiskan wajahmu dihatiku, dan ku kan selalu mengukir namamu dihatiku. Namun sisi lain aku tersadar. Kau tidak tercipta untuku. Biarlah aku disini sendiri yang menderita. Bahagialah bersamanya, raihlah semua, sayangi dirinya dan berikan cinta, biarlah aku disini menangis sedih, karena luka. Mungkin itu kata kata yang bisa menggambarkan keadaan ketiga cewek ini. "Heh kamu. Kamu berdua jangan pacaran dulu ya," Tegur Ika. "Iya teh, tenang aja." Sahut Arif Fida berbarengan. Ika mengacungkan jempol. Senyumin aja meski perih. Gumamnya dalam hati. "Ccuupp, udah jangan nangis lagi ya. Ingat, ada aku disini." Raka melepaskan pelukanya dan ia menggandeng pacarnya menjauh dari kerumunan. Baju bagian pundak sudah basah oleh air mata Indah. "Lihat, betapa bahagianya mereka." Kata Priska. "Iya, aku juga ingin seperti mereka." Timpal Bela. "Hahhhh, sudahlah, bersahabat jauh lebih indah." Ika yang putus asa hanya berharap sambil menghela nafas. Sebenarnya gadis seusia mereka itu memang cocok dan sudah layak untuk latihan pacaran, hehehehe. Itu sih kata temen author ya, latihan pacaran. Dalam kutip, cinta monyet hahahaha. Semoga author memberikanku jodoh. Gumam Ika. Hus, jodoh, nasib dan usia itu hanya Tuhan yang mengatur. Bukan author. Apaan sih ah? Udah skip. Raka Indah kini duduk di taman blakang rumah Fida yang sejuk. Sementara teman-temanya berada didepan. "Woy, penutupan ini penutupaaaan. Ini bukan saatnya untuk menangis lah, acara ini harusnya di isi dengan hiburan yang kocak, bukan acara tangis tangisan kayak gini." Kata Arif menggebrak bangku semen yang sedang di duduki oleh dirinya dan teman temanya. "Ciaelah, kalem dikit napa si? Santui, bro. Santuui." Fida melirik sahabatnya itu. "Yaa, cuma buat penyemangat aja bosku," Kata Arif. Acara penutupan berjalan dan dimulai pada pukul 17:30. Yang berarti mereka sudah membuang waktu cukup banyak hanya untuk menangisi hubungan orang. Wakakakakak. "Oke, acara penutupan ini hanya berjalan sekitar 20 menit saja ya, karena kita sudah membuang banyak waktu hanya untuk menangisi hubungan oranglain." Kata Arif di depan. Ika Bela dan Priska hanya tersenyum getir mendengarnya. Sementara Raka dan Indah hanya tersenyum bahagia dengan posisi jari jari tangan saling menggenggam. "Udah, jangan diliatin terus." Tegur Bela ke priska. "Ntar makin kerasa lho." Tambahnya. Priska hanya menunduk dan tak bisa bicara apa apa. "Baik terimakasih mbak mbak dan teteh teteh yang cantik cantik juga manis, telah menghadiri acara kami yang sungguh sangat biasa sekali, ini sesuai dengan apa yang saya harapkan." Arif memulai pidatonya. "Setelah melewati rangkaian acara, akhirnya kita tiba di penghujung acara, terimakasih sekali lagi bagi teman teman, bapak ibu tetangga dan tentunya para ibu ibu yang ikut berpatisipasi di acara kami yang seharusnya tidak perlu mewah seperti ini. Tapi saya bersyukur karena saya dan si manis bisa mempunyai tetangga sebaik kalian semua. Maka dengan ini acara saya tutup, terimakasih kami ucapkan kepada panitia, eh maksud kami, kepada ibu ibu juga bapak bapak yang membantu disini. Jika ada tutur kata yang salah saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya tutup, selamat petang." Gemuruh tepuk tangan terdengar dari seluruh hadirin yang datang. "Eh bu, anak kita sudah besar ya, perasaan baruuu aja kemarin Fida keluar rumah sakit." Kata ibu Fida. "Iya, bu. Saya juga nggak nyangka. Padahal baru kemarin anak saya nolongin anak ibu." Begitu sekilas perbincangan kedua orang tua dari masing masing anak yang ultah. Acara pun ditutup, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Ketika sudah di jalan hendak pulang, Arif dipanggil kembali oleh kedua orang tuanya. "Rif, sini dulu nak," Teriak ayahnya. "Iya yah," Arif menghampiri. "Ayo kita pergi," Kata ibu Fida. "Kemana?" Tanya Fida. "Udah, kalian diem aja." Kata ibu Fida tegas. Mereka hanya bisa pasrah dan menuruti semua kemauan orangtua masing masing. Sisilain di rumah Bela. "Aku nggak sanggup bel, aku sayang sama Raka tapi apa daya? Aku hanya obat nyamuk baginya. Hix." Priska mulai kembali terisak. "Lagian menurut aku dua duanya juga tol.l sih," Kata bela geram. "Loh, kenapa?" Tanya priska. "Kan si raka teh udah tau ada sahabatnya yang sedang menderita, ini malah pake acara peluk pelukan segala lagi, mana di depan kita. Sompl.k ngga sih tuh anak?" Rasa benci memang bisa melupakan segala keperihan di hati, setelah kita membencinya, usahakan kita dapat memaafkannya kembali, cepat atau lambat. Itu yang dirasakan Bela yang sedang dicobanya untuk ditularkan ke sahabatnya. "Ih, iya juga sih kalo di pikir-pikir. Terus gimana nih?" Tanya Priska lagi. "Kalau bisa, menghindari aja dulu deh, jangan gabung dulu ama mereka. Jadi kalau kita papasan dengan mereka, kita pura pura sok nggak kenal aja gitu." Kata Bela sadis. "Duuuuuh, jangan gitu dooong." Priska memainkan kantung plastik yang ada disebelah kirinya karena gusar. "Teroooos?" Tanya Bela. "Kamu ada uang kan?" Bela mengangguk. "Terus, apa rencana kamu?" Tanya Bela. "Liburan nape si? Ntar lagi juga UKK kan?" Kata Priska. "Jadi menurut aku malah semakin memperkeruh suasana kalo kayak gini caranya, mending udah, kita bersikap b aja ke mereka seolah nggak terjadi apa apa, terus kamu bikin surat atau pamitan lah gitu. Pokoknya jangan menimbulkan kecurigaan." Terang Priska panjang lebar. "Oke, coba kamu hubungi Ika." Timpal Bela. "Ntar dulu, kamu mau nggak?" Tanya Priska berharap. "Refresing loo, refresing." Imbuhnya. "Ya, aku mau. Aku akan menabung supaya menambah energi hahaha." Bela tertawa garing dengan hati yang sakit. Priska mengacungkan jempol lalu tos. "Bagus. Aku pamit kalo begitu." Kata Priska. Setelahnya Bela menjadi merenung sendiri memikirkan nasib dan rencana yang tepat. dua jam telah ia lewati hanya untuk memikirkan rencana gila ini. Nggak gila gila amat sih, tapi ini cukup aneh. Berpura pura biasa aja saat didepan pasangan itu sungguh sangat membuatku terluka dan tak sanggup memandangnya. Gumam Ika dalam hati. Tak lama kemudian, "Aaaaaaaaaaaaagggrrhh." ddugg. Kepala Bela membentur dinding beton disebelahnya. "Apa itu nak?" Tanya ibunya. "Oh, nggak bu. Bela cuma kejedot karena kepeleset." Sahutnya dari dalam kamar. "Oh, hati hati nak." Sesungguhnya, itu bukan kepeleset. Gumam Bela. Ibu kagak akan ngerti masalah gua. Gumam bela. Bersambung.