
Malam ini menjadi malam yang begitu menegangkan bagiku. Kenapa semua menjadi kacau balau? Pertanyaan yang selama sepulang dari acara ultah kami pun terjawab dengan jelas. Aku sempat merasakan yang tidak enak hati saat pulang dari acara meriah kami dan ternyata benar. Aku sempat melihat darah kering di tangan pak Doni dan di leher Fida. Ah, nggak. Pasti aku salah lihat.
"Kenapa rif?"
Tanya Fida yang entah sejak kapan berdiri didepanku.
"Rif, aku minta maaf ya yang. Aku hilaf. Aku bener bener nggak,"
"Ssttt, udah. Jangan dibahas kejadian yang sudah lalu biarlah berlalu."
Potongku dengan suara yang lembut dan tenang. Kulihat ia menitikan air mata.
"Udah nggak usah nangis. Itu kenapa leher sama tangan kiri kamu?"
Tanyaku yang sedaritadi merasa aneh dengan luka yang dialami oleh Fida.
"Ehhh aku udah putus asa rif. Aku pengen mati. Cewek apaan aku ini? Yang bisanya berperilaku seperti preman pasar."
Aku menjadi emosi dan aku secara reflek membentak Fida.
"Kamu nggak seharusnya bicara kayak gitu. Kamu harus yakin bahwa setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya."
Ujarku dengan nada tinggi.
"Iya sih, aku bukannya nggak percaya, tapi aku bener bener merasa kacau."
Sahutnya. Aku tak bisa memarahinya mengingat dia masih belum bisa berfikir dengan jernih. Aku juga bisa merasakan apa yang dia rasakan.
"Yaudah, daripada ngomongin ini nggak beres beres, kasian readers nya lebih baik kita pergi ke warkop yuk? Ini masih jam 10 kan? Minta anter pak Doni aja."
Ajakku. Kami berjalan menuju ruang tengah dan aku menyapa pak Doni.
"Malam om."
Sapaku.
"Aku mau kewarkop sama Fida."
Lanjutku. Beliau menoleh.
"Ciee, tadi bertengkar, sekarang udah romantis lagi."
Ejeknya.
"Ntar atuh. Om mau ganti baju dulu. Tunggu ya."
Tambahnya sambil melangkah menuju belakang rumah. Aku menunggu sambil mengobati luka yang di leher Fida karena yang ditangan sudah mengering. Setelah dikasih betadin, aku lalu meniupi lukanya agar cepat kering. Setelah kering, aku tutup dengan tensoplas.
"Jaket kamu mana? Tutupin aja biar nggak keliatan aneh."
Ujarku sedikit menggoda.
"Aneh? Emangnya aku badut?"
Tanyanya sambil mencubit pinggang kiriku dengan sekuat tenaga. Namun, bagiku itu tidak ada apa apanya.
"Alah, cuma segitu. Bisa lebih parah?"
Tanyaku sengaja mengejek.
"Ooo, tunggu."
Dia berdiri dan dia mencubit pipiku.
"Au,"
Pekikku.
"Nah, kerasa? Iya kerasa? Uuu, kacian. Hehehe."
Ujarnya dengan manja. Aku hanya membiarkanya terus mencubit pipiku. Biar pak Doni yang memarahinya.
__ADS_1
"Ayok, cepet ah, jangan lama lama. Eeeh, malah cubit cubitan."
Ujar pak Doni.
"Eh, iya pak ha hayu."
Sahut Fida. Aku terkekeh geli melihatnya. Kami berjalan menuju halaman dan aku berebut masuk kedalam mobil. Untungnya dari rumah Fida ke warkop atau saung itu tidak terlalu jauh.
"Hore, aku duluan."
Sorakku saat melihat anak ini masih keketeyepan di luar mobil. Eh, maksudnya masih berjalan dengan lemas dan lambat diluar mobil. Dia masuk dengan cubitannya yang tak terduga.
"Au."
Pekikku.
"Hahahaha, hahaha. Aduh, aduh. Kacian. Haha."
Tawanya. Tak mengapa sih, daripada dia membahas yang sudah sudah. Tak terasa, kami sudah sampai di warkop atau saung yang aku pernah singgahi di episode 13 kemarin saat menuju rumah Fida. Setelah semuanya beres dan mobil sudah berhenti dengan rapi, aku turun dan berlari menuju bangku yang kemarin sore aku duduki bersama Fida. Tepatnya didekat persawahan. Disusul oleh pak Doni dengan menuntun Fida. Aku duduk di sebelah kanan dari sawah, Fida ada disebelah kiriku dan pak Doni ada didepan kami. Aku mengambil menu dan mulai menuliskan kopi yang menurutku tidak ada pengaruh ke rasa kantuku. Disusul oleh Fida dan pak Doni. Setelah semuanya selesai, waiter itu mengambil kertas note yang sudah di tulis.
"Jam 10:30 kita pulang. Kamu besok harus sekolah."
Ujar pak Doni.
"Siap om."
Sahutku.
"Jangan banyak banyak ya rif. Kopinya."
Tambah Fida.
"Ya nggak lah, aku cuma pesen 1 gelas."
Sahutku polos. Dia mematutkan wajahnya dan ia berdiri sambil berkata:
"Nggak tau ah. Aduh siah."
"Hahaha. Makanya. Jangan macem macem kamu."
Ejekkku.
"Ihhh."
Dia lagi lagi mencubit lenganku. Pak Doni hanya tertawa melihat tingkah kami berdua.
"Eee, mas, mbak, boleh kalau mau pacaran silahkan di kebon sono."
Seseorang berbicara kepada kami yang sedang bercanda. Sejak kapan waiter itu datang?
"Caffino hazelNut 1, top kopi gula aren 1, dan luak white kofi 1."
Waiter itu meletakan 3 cangkir kopi di depan kami. Waktu menunjukan pukul 10:20. Ada 10 menit lagi untuk kami minum kopi.
"Sok jangan heureuy aja. Udah hampir setengah 11."
Ujar pak Doni. Aku dan Fida menseruput kopi masing masing dan akhirnya tersisa tinggal gelasnya saja.
"Yuk, pak."
Kata Fida.
"Weh, kela atuh."
Sahut pak Doni. Yang artinya, weh, sebentar atuh.
"Sok atuh. Yuk."
Lanjutnya. Kami bertiga pun berjalan menuju mobil.
Sesampainya dirumah Fida, ayah sudah menunggu di teras rumah. Dan fida pun turun.
__ADS_1
"Sampai jumpa besok cantik."
Kataku. Ia mengangguk dan memberikan senyuman termanis yang pernah aku lihat. Kini bangku kosong diisi oleh ayah.
Setelah dirumah, aku bebersih dan aku segera tidur. Keesokan harinya aku terbangun dijam 05:00. Aku bangun dan segera mandi lalu sarapan. mengingat hari ini hari Senin yang artinya 06:30 harus sudah stay di kelas untuk menyatakan kehadiran yang dilanjutkan dengan persiapan upacara. Setelah semuanya beres, aku menelpon ka Haikal untuk menemaniku disaat aku sendiri nanti dirumah.
"Halo kak,"
Sapaku saat telpon sudah terhubung.
"Iye ada ape?"
Sahutnya lemas.
"Kak, nanti bisa nggak temenin aku di rumah? Soalnya aku nggak ada temen."
"Ah, efek jomblo lu. Kan ada nyokap lu?"
"Iya sih, tapi ibu sekarang lagi sibuk buat nanti berangkat tkw lagi."
"Kapan berangkatnya?"
"Minggu depan sih."
"Yaudah minggu depan aje gue kesono ye, udeh ye. Gue mau mandi dulu."
Telpon terputus. Aku segera pamit ke ibu dan aku menunggu ayah di luar gerbang.
"Ati ati ya rif."
Teriak ibu dari dalam rumah.
"Iya buu."
Sahutku. Ayah pun siap dengan motornya. Aku naik dan ayah segera tancap gas menuju sekolah. Sesampainya disekolah ayah berpesan:
"Rif, nanti kamu pulang naik angkot ya. Soalnya pak Doni sibuk dan ayah juga ada kerjaan."
Ujar ayah.
"Oke. Siap."
Sahutku.
"Ayah pergi dulu ya."
Lanjutnya.
"Iya yah, hati hati."
Ujarku sambil menyalami tangan ayah. Aku melangkah menuju kelas dan Fida sudah ada disana.
"Pagi cantik."
Sapaku.
"Cieeeee."
Sorak teman teman sekelasku.
"Pagi juga."
Sahutnya. Kami pun menuju lapangan dan upacara dimulai. Setelah upacara, dilanjutkan jam pertama. Aku bisa melewati semua dengan lancar. Kini tiba saatnya untuk aku pulang.
"Fid, aku duluan nggak papa?"
Tanyaku. Dengan lemas, ia menganggukan kepala, lalu pergi membelakangiku menuju aula. Mau ngapain dia? Pikirku. Nggak tega sih, namun inilah kenyataan. Angkot pun datang dan aku masuk kedalamnya.
Sesampainya dirumah, aku membanting tas kearah kasur dan aku ganti baju. Hari ini menjadi awal untuk aku hidup sendiri. Ya maksudnya tanpa Fida disebelah kamarku. Aku mulai terbayang disaat aku pulang dari RS A menuju ke rumahku. Dan disitulah perjalanan kami dimulai. Ya, kini aku harus menyendiri untuk sementara waktu. Aku juga sadar. Aku belum muhrim dan aku sadar. Tidak seharusnya aku serumah denganya.
Bersambung.
__ADS_1