
Seusai acara ultahku, aku segera dituntun ibu menuju rumah. Tentu tidak ada Fida disampingku. Jujur, sedikit berat sih, tapi mau gimana lagi. Toh ini juga kesalahan dia. Aku terus berjalan menuju komplekku dengan wajah lesu. Untung ibu tidak menyadari tingkahku. Aku terus merasakan yang namanya tidak enak hati disaat Fida melambaikan tanganya selepas kami bertemu untuk terakhir kalinya. Meskipun hanya 3 bulan, tapi entahlah. Aku lebih banyak melamun selama diperjalanan menuju rumah. Sesampainya dirumah, kutemui pak Doni sedang nonton preman pensiun bersama ayah di TV. Ciroyom ciroyom ciroyom, ledeng ledeng ledeng, kelapa kelapa kelapa kelapa. Suara yang tak asing bagiku terus terdengar dari tv. Ibu hanya bengong disaat melihat pak Doni. Mungkin beliau kaget dan berfikir telah terjadi sesuatu dengan rumah kami. Padahalkan cuma sudah dekat doang.
"Assalamualaikum."
Salam ibu yang langsung dijawab oleh ayah dan pak Doni yang segera membukakan pintu.
"Waalaikumsalam, yuk masuk bu."
Ujar ayah sambil menarik tangan ibu. Aku pun masuk dan segera melangkah menuju kamar mandi.
Ibu Arif Pov.
Aku kaget dan heran mengapa ada polisi dan satu kamera CCTV di kamar yang kata arif itu adalah kamar Fida sebelum ia berpisah tadi.
"Itu, itu eeee,"
Ku dengar suamiku mencoba menjelaskan tapi pak polisi itu memberikan isyarat diam pada suamiku.
"Cukup kita dan yang bersangkutan yang tau."
Bisik polisi itu yang masih terdengar olehku.
"Ini ada apa sebenernya?"
Tanyaku.
"Kemarin, motor suami ibu kepalingan dan untung malingna ku saya tos ka bekuk di jalan nu ka lemang."
Ujar polisi itu yang khas logat sundanya.
"Ya Allah terus dim,"
"Tenang aja bu, ku saya tos diamankeun da. Tenang aja. Dan motornya sudah kembali. Dan yang penting, si bapa teu kunanaon."
Tenang aja, sama saya sudah diamankan dan yang paling penting, si bapak nggak kenapa napa. Begitulah artinya. Aku sedikit mengernyit heran masih tak mengerti.
"Gini bu, kemarin ayah lagi tidur, dan tiba tiba ayah denger suara kaca jendela sebelah kamar Arif pecah dan tak lama kemudian, ayah denger suara motor ayah dinyalakan."
Jelas suamiku.
"Jadi sama saya dipasang CCTV. Untuk mencegah terjadinya kepalingan lagi."
Sambung polisi ini. Aku lega dan segera menganggukan kepala sambil tersenyum.
"Oh gitu, yaudah nggak papa. Saya izin bebersih dulu ya pak."
Sahutku sambil melangkah menuju kamar.
Ibu arif Pov end.
Setelah mandi, aku keluar dan melangkahkan kaki menuju kamar. Aku membanting tubuhku ke atas kasur yang empuk.
Flashback.
Aku ingat disaat masa masa indah bersamanya. Aku juga ingat episode 10 disaat fida menyiksaku dengan begitu sadisnya hingga akhirnya seperti ini. Aku sungguh tak rela dan aku ingin kabur dari rumah dan menuju rumah fida. Tapi apadaya? Aku sempat melihat ada satu ruangan yang husus untuk seseorang memantau kamera dirumahku. Siapa lagi kalau bukan pak Doni. Aku takut Fida di apa apain. Fidaaaaaa, aku rindu kamu. Aku tanpa sadar menitikkan air mata. Aku tau aku baru berpisa dengannya beberapa waktu lalu. Tanpa sadar, aku mulai terlelap.
End of flashback. Disisilain di rumah Fida.
Ibunya Fida mulai menasehati anaknya.
__ADS_1
"Kenapa kamu berbuat seperti itu nak?"
Tanya ibu Fida lembut. Meskipun lembut, tapi Fida cukup gemetar. Tanganya yang memegang gelas susu pun bergetar dan, gompraang. Gelas itu pecah. Keringat dingin bercucuran membasahi rambut lurusnya.
"Ma mam ma ma ma,"
Fida terbata bata. Mukanya memucat. Bibirnya membiru.
"Tenang aja sayang. Ceritakan dengan tenang."
Sahut ibunya.
"A, a, a aku, aku, aku aku aku, nggak sengaja. A akunya l lagi ada tamu."
Sahut Fida.
"Iya, ibu tau. Tapi semarah marahnya orang lagi ada tamu, nggak mungkin sampe menganiyaya orang."
Ibu fida mulai tinggi suaranya. Fida kini menangis dan tertunduk lesu.
"Pokoknya ibu nggak ngizinin kamu ketemu sama Arif selama 3 bulan. Titik."
Ujar ibu Fida sambil menggebrak meja.
"Ibu nggak habis pikir, kenapa kamu tega! menyiksa anak orang."
Ucap ibunya sambil ngeloyor pergi. Fida menjadi down dan dia terus memukuli dirinya sendiri. Aku memang beloon, aku bodoh, aku belegug. Ucapnya dalam hati sambil mengambil pecahan beling yang agak besar dan dia mengarahkan ujungnya yang tajam kearah leher bagian depan. Dan, sreeeeet. Au. Pekiknya. Darah muncrat dari leher mulusnya. Dilanjutkan menuju pergelangan tangan sebelah kiri. Dan, sreeett. Aduuuh. Pekiknya lagi. Darah terus bercipratan kemana-mana. Terus dilanjutkan mengarahkan belingnya kearah pergelangan tangan sebelah kanan. Loh, kok nggak berdarah? Tanyanya dalam hati. Dia lalu mencobanya lagi. Sreett. Iya benar. Nggak berdarah. Ketika dia mengadahkan kepala, Dia terkesiap ketika matanya bertemu pandang dengan tatapan mata pak Doni yang teduh. Dia tidak ada raut wajah kesal atau marah. Yang pak Doni tunjukan adalah raut muka kesakitan akibat gesekan beling.
"Bab bapak?"
Tanyanya kaget.
Ujar pak Doni lembut dan menarik lembut tangan putih Fida. Ia hanya menurut saja tanpa banyak bicara. Setelah diobati, pak Doni mengajak Fida menuju ruangan khusus untuk memantau sekaligus mempersiapkan semuanya jika nanti Fida kembali bersatu dengan Arif. Ditempat sudah ada korban, ayah korban, pelaku dan pak Doni yang menjadi hakim dalam persidangan ini.
"Bagaimana, sudah bisa dimulai pak?"
Tanya pak Bambang ayah Arif.
"Tunggu sebentar."
Sahut pak Doni.
"Kita tunggu ibu dari tersangka."
Lanjutnya. Tak lama kemudian, ibu Fida pun datang dan pintu pun terbuka. Setelah masuk, sidang langsung dimulai.
"Baik tanpa banyak basi basi lagi, mari kita mulai. Langsung kepembahasan. Sekarang bapak tanya. Mengapa kamu tega begitu kepada arif?"
Tanya pak Doni sambil menunjuk muka Fida.
"Ma maaf pak, saya waktu itu lagi ada tamu dan si Arif megang megang barang punya saya pak. Mungkin bapak ngerti apa itu barang?"
"Nggak sumpah demi Allah. Aku nggak megang anumu, aku juga nggak megang yang aneh aneh dari tubuh kamu. Aku cuma kasian ngeliat kamu yang kayaknya tuh bener bener geraaaaah banget. Abisnya kamu jaketnya basah. Maksud aku itu pengen ngebuka. Bisi masuk angin."
Jelas Arif. Kini Fida hanya terdiam.
"Heueuh da kamu mah ditanya ku saya teh kalakah olohok wae da. Kadon nyoo jeket."
Iya, kamu mah di tanya sama saya malah bengong. Malah mainin jaket. Ujar pak Doni.
__ADS_1
"Jujur, aku waktu itu hilaf. Dan setelah aku ingat ingat lagi, kamu memang nggak megang apa apa dari aku. Rif, maafin aku."
Sahutnya sambil menangis.
"Yasudah begini saja. Saya akan menelfon anak buah saya untuk datang kesini sebagai saksi."
Pak Doni mengambil keputusan. Setelah berbicara seperti itu, tak lama kemudian anak buah pak Doni pun datang.
"Tah tanya sok bilih teu percaya mah."
Tuh tanya kalau nggak percaya. Ujar pak Doni.
"Iya saya yang lihat nak Fida membawa balok kayu dan dia menghantamkanya ke badan nak Arif. Saya jengkel dan saya melepaskan beberapa tembakkan peringatan untuk menghentikan ulah bocil ini. Kecil kecil udah jadi preman. Gedenya mau jadi apa?"
Tanya anak buah pak Doni. Lagi lagi Fida hanya diam dan menangis. Yang ada di pikirannya hanyalah keputusasaan yang berfikir aku ingin mati.
"Yasudah begini saja, saya siap apabila saya harus dihukum mati."
Ujar Fida pasrah.
"Memang hukuman mati itu bisa semudah yang kamu ucapkan? Dasar bod.h."
Anak buah Pak Doni mulai naik pitam. Fida terkesiap dan hampir tijengkang kebelakang.
"Iya, nak. Kami tidak bisa mengambil keputusan semudah itu, ini ada beberapa faktor. satu, kamu masih dibawah umur. Apakah anak dibawah umur jika salah harus dibela pak? Tidak begitu. Alasan kami mengapa tidak menghukum mati kamu adalah kamu itu masih perlu bimbingan, masih perlu arahan. Selama masih bisa dibina, ya bina saja terlebih dahulu. Dua, kamu masih perlu belajar dan mengenyam pendidikan yang layak."
Terang pak Doni tenang.
"Faham tidak!"
Bentak anak buah. Fida hanya manggut manggut faham dan keputusan akhir Fida dimaafkan.
"Yasudah, kamu kami maafkan dan saya harap, jangan diulang lagi ya, nak. Bagaimana semua, setuju?"
Tanya pak Doni.
"Setujuuuu."
Sahut seluruh hadirin.
"Oke kiranya begini saja terimakasih selamat malam."
Pak Doni menutup sidang malam itu.
"Kamu, jangan keluar rumah selama tiga bulan ya nak. Kecuali sekolah, kerja kelompok, acara dari sekolah dan acara yang penting lainya. Bapak akan mengerahkan anak buah untuk mengantar jemput kamu. Kenapa begini? Karena kamu sudah dianggap keponakan bapak. Mengingat ibu kamu harus bekerja mencari nafkah."
Terang Pak Doni seraya mengelus rambut Fida yang wangi. Suasana yang tadinya tegang, kini berubah menjadi haru.
"Makasih ya pak."
Ujar ibu Fida.
"Iya, sama sama."
Sahut pak Doni lagi.
Bersambung. Note author.
Hai readers ku semuaaa, ini adalah kisah nyata author lo, waktu itu author juga pernah salah faham sama sahabat perempuan author dibilang pegang pegang lah, itu lah, ini lah, blablabla. Hampir dipekarakan sih, tapi untung masih bisa di tahan dan dimaafkan. Kalau sudah begini, kedua pihak pun dilema dan bingung tentunya ya. Yang membedakan itu kalau author nggak pake kawal-kawallan atau pake kepala kepolisian segala. Oke gitu aja, nantikan episode berikutnya hanya di novel ini. thanks.
__ADS_1