MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
Ulang tahun ke 14, Part1


__ADS_3

Sebelumnya author minta maaf ya karena jarang up, kali ini author nggak ada kuota. Nah oke kita coba lanjut lagi ya.


Satu bulan kemudian. Hari ini tepat dihari ulang tahun Arif dan Fida ke 14. Sepasang remaja itu kini semakin cantik dan semakin tampan saja jika di lihat secara seksama. Begitu pun dengan indah. Sepertinya ia sudah membaik, ika dan bela juga udah berteman lagi tuh, malahan mereka ketawa tawa. Raka sedang memainkan ponselnya dipagi itu. Entah apa yang ia sedang otak atik. kedua memplay eh, kedua insan itu kini ingin merayakan ultahnya secara biasa saja. Tak banyak warga yang diundang. Eh, salah. Mereka bukan diundang tapi mereka sudah hideng sendiri untuk menghadiri ke acara ultah itu.


"Mau dirayakan lagi bu?"


Tanya ibu tetangga depan rumah kepada ibu fida.


"Ah nggak usah. Udah gede masa dirayain?"


Sahut ibu Fida sambil merapikan taplak meja.


"Oh gitu. Ya kali mau dirayain lagi, saya siap tenda kok kayak waktu itu. Hahaha."


Timpal ibu gendut itu.


"Ah nggak perlu. Ntar kalo pake tenda disangka mau kawin. Gimana?"


Timpal ibu fida.


"Hahaha, ya biarin aja toh bu, kawinin aja. Hahaha."


Candaan demi candaan terus terlontar dari kedua ibu ibu itu.


"Maaf bu, ayahnya fida kemana ya? Kok nggak pernah keliatan? Terus yang baca juga nggak pernah nanyain gitu? Dari episode satu ampe sekarang perasaan diem diem bae."


Tanya ibu gendut lagi.


"Ah, iya nih bu. Nanti saya jelasin ya, kalau udah ada yang nanyain kemana suami saya hihihi."


Sahut ibu fida tersenyum. Pagi yang cerah, matahari menyinari keenam insan muda yang sedang bersenda gurau dihalaman rumah fida. Burung burung berkicau merdu diantara pohon pohon. Ya, termasuk pohon gede yang disebrang kamar fida. Kalau kalian nggak tau itu pohon apa, jadi itu tuh pohon yang dipake untuk sembunyi sembunyi waktupas misi pencarian kebenaran alasan indah itu loh,


"Eh pak Doni ngomong ngomong kemana ya?"


Tanya Fida.


"Pak doni siapa toh dek?"


Tanya teh Indah. Ah, menurut author indah nggak pantes dipanggil teteh deh. Pantesnya dipanggil mbak kalau nggak kaka gitu. Udah ah terlalu banyak basa basi.


"Itu loh teh, yang nitip salam buat bapak arif duluu."


Sahut fida.


"Oooooooooooooooh."


Sahut Indah.


"Iih teteh ih."


Tambah fida menyepak kaki teteh indah.


"Au, sakit gob..og."


Pekik indah sepontan sambil menggeplak punggung fida. Biasa, kalo cewek berantem emang kayak gini kok.


"Eh teteh ngomong kasar. Huuuuu."


Sorak arif dan fida ampir barengan.


"Gara gara si dedek nih."


Kata indah mencubit pinggang fida. Indah kalau udah nyubit, bagi yang nggak kuat itu bisa nangis. Makanya Raka mah uddah biasa pinggangnya dicubitin ama pacarnya itu.


"Ah, hix. Sakiiiiiiit."


Jerit fida sambil balas geplak ke punggung indah.


"Uhuk uhuk."


Indah terbatuk. Cubitanya pun melemah.


"Woy! Ulah garelut wae atuh!!"


Teriak raka.

__ADS_1


"Nih tetehnya tah kaaa."


Sahut fida manja.


"Yaaaang?"


Kata raka melirik tajam ke indah.


"Iya iya iya maaf. Bongan siapa kamu tedaek diem atuh."


Kata indah manyun.


"Eh tar dulu. Kapan teteh bisa basa sunda?"


Tanya fida. Rasa sakitnya sudah menghilang karena kaget indah bicara sunda.


"Eh, kapan ya? Teteh juga nggak tau hihihi."


Sahut indah. Sisilain seperti biasa priska bela sedang ngerumpi.


"Yuk ah, daripada dengerin keempat insan itu, kerjaanya riiibuuut teruuuussss."


Ajak bela menggandeng tangan priska. Mereka duduk di tembok tempat bapak bapak ngopi saat sore. Berlokasi masih dipekarangan rumah fida, namun agak jauh dari halaman. Maklum, halaman rumah fida kan luas. Tanah selebihnya yang sekarang dipakai taman bunga oleh ibu fida disamping rumahnya itu merupakan tanah pembelian dari tetangga sebelah yang menjual rumah. Lalu rumah bekas tetangganya itu dirubuhkan, lalu dibuat taman. Loh kok jadi ngomongin tanah sih? Si author udah ngaco nih.


"Mau kemana?"


Tanya priska.


"Jajan cendol mang engkin."


Sahut Bela.


"Hah nggak salah tuh pagi pagi jajan cendol? Baru jam 09:00 loh."


Tolak priska.


"Mending jajan cilok aja tuh sana,"


Tambahnya.


Kata bela.


"Yaudah lah,"


Priska pasrah.


"Mang bubur dua, nggak pake sambel. Yang satu sambelnya dikit."


Pesan bela.


"Maaf neng, buburnya tinggal seporsi."


Kata mang bubur itu.


"Oh, yaudah satu aja."


Kata bela. Setelahnya, mereka membeli naskun untuk priska.


Sisilain di halaman rumah Fida.


"Kalian ada yang tau keberadaan si haikal?"


Tanya indah.


"Mau apa kamu nanyain si haikal?"


Tanya raka sinis.


"Tuh teh, pacarnya cemburu. Wlleee."


Ejek fida menjulurkan lidah. Indah melotot. Ku urang jailan siah. Gumam raka dalam hati. Berhubung sekitar ada bunga korejat, bunga ini menjadi obat mata jika mata merasakan gatal atau perih karena debu. Bagi kalian yang pengen tau seperti apa wujut bunga korejat, komen dibawah. Raka memetik bunga itu dan mencucinya bersih.


"Yang,"


Sapa raka dari belakang indah. Indah mendongak dan, clak, clak.

__ADS_1


"Sukses."


Raka turun dari kursi batu ditaman itu dan duduk menjauhi indah.


"Auuuuu, periiiih."


Pekik indah.


"Kamu tega yang."


Kata indah berlinangan air korejat yang bercampur kotoran mata. Huf, menjijikan. Belek belek yang menempel dimatanya sontak meleleh menjadi cairan lengket.


"Hueeekk."


Fida muntah melihat belek yang mencair itu.


"Hahahaha, rasain tuh."


Kata raka.


"Bongan saha popolotot ka batur atuh da. Hahaha."


Artinya, siapa suruh melototin orang. Tak lama kemudian, mata indah mulai membaik. Kotoran matanya sudah berhenti.


"Yang, kok mataku lebih ringan ya? Lebih jernih lagi."


Tanya indah yang sumbringah.


"Itulah khasiat bunga korejat. Pedih diawal, namun indah diakhir. Seperti namamu, indah."


Gombal raka. Indah terdiam. Ia menghambur kearah raka dan hendak memeluknya. Namun ia sadar, ini ditempat terbuka. Yang bisa ia lakukan hanya tersenyum dan duduk disebelah raka. Arif dan fida nampak lebih berseri sambil menceritakan mimpi mimpi tidurnya.


"Rif, kamu tau nggak?"


Tanya Fida.


"Mana bisa aku tau sementara kamu juga belum mngomong apa apa."


Sahut Arif lempeng.


"Ohh iya ya. Beberapa hari yang lalu aku mimpiin kamu, tapi nggak lama."


Mulai Fida.


"Wah, mimpi apa itu?"


Arif mendekatkan tubuhnya ke fida.


"Wanginyaa, kamu pake parfum apa fid?"


Tambahnya.


"Hehe ini bukan parfum, tapi ini wangi sampo. Oke ya aku mulai. Jadi aku itu lagi jalan jalan disuatu taman, aku tau itu jalan menuju ke sekolah kita, tapi entah mengapa, yang seharusnya kiri kanan itu rumah warga, ini malah taman bunga yang begitu luas."


Jelas Fida.


"Terus terus?"


Tanya arif penasaran.


"Tiba tiba kamu datang dan bilang, yuk kesekolah bareng. Terus kamu gandeng aku. Tapi bukanya kesekolah, ini malah masuk ke taman itu. Dan kamu menyelipkan bunga ditelinga aku."


Lanjut Fida seraya merangkulkan tangan kanannya ke leher arif.


"Setelah itu kamu membawa aku ke air terjun yang nampak indah dilihat dari jauh."


"Maap aku motong. Air terjunya warna oren bukan kalo senja? Dan warna emas dikala siang? Terus satu lagi. Apa warna air terjun itu menjadi pelangi saat sore hari dengan hijau berpadu biru menambah kesan kedamaian?"


Tanya arif lagi.


"Ya, itu benar. Kenapa kamu tau?"


Tanya fida.


"Ya, soalnya aku mimpi hal yang sama."

__ADS_1


Sahut Arif. Bersambung. Mohon like nya ya, share juga jika berkenan, vote nya jangan ketingalan. Sama tap hati kalau nggak bunga mawar ya. Untuk menyemangati author. Jika sudah, author akan rajin up deh. Satu hari satu.


__ADS_2