MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
PERPISAHAN YANG MENDADAK


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu dari kejadian itu. Haikal yang selama ini menghilang kembali datang di tengah tengah mereka dengan pacarnya, Alisa. Sore itu di sekolahan. Arif Fida dan teman teman sekelasnya sedang belajar olahraga di lapangan. Haikal yang sedaritadi sudah beres dengan jam pelajaranya kini berdiri menatap anak anak yang sedang berolahraga. Kemana yang lain? Kok dipinggir lapangan cuma ada gua? Tanyanya dalam hati heran. Dia belum tau kejadian kemarin. Ck, si Joe kagak masuk lagi. Haikal menggerutu ketika menatap barisan anak kelas 7 itu.


"Hai, kak. Nungguin siapa?"


Tanya Fita anak kelas 7 yang sudah selesai test dari guru olahraganya.


"Eh, nggak kok. Aku lagi nungguin itu tuh."


Tunjuk Haikal ke Fida dan Arif.


"Oh, aku duluan ya."


Sahut Fita. Haikal mengangguk. Tak lama kemudian, Arif Fida pun selesai.


"Woy, kemane aja lu."


Geplak Arif di pundak haikal.


"Sori bro, kemarin gua pulang dulu ke Jakarta."


Sahutnya. Anak anak yang mendengar sontak menoleh dan menatapnya benci. Entah karena apa.


"Woy, urang Jakarta woy!"


Pekik Suro ke pada anak anak lain.


"Geus geus geus geus. Lain keur nongton bola ai s.a."


Sudah sudah sudah sudah, bukan lagi nonton bola ari kamu. Sahut temannya. Arif yang mendengar mengajak Haikal dan calon pacarnya kabur.


"Udeh, cepet."


Bisik Arif. Mereka pun kabur dan mengobrol di atas tembok pembatas parkiran dan halaman sekolah.


"Eh, pada kemana tuh anak anak?"


Tanya Haikal. Arif menjelaskan semua yang telah terjadi di hari kemarin.


"Oh gitu ceritanya. Ya kali mereka pundung. Terus Raka sama si Indah kemana?"


Tanyanya lagi.


"Entahlah, kagak tau. Bodo amat dah mau kemana kemana juga. Toh bentar lagi juga ukk. Mungkin mereka mau ke kalimantan."


Sahut Fida bodoamat.


"Fid, kok hari ini kamu jadi lebih cantik sih?"


Puji Haikal. Arif yang cemburu sontak melotot.


"Hahaha, tenang bro. Ada alisa gua mah."


Sahut Haikal. Fida hanya tersenyum dan tersipu.


Disisi lain di rumah Bela.


"Oke, kita datengin aja tuh Arif sama Fida. Sukur sukur ada pasangan sialan itu."


Kata Bela nafsu. Kedua temanya mengangguk. Ketika sudah sampai di rumah Arif, Haikal Arif dan Fida sudah menantinya.

__ADS_1


"Halo abang Haikal."


Kata Priska centil sambil melambaikan tanganya.


"Hai."


Sahut Haikal.


"Kemana si Raka juga si keongnya?"


Tanya Ika.


"Kagak tauu."


Sahut ketiga temanya cepat.


"Huuuuffff. Sukurlah."


Ucap ketiganya serempak.


"Halo semuanya,"


Tiba tiba orang yang sedang di bicarakan datang.


"Maap nih guys, kayaknya aku nggak bisa lagi bersama kalian."


Kata Indah serius.


"Hah?"


Tanya semuanya kaget. Kecuali ketiga cewek itu. Mereka hanya pura pura.


Tanya Haikal kaget.


"Hehehehe, bentar lagi aku ama Raka kan lulus, jadi kita mau lanjutin SMA di kalimantan aja."


Jelasnya riang.


"Woy, lu mau kawin atau gimana sih? Kok raka ikut ikutan?"


Tanya Haikal tak terima.


"Entahlah, aku hanya ikut keputusan ortu aja. Dia bilang, mau kenal raka lebih lanjut."


Tambahnya.


"Aneh, kenapa nggak di Bandung aja si?"


Tanya Arif.


"Hahhhh, nggak taulah dek. Ortuku aneh."


Indah menghela nafas.


"Kapan berangkatnya?"


Tanya Fida.


"Malam ini juga."

__ADS_1


Sahutnya.


"Hah? Apa?"


Tanya Semuanya serempak.


"Yasudah, kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian."


Kata Arif pasrah.


Warning! Berhubung author udah buntu banget, nggak tau lagi harus mikir cari ide dari mana, jadi mohon maap kalo perpisahanya kurang sedih ya. Biasanya tingkat mood kita juga mempengaruhi ke hasil yang kita buat Jadi daripada dipaksa, mending ending apa adanya. Oke, lanjut.


"Iya maaf ya, kan orangtua Raka juga kerja disana. Sekalian ngedeketin ortunyalah."


Terang Indah lagi.


"Oke deh, hati hati dijalan, dan semoga apa yang di cita citakan bisa tercapai."


Kata Fida terisak.


"Mohon maaf, nanti malem kita sudah di pesawat. Kita berangkat magrib. Jadi kemungkinan kalau kalian nganter juga kita nggak akan bisa ketemu lagi."


Tambahnya. Raka yang sedaritadi diam, kini angkat bicara.


"Iya, maap ya. Da kumaha deui atulah."


Raka garuk garuk kepala.


"Bukanya nggak mau, tapi memang ini prosedur yang diterapkan."


Sahut Indah. Semua orang yang ada disitu menjadi tercengang dan apa daya, mereka hanya bisa mengikhlaskan dan kemungkinan besar mereka tidak akan kembali ke Bandung.


"Nanti kita kalau ada waktu bisa main main ke sini lagi kok."


Sahut Indah.


"Iya, kan kita bisa vidiocall."


Tambah Raka.


"Hix, yasudah, selamat jalan."


Kata Fida memeluk tetehnya untuk terakhir kali.


"Jangan lupain aku ya teh,"


Kini giliran Arif memeluk tubuh Indah.


"Nggak akan lah dek, teteh akan selalu inget sama kamu kok."


Sahutnya.


"Mungkin kita sudah harus pergi, karena waktu ceck in duajam sebelum keberangkatan. Jaga diri baik baik ya."


Sahut Indah. Mereka mengangguk tanpa bisa berkata kata.


"Kami pamit, mohon maaf kalo selama kita disini selalu menyusahkan kalian, selalu buat kalian susah. Nanti kita bisa mengobrol lewat chat ya."


Kata Indah lalu berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2