MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
Fida Sudah Bebas Dari penyelidikan 2 harinya.


__ADS_3

Aku yang sedaritadi kepeleset terus ketika ingin melangkah mundur dari Fida, akhirnya kini bisa berhasil dengan cara mengelap airmata Fida yang menggenang di lantai tahanan ini.


"Jangan diulang lagi ya."


Ujarku datar. Aku tidak bermaksud untuk membuatnya pundung, tapi yang dimaksud jangan diulangi lagi itu menangisnya. Sungguh, aku tidak tega melihatnya seperti ini.


Fida pov.


Sudah ku duga, Arif pacarku pasti akan marah. Aku siap jika dia memutuskanku. Aku siaap. Arif, maafkan aku. Aku janji nggak akan nyiksa kamu kayak gitu lagi. Dan aku janji, jaketku yang ini akan aku buang, dan aku akan menggantinya dengan yang baru. Kenapa, karena aku sakit setiap melihat jaket pembawa petaka ini. Dan aku berjanji, jaket yang baru nanti akan ku gunakan yang baik-baik, tidak akan digunakan untuk menyiksa orang. Pikiran ku melayang jauh. Ku lihat Arif mulai mendekat lagi kearahku dan dia mulai menggenggam tanganku lembut.


"Jangan ngelamun."


Ujarnya lembut seraya tangannya mengelus rambutku yang lurus rapi bagaikan air terjun yang bening jatuh dari atas tebing. Aku hanya bisa tersenyum merasakan belayan tulus Arif dirambutku. Ternyata aku salah, dikira Arif akan terus terusan marah tapi nyatanya tidak.


"Yang, kamu inget sesuatu?"


Tanyanya lembut.


"Apa ya?"


Tanyaku.


"Satu bulan lagi kita ulang taun loh."


Sahutnya. Yaampuun, aku sampai lupa bahwa sebulan lagi kami berdua akan ulangtahun.


"Oh iya ya. Aku lupa. Sini kamu."


Sahutku dengan manja seraya menarik tangan Arif.


"Aduh, apaan sih? Au."


Pekiknya saat jemariku mulai mencubit pinggangnya. Tapi dia hanya tersenyum. Waktu untuk menjengukpun habis. Dengan terpaksa, aku harus menyendiri lagi didalam sel tahanan.


"Fida, aku pulang dulu ya."


Ujarnya nampak berat. Waktu menunjukan pukul 15:00.


"iya deh. Ati ati ya."


Sahutku lemas. Karena tak rela di tinggal lagi.


"Jangan sedih dong, kan dua hari lagi kamu bebas."


Jawabnya.


"Iya deh iya."


Sahutku lagi sambil mengimut imutkan wajahku ini yang tidak imut. Tak sangka dan tak terduga, Arif mencubit pipiku. Aku terkesiap namun aku tersenyum.


Fida pov End.


Selepas aku berpamitan dengan Fida, aku melangkah menuju pelataran parkir. Sesampainya di pelataran, aku bertemu dengan pak Doni.


"Siang pak."


Sapaku.


"Siang juga Rif. Kamu udah sembuh?"


Tanya pak Doni.


"Ya Alhamdulillah lah pak. Cuma gini doang kok."


Kataku sambil menunjukan jaitan di punggungku. Kulihat, kaki pak Doni bergetar seperti menahan linu.


"Kenapa pak, dingin?"


Tanyaku polos.

__ADS_1


"Eh, enggak. Bapak cuma ngilu doang."


Sahutnya. Tuhkan bener, pak Doni pasti linu melihatku seperti ini.


"Emmmm, dek Arif, mau nggak ikut bapak jemput anak bapak Haikal?"


Tawarnya.


"Oke pak. Setuju. Saya juga kenal kok."


Sahutku antusias dan aku sebelum diperintahkan pak doni untuk naik aku langsung naik keatas mobil pak Doni. Pak doni hanya geleng geleng. Selama di perjalanan, kami terus mengobrol tentang Fida.


"Bagaimana dengan Fida pak? Apakah jadi dua hari lagi di bebaskan?"


Tanyaku memulai percakapan.


"Sudah bisa. Jangan panggil bapak ah kalau di luar kantor mah, bapakan masih muda."


Ujarnya.


"Terus harus manggil apa dong pak?"


Tanyaku.


"Panggil aja om Doni."


Sahutnya. Aku tersedak ludahku sendiri ketika mendengar panggil om aja. Pak Doni hanya terkekeh.


"Iya deh om."


Sahutku.


"Sudah bisa di bebaskan kok, tapi kalau masih melakukan hal yang sama, ada kemungkinan hukumannya lebih berat."


Ujarnya lagi. Aku terkesiap.


"Hu hukuman lebih berat?"


"Iya, itu bisa berupa denda senilai 10000000 rupiah."


Jelasnya.


"Insya Allah pak, eh om. Aku akan menjaga Fida dan menjaga sikapku sendiri kepadanya supaya tidak menimbulkan kesalah pahaman."


Ujarku. Tak terasa kami sudah sampai di pelataran sekolahku.


"Kamu kalau malu, diam saja disini. Atau mau ikut?"


Tanya pak Doni.


"Ikut pak."


Kataku seraya turun dari atas jok mobil. Berhubung pak Doni dan aku datang menggunakan mobil polisi, jadi seluruh siswa dan guru berlarian tunggang langgang.


"Om, ada yang suka ngejek aku."


Kataku.


"Tengang, ada om."


Ujar Pak Doni menenangkanku. Selama berjalan menuju kelas kak Haikal ada beberapa murid yang menatapku Sinis dan aneh. Pak Doni yang menyadari hal itu segera berteriak,


"Angkat tangan!! Jangan melihat keponakan saya seperti itu."


Ucapan pak Doni segera bisa menciutkan nyali anak anak itu. Bahkan ada di beberapanya ada yang tersandung anak tangga, ada juga yang keningnya tercium tembok. Aku hanya bisa terkekeh melihatnya.


"Eh Arif, ayah."


Ujar kak Haikal begitu turun dari lantai dua.

__ADS_1


"Ayo nak, kita pulang."


Setelah masuk mobil kami pun berkenalan lebih detail dengan ka Haikal.


"Eh Rif, Fida mana?"


Tanya Ka Haikal. Sempat ku lihat ada isyarat diam dari pak Doni. Aku pun faham.


"Dia lagi sakit di rumah Kakeknya yang ada di Lampung."


Kataku berbohong.


"Oh, udah berapa bulan?"


Tanya Ka Haikal lagi.


"Ya udah cukup lama sih, lupa."


Sahutku. Sengaja rahasia ini sudah menjadi rahasia pihak kepolisian dan aku juga Fida. Aku mencoba menanyakan asalnya ka Haikal.


"Eh ka, kalo boleh tau, kaka asalnya dari mana?"


Tanyaku.


"Gue, dari Jakarta, dan hobi gue, main sama cewek."


Sahutnya. Ayahnya yang mendengar ucapan Haikal pun menegur kaka kelas ku ini.


"Kaaal, belajar dulu ah."


Ujar pak Doni.


"Eh, iya yah."


Sahutnya. Aku hanya bisa terkekeh mendengarnya.


"Terus, gue juga suka main bola,"


Lanjutnya.


"Dukung apa kak? Pasti Persija ya?"


Tanyaku.


"Denger ye, meski gue orang jakarta, tapi gue berjiwa biru."


Katanya.


"Waaaah, berarti sama kayak aku dan author aku dong. Eh ngomong ngomong kaka tau nggak novel menuju ujung jalan?"


Tanyaku sekaligus promosi novel author ku.


"Hah, novel apaan tuh?"


Tanyanya nampak tertarik.


"Oh ini nih kak."


Kataku sambil membuka aplikasi novel yang author ku bikin cerita.


"Oooooooh yang ini, oke deh. Gue tau."


Sahutnya.


"Vote ya kak, follow juga, terus favorite juga ya."


Jawabku. Dan ka Haikal mengangguk.


Sesampainya dirumah, aku segera membersihkan badan dan segera rebahan. Begitu juga seterusnya. Selama dua hari tanpa Fida di sebelah kamarku. Aku yang rindu masuk dan beristirahat di kamar Fida. Sampai tak terasa dua hari telah berlalu. Aku juga telah mendapatkan chat dari pak Doni bahwa Fida sudah bisa pulang.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2