
Waktu menunjukan pukul 11:50. Berarti anak anak harus bersiap untuk menuju Masjid. Disekolah ini tidak ada paksaan untuk harus ke masjid. Karena disekolah ini menerapkan keyakinan masing masing. Jadi tidak ada yang usil masalah itu. Ini merupakan salahsatu aturan tertulis yang ada disekolah ini. Peraturan untuk tidak mengejek masalah budaya dan adat masing masing setiap siswa. Arif dan kawan kawan masih syok nampaknya akibat melihat mbak mbak yang tadi pagi. Ya siapa lagi kalau bukan Indah.
"Joe, menurut kamu itu tuh cewek asli atau mbak kun ya?"
Tanya Haikal.
"Lah, nanya ke aku. Mana aku tau."
Sahut Joe sewot.
"Kalo lu rif?"
Haikal menanyakan hal yang sama.
"Hmm, dari jaketnya sih gue kayak kenal."
Arif mencoba mengingat siapa pemilik jaket itu.
"Kalau nggak salah, itu jaketnya pacarnya kak Raka deh."
Arif mengingat sesuatu. Raka yang mendengar sontak melirik kearah Arif.
"Eits, tunggu dulu kak. Kan cuma mirip. Belum tentu itu kak Indah kan? Bukanya dia lagi pulang ke Kalimantan ya?"
Raka terdiam.
"Bro, gimana kalau kita intip gerak geriknya mbak itu?"
Usul joe tiba tiba.
"Hmm,"
Berdehem berjamaah.
"Boleh juga tuh."
Timpal Raka. Fida yang merupakan anak buah sekaligus tamengnya Indah pun kaget dan bingung harus bagaimana. Dia memang tidak ikut gabung dengan cowok cowok, namun pada saat itu ia sedang berjalan menuju kamar mandi. Aku harus waspada. Fida membatin.
"Kapan kita mulai penyelidikan?"
Tanya Arif.
"Hari ini juga."
Sahut Raka cepat.
"Ciee, masalah yang berkaitan dengan cewek aja kalian cepet respon. Tadimah pelajaran bu Cahyati nggak pada merhatiin kan?"
Ejek Arif.
"Ih, jangan munafikluuu! Emang situ kagak?"
Haikal tak terima.
"Hehehehe, bercanda brooo."
__ADS_1
"Sudah, jadi mau jam berapa ini kita mulai penyelidikan?"
Raka menengahi.
"Abis pelajaran Ipa aja deh. Kan itu beresnya jam 13:30."
Arif menjawab.
"Oke, sepakat ya."
Ujar Raka. Mereka pun ikut bermain ucing sumput.
Siang harinya, mereka ber4 pun menaiki sepeda meluncur menuju tempat persembunyian. Mereka mencurigai rumah Fida. Kenapa? Dari garasi nampak nyembul ban sepeda seseorang yang sedikit gundul. Mereka faham akan ciri-ciri detail sepeda anggota Sapeda Biru Club. Yang Indah bannya itu yang belakang sedikit gundul. Sementara ban depan masih bagus. Hanya dia seorang yang memiliki ban sepeda seperti itu cirinya.
"Guys, kesini."
Raka memerintah. Dia tau persis barang milik pacarnya itu. Dimulai dari tas, topi, gelang, jam tangan, sepatu, jaket, dll. Arif dan kedua temanya menghampiri.
"Tuh,"
Raka menunjuk.
"Ah lu, tau aje kalo itu milik pacarlu. Tapi tar dulu. Untuk apa dia menitipkan sepedanya disini? Bukankah dia pulang pasti kan sepedanya diamankan didalam rumahnya sendiri? Apa dia pulang kagak sama ortunye?"
Pertanyaan beruntun membuat keempat sekawan ini puyeng.
"Entahlah, maka dari itu, aku curiga."
Sahut Raka.
Disisi lain didalam rumah. Indah sedang gusar menunggu Kedatangan Fida. Dia mendengar kasak kusuk diluar pekarangan rumah. Dia bersiap menggunakan jaket dan masker hitamnya. Poninya sengaja dia turunkan ke kening. Agar tidak ada yang curiga jika dia harus keluar rumah. Maklum, kulitnya terlalu putih dan mulus. Sehingga memudahkan oranglain mengenalinya. Duuh, aku harus gimana ini? Indah makin gusar.
Indah yang mendengarnya sontak makin panik. Keringatnya mulai bercucuran. Keringat dingin tepatnya.
"Ah, masa sih kayak gini doang telfon pak Doni?"
Arif mencoba menenangkan suasana. Namun dari arah kiri Fida sudah berjalan santui menyusuri jalan yang menuju rumahnya.
"Stt, bro, dia datang. Cepat kabur atau sembunyi dibalik pohon besar itu."
Haikal memberi instruksi yang langsung dituruti oleh semuanya. Ketika sudah aman, mereka sebagian memanjat pohon dan memilih bergelantungan diatas sana. Sebagian lainya mencari dahan yang daunnya lebat. Setelahnya yang bersembunyi dibawahpun berjongkok untuk menghilangkan jejak. Sepeda sebelumnya sudah dia amankan diwarkop dekat rumah Fida. Mereka berempat berkomunikasi dengan gerakan isyarat saja. Ada yang menunjuk, ada yang saling polotot, ada yang melempar batu untuk memberitahu yang dibawah bahwa ada bahaya.
"Dek, kaka takut. Didepan ada bahaya."
Indah memeluk tubuh mungil Fida. Fida yang belum ganti baju pun dengan spontan melepas pelukan kakanya.
"Iya, kak. Bentar, aku ganti baju dulu."
Fida dengan terburu buru melepas seragamnya. Setelah selesai, Fida memeluk tubuh kakanya yang sudah terbalut jaket Hitamnya.
"Biar aku yang keluar ya, kak. Kaka diem aja disini. Pantau aku lewat jendela itu. Pastikan kaka tidak melepas jaket mau pun masker. Karena yang mengintip dari jendela didepan pohon itu sangat keliatan jika ada orang disini."
Indah manggut manggut. Fida keluar dan berjalan menuju pohon yang menurut dia bahaya. Yaitu pohon besar yang diatasnya ada Joe dan Haikal. Semakin dekat, semakin dekat, semakin dekat, dan dekat. Dekaat. Pluk, sebuah batu kecil Haikal jatuhkan tepat diatas ubun ubun Arif. Tanpa banyak pertimbangan, mereka perlahan beringsut-ingsut turun dari pohon besar itu. Ketika dibawah tepatnya dibalik pohon itu, mereka pun berlari tanpa menggunakan alas kaki. Kebetulan dibelakangnya terdapat hamparan rerumputan yang luas. Cakcekcakcek, suara telapak kaki mereka menginjak rumput. Sampai,
"Anjir!"
__ADS_1
Tanpa sengaja Haikal menginjak ranting pohon. Sontak mereka membekap mulut haikal.
"Dieem!"
Bisik Arif. Terus melangkah dan menjauh. Fida kehilangan jejak mereka. Fida kembali dengan membawa ide yang cemerlang.
"Kaaaaaak, amaaaaaan."
Seru Fida sumbringah sambil berlari kearah kakanya.
"Huh, syukurlah."
Indah membuka jaket dan maskernya.
"Aku ada ide kak."
Indah mendekatkan kepalanya.
"Biar nggak curiga, barusan aku melihat sepatu Arif dan kawan-kawan ada dibawah pohon itu, nah biar nggak curiga k aka simpen dulu sepedanya dibelakang rumahku."
Fida menjelaskan.
"Jadi, maksud kamu biar sepeda aku disangka dirumah gitu?"
Tanya Indah memastikan.
"Iya kak, baguuuus. Pintar sekali kaka ku ini."
Puji Fida.
"Tolonglah simpankan sepedaku. Cepaaat!!"
Indah memerintah dengan kasar.
"I i iya kak, bebebaik."
Fida melangkah keluar dengan tubuh gemeteran. Setelah menyimpan dan mengamankan sepeda kakanya, Fida kembali dan berkata:
"U udah kak."
Fida tergagap. Masih syok nampaknya dengan bentakan Indah tadi. Indah memeluk adiknya yang gemetaran. Tanpa bicara sepatah katapun.
"Kak, kaka marah ya sama aku?"
Fida dengan hati hati bertanya. Indah diam dan tak bergeming. Dia masih kesal dengan sikap Fida yang lelet dan terlalu banyak bicara menurutnya. Fida menatap sendu wajah kakanya namun Indah memalingkan muka. Tapi tetap memeluk Fida.
"Kak, jawab."
Fida mengguncangkan tubuh kakanya. Tetap, diam dan tidak bergeming.
"Kak, maafin aku."
Indah mengangguk dan membelai ujung kepala Fida.
"Udah, tidur yuk. Sepertinya kamu butuh istirahat."
__ADS_1
Fida hanya manut dan tidak banyak bicara.
Bersambung.