
"Hmm, anak ibu sepertinya tidak perlu berlama lama disini, karena kemajuan kesembuhan Fida juga sudah sangat baik. Kemungkinan, satu minggu lagi anak ibu sudah sembuh. Tapi, tidak sembuh total. Masih ada kontrol husus seminggu sekali kesini."
Ujar dokter panjang lebar.
"Oh, oke dok. Terimakasih."
Sahut ibu Fida.
"Kalau begitu, saya permisi untuk kembali bu."
Sahut dokter itu sambil melangkah menuju ruang jaga. Aku yang sedari tadi menyimak pembicaraan dokter dan ibu Fida menjadi sedikit tenang dan lega saat mendengar bahwa seminggu lagi Fida akan sembuh dan akan pulang.
"Fid, kamu jangan banyak gerak ya."
Ujarku.
"Iya rif, makasih banyak ya. Oh iya, ayahmu gimana?"
Aku kaget saat Fida bilang ayah. Pada dasarnya aku tidak izin pada ayah aku akan mengantar Fida ke RS ini.
"Ayah? Ini mau aku hubungi Fid."
Sahutku. Aku lalu menekan huruf a di daftar kontak di layar Handphone ku, dan mulai terdengar suara tuuuut, tuuut tuuut khas suara nada sambung.
"Ha, halo yah,"
"Iya ayah sudah tau kamu di rs untuk menemani Fida. Ibunya sudah menelepon ayah tadi. Kamu ayah izinkan untuk menemani Fida selama dia di rumah sakit."
Potong ayah yang begitu mengagetkanku.
"Oh iya atuh yah. Bearti arif nggak perlu ngomong panjang lebar ke ayah. Hehe."
Sahutku sambil cengengesan.
"Iya, rif. Sekarang ayah mau beres kerja, dan insya Allah ayah akan ke sana. Kamu mau dibawain apa?"
Tawar ayah padaku.
"Aku mau sate aja dan camilan ringan untuk ngopi nanti malem."
Pesanku.
"Oke, nanti ayah kesitu kalau nggak ada tugas tambahan dari boss."
__ADS_1
Aku tercengang saat ayah bilang boss. Sejak kapan ayah kerja? Dimana kerjanya?
Ah, yasudahlah. Nanti aku tanyakan.
"Oke yah."
Sahutku sambil memutuskan telpon dari ayah.
Ayah.
"Pak Bambang Arif?"
Panggil atasanku untuk segera menghampirinya.
"Iya boss? Ada apa?"
Sahutku sopan kepada atasanku itu.
"Ini, saya ada sedikit rezeki untuk anakmu yang masih menemani temanya di rs."
Lanjut boss sambil menyerahkan amplop putih yang di genggamnya.
"Oh, padahal tidak usah begini beginian boss, saya jadi tidak enak."
Potong bossku.
"Oke boss, terimakasih."
Bos langsung pergi melangkah menuju ruanganya dan menghilang dari pandanganku. Aku lalu melangkah menuju sepeda motorku yang terparkir di besmen kantorku.
Author.
Nah, jadi si ayah ini sudah di terima kerja di salah satu bang yang ada di kota bandung. Oke lanjut ke ceritanya ya.
Arif.
Aku masih menggenggam lembut tangan Fida yang putih.
"Fiid, masih pusing?"
Tanyaku lembut kepadanya.
"Ma ma masih Riif."
__ADS_1
Jawabnya sambil sedikit terisak. Ibunya yang sedaritadi memperhatikan kita berdua sekarang angkat bicara.
"cieee. Kalian akan ibu jodohkan ketika nanti kalian sudah menduduki bangku SMP. Tapi ingat, jangan lupa belajar yaa. Kalau ibu sampe liat kalian lupa belajar, ibu tak segan segan untuk memutuskan hubungan kalian."
Ancam ibu Fida. Aku dan Fida tersentak kaget. Aku tak tau harus ngomong apa lagi. Aku juga entah mengapa ibunya ngomong seperti itu tiba tiba lagi.
Sampai, drrrtt, ddrrrtt, drrt,
Getaran HP membuyarkan semuanya.
Setelah dilihat, ternyata itu ayah.
"Halo yah?"
Sapaku.
"Halo, ini ayah udah di rumah sakit tapi ayah bingung kamarnya yang mana? Ini malah nyasar ke kamar mandi."
Tanya ayahku.
Dan aku menunjukan dimana letaknya. Setelah ayah masuk, aku langsung disuruh makan bersama Fida.
"Yuk Fid, kita makan. Nanti kalau nggak makan kamu sakit loh."
Ajakku kepada Fida.
"Iya ayo."
Sahutnya.
"Cie, belajar dulu jangan pacaran dulu."
Ledek ayahku.
"Ih, apaan sih?"
Tanya Fida pada ayah.
Ayah dan ibunya hanya tersenyum.
Tak terasa, hari kelulusan pun tiba. Dan aku diminta oleh ibu Fida untuk mengambilkan ijasah milik Fida. Aku pun menyetujuinya.
Sesampainya di sekolah, aku langsung ke ruang guru dan langsung berbincang. Dan untung, tidak lama. Setelah dek dekan dan Alhamdulillah aku dan Fida lulus.
__ADS_1
Aku segera melangkah menuju gerbang dan mulai memesan grab bike di hp ku. Setelah datang, aku langsung naik dan segera meluncur menuju rumah sakit.