
Aku pun dengan semangat segera mengambil sepeda warna biru khas bobotoh Persib kesayanganku. Karena merasa sudah sembuh, aku lalu mengayuhnya dengan kencang. Setelah keluar dari komplek, aku segera membelokan sepeda ke kanan menuju jalan kuburan karena memang itu jalan yang terdekat menuju kantor Om Doni. Aku terus mengayuh dan mengayuh sampai sampai sepedaku hendak terbang disaat aku melindas batu besar yang menutupi jalan. Setelah melewati komplek kuburan, aku belok kiri dan mulai kurasakan jalanan sedikit menurun. Setelah itu, aku menaiki jembatan. Setelah melewati jembatan, jalan berkelok kekanan dan aku harus melewati satu rel kereta yang sudah tidak aktif lagi. Aku terus berjalan dan tak terasa didepan sudah ada pertigaan yang tandanya aku sudah hampir sampai di kantor polisi. Aku ambil jalan ke kiri. Jika kekanan itu menuju kembali ke daerah rumahku. Hanya saja jalannya lebih memutar dan membelah gunung. Sehingga terasa lebih jauh. Jalan itu juga diujungnya ada pertigaan lagi, kekanan menuju komplekku, kekiri menuju kompleknya Fida. Aku terus berjalan selama kurang lebih satu kilo meter dan aku pun sampai di pelataran parkir kantor polisi. Sempat kulihat pembatas jalan yang waktu itu Fida menyiksaku. Uh, sungguh memilukan. Fikirku. Aku memarkirkan sepeda, dan mulai berjalan menuju ruangan om Doni.
"Siang pak."
Sapaku ketika aku sampai di ruangan Pak Doni. Readers pasti udah tau kenapa aku jika dikantor polisi panggil bapak dan di luar kantor polisi panggil om ke Pak Doni.
"Iya, silahkan masuk nak. Tunggu, bapak beres beres meja dulu."
Suruhnya yang langsung ku turuti tanpa banyak bicara. Pak Doni pun beres membereskan meja kerjanya.
"Ayo, nak. Kita ke sel tahanan aja langsung."
Ajaknya seraya menarik tanganku. Sesampainya di sel tahanan, aku melihat Fida masih main boneka yang aku tidak tau darimana asal boneka itu.
"Dek Fida."
Sapa pak Doni. Kulihat, ia sekarang nampaknya sudah biasa dengan pistol pak Doni.
"Eh, iya pak?"
Sahutnya terkesiap.
"Bereskan bajumu!"
Perintah pak Doni. Nampaknya Fida kebingungan.
"Bapak mau ngusir aku?"
Tanya Fida sedikit berkaca kaca.
"Ya iya lah, memangnya kamu mau disini selamanya?"
Tanya pak Doni. Fida nampak mengernyit tak faham.
"Maksud bapak?"
Tanyanya lagi.
"Ini penjara sayang. Bukan rumah."
Pak Doni mencoba menjelaskan. Sekarang ia sekarang sepertinya faham dan ia pun segera memasukan boneka kucingnya bersama baju bajunya.
__ADS_1
"Loh, jaket kamu mana?"
Tanyaku sambil celingukan mencari jaket Fida.
"Dibakar sama aku di taman kantor Polisi ini."
Ujarnya dengan muka yang bahagia. Aku faham dan aku beralih ke topik lain sambil menunggu fida selesai membereskan barangnya.
"Terus, boneka kucing itu dari siapa?"
Tanyaku sambil menunjuk tasnya. Fida menghentikan aktivitasnya.
"Ini?"
Tanyanya seraya mengangkat boneka itu tinggi tinggi. Aku pun mengangguk.
"Ini hasil bikinan aku selama disini. Gimana? Lucukan? Cantikkan?"
Tanyanya.
"Nggak. Sama sekali nggak lucu."
Sahutku sedikit menyebalkan.
Dia bangkit dan berlari menuju tempatku berdiri dan,
"Au."
Pekikku saat Fida mencubit pinggangku.
"Maaf yang, maksud aku itu, nggak salah lagi. Apa lagi yang buatnya. Cantiiiiik banget."
Kataku sambil menarik senyum. Ia terkesiap dan ia membelalakan matanya.
"Udah ah, cepetan mau pulang nggak?"
Tanyaku. Dan ia segera berlari menuju tumpukan baju dan dengan tidak sabar ia masukan kedalam tas ranselnya.
Setelah beres, kami pun berpamitan dengan pak Doni dan beliau bilang nanti akan bertamu ke rumahku untuk sekedar bersilaturahmi dengan ayah.
Ketika sudah dijalan, fida nampak menitikan air mata disaat melihat pohon yang tumbang dengan bercak darah di akar pohonnya. Sudah bisa kupastikan, pasti itu darahku. Kubiarkan ia menangis sesenggukan disebelahku. Aku tak tau apa yang sedang ia pikirkan. Sempat ku lihat, ia melangkah menuju pembatas besi yang masih berdiri kokoh di depan pelataran parkir kantor. Entah apa yang ia lakukan, tapi yang jelas, ia menepuk nepuk tanah seakan ada janji yang ia ucapkan dalam hati. Aku melihat ban mobil yang tergeletak di pinggir halaman parkir ini dan aku mulai mencari dengan mataku dimana bolong bekas peluru waktu itu.
__ADS_1
"Yuk jalan."
Ujar Fida sambil menaiki sepedaku.
"Yang, tolong anterin aku pulang ya, insya Allah tiga bulan doang kok dirumah. Karena aku mau dinasehatin sama ibu, terus tiga bulan setelahnya, ibu mau cari kerja lagi di rumah kakek di Lampung."
Terangnya panjang lebar. Aku mengangguk sambil tangan kiriku memeluknya dari samping karena posisiku sedang mengemudi. Berarti aku mengambil jalan memutar yang membelah gunung yang kuceritakan tadi. Tak terasa, kami sudah setengah perjalanan melewati jalan itu. Disini udaranya sejuk cenderung dingin. Berkali kali Fida menggeletak kedinginan. Tubuhnya menggigil dan giginya saling terpantuk atas dengan bawah.
"Dingin yang?"
Tanyaku. Dan dia hanya mengangguk. Tanpa pikir panjang, aku membelokan sepeda ke warkop dekat pertigaan jalan yang kekanan menuju rumahku kekiri menuju komplek rumah Fida. Aku mensetandarkan sepeda dan aku melangkah masuk ke saung ini.
"Bu, jagung bakar keju pedas 2 sama,"
Aku menjeda perkataanku sambil melirik kearah pacarku.
"Kamu mau apa?"
Tanyaku. Lalu ia menunjuk jagung bakar rasa yang sama sepertiku dan ia menunjuk susu panas yang asapnya masih mengepul dari dalam gelas khusus susu.
"Susu panas dua, jagung bakar keju pedas 2."
Pesanku. Dan yang punya warung pun melayani pesananku. Lalu aku memilih tempat duduk yang dekat dengan sawah di belakangnya.
"Ehem, kamu kayaknya lupa lagi."
Ujarku tiba tiba.
"Lupa apa?"
Tanyanya. Sudah ku duga, dia pasti lupa.
"Hari ini kita ultah loh."
Kataku begitu antusias.
"Waaaah iya ya."
Sahutnya. Dengan gerakan tangan yang secepat kilat ia pun mencubit pipiku dan dia melangkah menuju kursiku dan ia menggelayut manja di pundakku. Untungnya pesanan kita berdua sudah datang. Kami pun makan tanpa banyak bicara. Setelah selesai, kami pun melanjutkan perjalanan yang tinggal seperempatnya itu. Dari kejauhan aku bisa melihat rumah Fida yang tak terlalu luas, namun ada ayunan di halaman depannya. Rumahnya nampak sederhana dan masih ada nuansa kampungnya. Kami membuka pagar rumah dan memparkirkan sepeda.
Bersambung. Note Author.
__ADS_1
Hai hai hai hai, readers ku semuaaaaaa. Hari ini aku akan dobel up loh, nanti malam. Nantikan dengan judul: Pengenalan tokoh dan karakternya. Oke, jangan lupa vote, like, follow, and favorite okeeee, thanks.