
Pagi ini aku sudah siap untuk berangkat sekolah ke sekolah baruku. Yaitu di SMP NN, bersama Fida. Setelah mandi, aku segera memakai dasi dan seragam smp ku yang nampak masih keras di bagian kerah menandakan bahwa seragamku itu masih baru. Setelah semuanya siap, aku melangkah menuju meja makan dan sarapan bersama Fida serta kedua orang tuaku. Sesampainya di meja makan, aku belum melihat tanda tanda bahwa makanan sudah siap. Tanda tanda itu terlihat diatas meja yang masih ada piring kosong dan tidak ada lauk mau pun nasinya.
"Hmm, tunggu bentar ya Rif, ayah mau goreng dulu telur. Tadi soalnya persiapan makanan kita habis."
Ujar ayah seraya melangkah menuju dapur.
Aku tak sadar bahwa ada ibunya Fida yang sedang duduk di depanku.
"Ibu, ada disini? Kapan kesini bu? Udah lama?"
Ku lontarkan pertanyaan beruntun kepada ibu Fida.
"Hehe iya rif, ibu baru nyampe kok. Dan disuruh sarapan bareng sama ayahmu."
Jawab ibunya Fida.
Tak lama kemudian, ayah pun datang dengan beberapa piring yang sudah terisi telur diatasnya.
"Ini, silahkan. Makan dulu."
Ujar ayahku ketika sampai di depan meja makan.
Lalu kami pun menyantap telur dadar yang sudah di buatkan oleh ayah. Setelah makan, kami menuju teras untuk memakai sepatu dan menuju gerbang rumah sambil menunggu ayah beres memanaskan motornya.
Setelah siap, aku di bonceng oleh ayah, sementara Fida di bonceng oleh Ibunya. Sesampainya di sekolah, kami langsung saja menuju kelas yang sudah di tunjukan di papan petunjuk yang tertempel di dinding koridor gedung aula. Setelah menyimpan tas, aku dan Fida segera berjalan menuju lapangan upacara untuk melaksanakan mpls atau mos. Sesampainya dilapang, kami langsung di tembaki oleh karet karet jepang yang di lontarkan oleh kaka kaka kelas kami.
"Ayooo, cepat kesini."
Teriak kaka kaka itu diatas koridor. Setelah itu, aku dan Fida mulai di ospek.
"Yo, loncat 50 kali. Yang kompak ya."
Ujar kakakaka itu lagi.
Setelah melompat, kami disuruh mencari cacing di selokan.
"Cari cacing yang berwarna hitam pekat di solokan depan gerbang."
Teriak kaka kaka itu lagi. Nggak terlalu berat sih, tapi cukup melelahkan juga.
"Yang bener dong. Itu namanya sampah bukan cacing. Dasar gblk."
Aku yang kesal lantas melemparkan isi wadah cacing itu keatas.
"Ini kita sudah benar kak. Cuma yang ada hanyalah sampah sampah plastik."
Teriak Fida dan teman teman murid baru lainya.
"Jangan banyak alesan lu ya. Carinya pake mata bukan pake mulut."
Teriak kaka kaka itu sambil melemparkan kembali wadah cacing itu. Kami pun tanpa banyak bicara mulai mencari cacing yang dimaksud. Setelah dapat, kami lalu menerahkan wadah itu ke hadapan kaka kaka yang kayaknya nggak ada otak itu. Disini aku suka heran campur kesal, kenapa sih kaka kelas itu kalau ada murid baru selalu dihina dan dicaci. Seharusnya yang menjadi kaka kelas itu membimbing dan mewarah adik kelasnya bukan di siksa seperti ini.
"Buka celananyaaaaaa!!!!"
Teriak kaka kaka yang nggak ada akhlak tersebut.
"Ssttt. Gila kamu ya."
Tiba tiba kaka perempuan benama Indah itu membekap mulut kaka kaka yang nggak ada otak tersebut. Ada untung nya aku merekam ini semuanya. Bukti ini akan diserahkan kepada polisi nanti.
"Biarin. Gimana gue. Lu kesana aja."
Bentak kaka kaka itu. Lantas kak Indah pun tersungkur keatas aspal.
Aku yang sudah tidak kuat lagi akan kekejaman yang dilakukan oleh kaka kaka yang bernama rahmat ini pun mulai maju.
"Sudah. Hentikan ka."
__ADS_1
Ujarku sambil menahan tangan kaka ini.
"Kamu, bocah sil n. Pergi sana."
"Atau, aku pegang anumu."
Kak Rahmat memegang anuku. Semua guru guru dan staf stafnya sudah merekamnya dengan kamera handphone mereka. Aku tak tau pasti kenapa, padahal kan sudah ada kamera CCTV.
"Kamu sudah, tidak usah,"
"Ssstttt. Hentikaaaaan."
Ujar Fida yang langsung menampar wajah kak Rahmat.
"Sil n kamu."
Kak rahmat hendak memukul wajah Fida, namun kakinya dilempar botol kaca sampai pecah oleh kak Indah.
"Kamu sudah gila."
Pekik kak Indah.
Sampai, aku pun melangkah menuju ruang guru.
"Permisi,"
Sapa ku.
"Iya, masuk nak."
Ujar pak kepala sekolah yang sedang berjaga didepan kamera CCTV.
"pak, telah terjadi pelecehan pada saya."
Ujar ku to the poin.
"Apa?"
"Iya pak. Ini buktinya."
Jawabku lagi sambil memperlihatkan dan memperdengarkan rekaman audio dan video tersebut.
"Si Rahmat memang kurang ajar."
Batin pak kepsek.
"Baik, terimakasih bukti dan laporanya."
Ujar pak kepsek dengan raut wajah memerah.
"Bagaimana jika saya. Melaporkanya kepada pihak kepolisian pak?"
Tawarku.
Dan nampaknya pak kepsek menyetujui tawaranku.
"Jadi mau bagaimana sistemnya?"
Tanya pak kepsek dengan wajah yang tertarik.
"Saya akan lakukan disaat dia sudah pulang. Boleh saya minta data milik kak Rahmat? Agar memudahkan polisi menangkapnya."
Aku mulai berujar.
"Baik, nak. Ini alamatnya."
Sahut pak kepsek sambil menuliskan sesuatu diatas kertas.
__ADS_1
"Ini."
Pak kepsek menyodorkan secarik kertas padaku.
"Baik pak. Terimakasih."
Sahutku sambil menjabat tangan pak kepsek.
Aku lalu berjalan menuju kelasku. Di kelas, fida nampak kesakitan dibagian punggung.
"Kenapa cantik."
Sapaku.
"Riiif, aku, aku, aku, aku ditendang sama kaka kaka yang nggak punya otak itu."
"Ayo kita pulang dan segera lapor ke polisi. Aku sudah punya bukti untukpolisi."
Sambungnya lagi.
"Berarti kalau begitu, kamu punya rencana yang sama kayak aku."
Sahutku.
Sementara itu di rumah Rahmat.
Rahmat pov.
"Mat, besok kita harus lebih kejam lagi ke anak anak baru. Apa mau dikata kalau aku terlalu baik kepada mereka semuanya?"
Ujar Dimas merencanakan sesuatu.
"Iya Dim, aku harus bawa benda apa gitu biar mereka takut."
Rahmat menimpali.
"Lu bawa tawon aja. Diplastikin. Kalau mereka ngelawan, langsung sengat aja."
Sahut Dimas.
Rahmat pov end.
Mereka tidak sadar bahwa kelakuan mereka sudah diujung tanduk.. Ketika mereka sedang asik asik mengobrol, tok, tok, tok.
"Permisi,"
Ujar seseorang di balik pintu.
"Ya. Masuk."
Sahut Rahmat.
"Selamat siang, dek rahmat. Saya dari PLN ingin mengecek keadaan listrik rumah adek."
Ujar pak bermuka galak tersebut. Rahmat tidak tau bahwa itu adalah polisi.
"Oh iya pak, tunggu. Saya panggil ibu dulu."
Sahut Rahmat mempersilahkan.
Bapak ini lalu menyuruh seluruh rekan rekannya masuk kedalam rumah.
"ini, perkenalkan ini ibu sa"
"Selamat siang bu. Kami dari pihak kepolisian ingin menyelidiki dan mengamankan anak ibu. Anak ibu melakukan kesalahan fatal yang menyebabkan anak dan juga ibu harus ikut kami menuju kantor polisi."
Terang salah seorang panjang lebar sambil memotong perkataan Rahmat dan menyerahkan bukti pada ibu rahmat. Ibu Rahmat nampak tak percaya namun ini adalah kenyataan. Mau tak mau, beliau harus ikut ke kantor polisi.
__ADS_1
Bersambung. Note author.
Hai semuanyaaaa. Senang sekali nih aku bisa menyuguhkan karya karyaku kepada readers ku tercinta. Mohon maaf jika masih agak pabaliut, hehehe. Dan maaf juga kalau author jarang up lagi. karena author kehabisan data. Insya Allah author akan lebih rajin lagi up ceritanya. Makasiih.