
Mereka terus berjalan hingga tiba tiba, "Guys, itu ada warung tuh." Tunjuk Indah. "Emmm, gimana kalo kita kesana aja? Mumpung besok libur." Ika menimpali. "Hah? Libur?" Tanya Fida. "Eh, sekarang hari apa sih?" Tanya arif. "Waduh, lupa boss." Sahut Fida. "Aaah, bodo amat dah, mau senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, bahkan minggu aku bodoamat. Karena aku bener bener lupa." Teriak Indah. "Gini ajalah, kalo besok ada yang nyariin ke rumah masing masing dari pihak sekolah, berarti masuk. Begitu juga sebaliknya." Kata priska. "Jenius." Sahut sahabatnya. Tak terasa mereka ternyata sudah sampai di depan warung. "Udah, kita nongki disini ajalah." Kata raka. "Iya dah, ayo." Sahut indah. Mereka pun berjalan beriringan menuju dalam. "Ih, perasaan kak raka nempel terus deh. Ehem ehem." Ledek Fida. "Iya nih, kayak perangko." Ejek arif. "Huuuu, emang kalian kagak?" Tanya ika, priska, bela. "Ah teteh, iri aja orang ama yang udah punya. Sono, tuh ama bintang, maman, tuh sono." Ejek Fida. "Ih, yang nempel itu bukan aku, tapi nih, si kapas." Raka menimpali. Indah yang mendengar sontak mencubit keras pinggang raka. "Kenapa aku disebut kapas hah?" Kata indah gemas. "A, aa. Soalnya, eee, soalnya, soalnya kamu putih." Sahut raka kesakitan. "Teh indah udah atuh teh kasian ih." Kata fida. "Bodoamat. Apa kamu pengen teteh cubit juga?" Kata indah berbalik badan. Dia nampaknya tidak sadar bahwa raka sudah melarikan diri ke arah meja ibu penjaga. "Ehem, sejak kapan kalian nyebut teteh?" Tanya arif. "Eemmmm, kapan ya? Barusan spontanitas. Hahaha." Kata indah. "Eh, mbeb lu kemana?" Tanya ika. "Eh, kemana ya si meong?" Indah celingak celinguk. Rambutnya yang panjang berkibar berlawanan arah. Dia menoleh kekanan, rambutnya ke kiri. Begitu juga sebaliknya. Memang tak salah sih raka mencari seperti dia. Ah, apaan sih? Skip. Oke lanjut. Itumah cuma selingan agar nggak serius amat. "Teh, itu coba liat." Tunjuk fida. "Heh, semprul, duduk aja kagak ngajak ngajak. Pengen dikasih hukuman nih orang yaa." Dengan muka sangar ia menghampiri raka. Dengan tidak terduga, indah berdiri disebelah kiri raka, dan cuuuutt. "Siniin minumnya." Kata Indah. "Nggak." Sahut raka. "Siniin!" Indah merebut teh botolan itu. "Enggak." Raka tetap mempertahankan jabatannya eh botolnya. "Siiiniii." Jerit indah. "Ennggg," Belum sempat dia menjawab botol itu sudah digenggam dengan sukses ditangan kanan indah. Hahhh, yasudahlah. Gumam raka dalam hati. Cowok memang selalu salah dimata cewek. Tambahnya. Dia pun kembali memesan susu m..o dingin. Setelahnya ia duduk kembali disebelah indah. "Tuh liat, tadi ribut, sekarang akur lagi." Bisik priska. "Iya, aneh banget dua manusia ini." Sahut bela. "Kita berempat aja sini. Biarin si ika jomblo hahahaha." Kata fida. Ya, dimeja itu ada Priska, fida, bela, arif. Sementara ika masih bingung mau milih apa. Namun pada akhirnya ia memilih es, alpuket dingin. Dia duduk disebelah meja mereka. "Guys, ada yang jomblo tuh. Hahaha." Ejek dari meja fida. "Eh, iya, anak siapa tuh?" Tanya Indah. "Anak banci hahahahaha." Ejek ejekkan terus saja terlontar dari keenam insan muda itu. Sisilain di cafe. "Kamu milih putus, atau kamu berubah sikap. Aku nggak suka kamu berlaku seperti di jakarta. Ini bandung bukan jakarta, ini jawa barat bukan ibu kota," Nyanyi haikal. "Terus, mau kamu apa hah?" Tanya alisa marah. "Dengerin dulu koplak." Bentak haikal spontan. Alisa terdiam. "Gua kagak suka lu cari keributan dibandung ye. Mereka pergi gara gara lu som..ak!!" Maki haikal. "Coba lah untuk berbaur dengan masyarakat bandung, kamu harus menyesuaikan diri, dan kamu harus bisa menahan diri agar tidak legeg. Kamu itu sudah besar. Seharusnya lu bisa membimbing dan memberikan contoh pattern yang mudah. Eh, maksudnya contoh sifat yang baik gitulo. Lu harus bisa menyayangi adik kelas lu. Jangan asa aing. Asa aing pang benerna." Kata kata itu pernah haikal dengar dari sahabatnya. Raka. "Nerti nggak lu!!!!" Bentak haikal sekalilagi. "Hix, i, i iya yang. Maafin aku. Hix hix." Dia menangis. Nampaknya ia sakit hati dengan perkataan haikal. "Yang, maafin akuuuuu. Hix. Aku janji, nggak akan gitu lagi." Alisa memeluk tubuh haikal. "Udeh, sekarang kite cabut." Dengan kasar haikal merangkul pundak pacar barunya. Lalu ia memesan taksi online dan sepedanya ia lipat dan masukan ke bagasi. "Yang, yang. Hix, yaaang." Ujar alisa mengguncang guncangkan tubuh haikal. "hix hix, kamu masih marah?" Tanya alisa berlinangan airmata. Haikal segera mendekapnya dan ia memeluk tubuh pacarnya lalu mengelus punggung kekasihnya itu meskipun ia dalam hati masih kesal. "Huuuuuuu, huuuu, hix hix." Tangisan pilu terus terdengar dari mulut alisa. "Yaaang, maafin aku." Dia masih ngacoblak didekapan haikal. Sekali lagi ia menenangkan kekasihnya. Sisilain diwarung. Ejek ejekan nampaknya mulai berhenti karena muncul pengamen. "Ih itu abang pengamen kok jelek amat ya?" Tanya priska blak blakan. "Ada badut bau kelek. Nongkrongnya ditaman. Biarin abang jelek, tapi banyak teman hahai." Sahut abang itu. Sontak saweran duit maratusan masuk ke lubang gitar si abang. Abang itu pergi dan tak lama kemudian, barisan ika, fida, priska, arif pun mengundurkan diri. Kecuali dua insan yang sudah lupa waktu itu masih saja bermesraan di warung itu. "Bro, kita duluan ya." Kata ika. "Iyah." Kata indah. "Teh, awas jangan digodain ya, ntar nangis loh." Kata fida. Setelahnya dengan tidak bertanggung jawab ia pun ngeloyor menuju sepedanya. "Awas loh dek, nanti ada om pocii!" Teriak indah. Fida yang mendengar hanya menjulurkan lidah ke tetehnya. "Kapan kita pulang say?" Tanya raka. "Bentar lagi ah." Sahut indah. Beralih ke jalanan. Alisa masih saja menangis dan sekarang tiba tiba dia karena ngantuk, dia pun tertidur disebelah haikal. Ari udah gininye gue kasian ama dia. Aku tak perlu meminta maaf, karena jelas ia yang salah. Gumam haikal. Tak terasa mereka sampai di rumah. Eh bukan rumah. Hotel maksudnya. Haikal merangkul alisa dan coba membunyikan bunyi aneh dari mulutnya. Biar aku jelaskan. Dia membunyikan, b, t, k. Secara keras dan berulang. Alisa yang mendengar seperti bunyi dram itu pun terkaget dan dia menatap keluar mobil. Sesampainya di kamar hotel. "Makasih ya yang." Haikal tidak menjawab. Biarin biar mikir. Gerutu haikal. "Yang," Alisa coba memanggil lagi. "Yang, ih." Kali ini alisa gusar hingga ia menonjok kasur yang sedang ia duduki. "Maaf." Kata dia lagi. Haikal nampaknya tidak tega dan ia pun menghampiri lalu dia memeluk dia. "Udah, udah aku maafin." Kata haikal lembut. Dengan sekejap, alisa kembali gemetaran dan pipi yang sedikit berjerawat itu basah digenangi airmata. "Setelah ini, aku mau kamu jadi cantik dan jangan ada polisi tidurnya di sebelah hidung kamu tuh. Jijik tau." Omel haikal. "Hihihi, iya. Aku juga jijik sebenernya, tapi nggak ada obat yang pas." Sahutnya. "Udah, nanti aku anter ke salon." Jawab haikal sekenanya. "Yeeeeyy." Dia kegirangan. "Woy, aku ini baru 15 tahun, mana bisa aku hasilin duit tongtong?" Kata haikal. Alisa nyengir dan haikal berkata lagi. "Kalo lu mau kesalon, pake duit lu sendiri. Bukanya lu ada duit? Tadi mahal loh harga steak nya." Kata haikal lagi. Alisa hanya manggut manggut centil. Dirumah Arif. Sesampainya mereka berlima di rumah arif, mereka mendudukan belakang mereka keatas kursi. "Huhhh, capeknyaaa." Keluh fida. "Iya, aku juga nih." Sahut Priska. Bersambung.