MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
Nekat


__ADS_3

Indah pov.


Kini waktu menunjukan pukul 20:00. Tak terasa aku corat coret diatas buku yang sedaritadi ada dipangkuanku. Aku ingat bahwa aku belum makan. Wah, kalau pacarku tau, pasti dia bawelnyaaaa minta ampun. Aku melangkah menuju ruang makan dan aku duduk disebelah bapak yang sedang baca koran. Ketika aku duduk dan hendak mengambil nasi,


"Kamu masih berhubungan dengan Raka herdiana?"


Aku tersentak kaget dan aku juga kaget kenapa bapak menyebut nama lengkap pacarku. Aku menjawab:


"Ee, iya pak, kenapa?"


Bapak meletakan korannya.


"Hmm, bapak sih jelas nggak setuju ya kamu sama dia, lebih baik kamu sama anak sebelah kampung aja."


Bapakku ngotot. Memang sejak awal beliau tidak suka aku berhubungan dengan pacarku. Aku bukan tipekal orang yang suka dijodoh-jodohkan. Aku paling benci itu. Aku menarik nafas dan bilang,


"Ah nggak mau pak. Jijik ah sama diamah."


Aku perlahan menyuapkan makanan kemulutku.


"Oh, jadi gitu. Kamu sudah berani ngelawan?"


Bapak berdiri.


"Ya bukan maksud Indah ngelawan, pak. Tapi Indah juga pengen milih sendiri. Indah nggak mau dipilihin."


Kataku jujur.


"Ah, bapak tidak habis pikir sama kamu. Mau maunya kamu pacaran sama dia."


Bapak kembali duduk.


"Emangnya kenapa sih pak?"


Tanyaku yang sedikit jengkel.


"Raka itu miskin. Dia itu pergaulannya nggak bener. Masa kamu mau punya pacar yang berandalan kayak gitu."


Aku menangis dan aku tak mampu memendung airmataku. Bapak naik pitam.


"Pak, bapak tau darimana? Ketemu juga be,"


Tiba tiba bapak menggebrak meja dan berteriak.


"Pokoknya bapak nggak mau kamu sama dia."


Aku menjawab. Bukanya aku ngebantah, tapi seorang anak juga pasti mempunyai keinginan dan pilihan masing masing bukan?


"Yang mau pacaran itu indah atau bapak pak? Kan bapak pernah bilang ke Indah. Bapak izinkan kamu untuk berpacaran, asalkan jangan lupa belajar. Dari situ bapak tidak menyebutkan bahwa Indah harus dengan anak bencong sebelah itu pak."


Aku menjeda. Aku sudah tak bernafsu. Aku menjelaskan sedikit berteriak. Aku harap, kalian yang baca tidak beranggapan aku ini anak tidak sopanlah, anak nggak tau diri lah, anak yang tidak tau diuntung lah, dll. Karena kalian tidak tau seberapa perihnya jadi aku.


"Perlu bapak tau, dia itu anaknya manja pak. Masa makan makan juga minta disuapin sama aku?"


Bapak nyerocos.


"Ya berarti dia perhatian sama kamu ndah, nggak kayak Raka herdianj.ng itu."

__ADS_1


Aku menangis ketika pacarku disamakan dengan hewan berkaki 4 yang biasa menggonggong ini.


"Paaak."


Kataku lirih.


"Diam kamu!!!! Lebih baik kamu sekarang turuti omongan bapak, atau kamu tidak diperbolehkan keluar rumah. Bahkan, jika perlu, sekarang kamu keluar dari rumah ini, dan jangan pernah kembali lagi. Kecuali kamu kembbali dengan menggandeng tangan anak sebelah kampung."


Tegas bapak yang begitu menyakitkan.


"Baiklah, jika memang ini yang bapak inginkan."


Aku menyudahi makan malam itu dan aku minum.


"Indah pamit, assalamualaikum dan selamat malam."


Aku melangkah gontai dengan beruraian airmata. Kukemasi barang barang dan aku melangkah pamit menuju kamar ibu.


"Buu, Indah pamit."


Ibu jelas mendengar keributan tadi didapur. Ibu membelai rambutku dan berkata.


"Sabar ya nak, ibu akan coba berbicara baik baik sama bapakmu. Ibu setuju jika kamu sama Raka. Cuma sekarangmah wayahna. Maafya, bukan ibu ngusir, tapi jika dijelaskan sekarang, takutnya bapakmu makin menjadi. Satu pesan ibu. Jaga dirimu baik baik ya nak."


Ibu mengecup keningku dan aku menangis lalu memeluk ibu.


"Iya bu, ibu disini jangan banyak pikiran ya, percayalah, Indah akan baik baik saja."


Setelah itu aku memakai jaket tebalku, dan rambut sengaja ku urai. Aku memakai tas sekolah lalu melangkah menuju garasi. Tujuanku saat itu adalah rumah Fida. Pacarnya adiku. Sengaja seluruh kejadian hari ini hanya Fida saja yang tau. Sesampainya dirumah Fida, aku memarkirkan sepeda digarasi luasnya dan aku melangkah menuju pintu utama. Kuketuk pintu. Tak lama kemudian Fida membuka Pintu. Nampak ia kaget dengan kondisiku yang masih berlinang airmata.


Aku menjawab:


"Aku diusir fid, gara gara aku pacaran sama Raka."


Fida tanpa sengaja membanting pintu dan pintu terbuka membentur tembok.


"Ceritanya panjang Fid. Aku minta izin sementara waktu aku sembunyi disini ya."


Kataku menjelaskan.


"Iya sok weh kak, masuk yuk. Masuk."


Adikku ini menarik tanganku lembut. Aku saat ini benar benar tidak mau apa apa. Bahkan membuka ransel dan jaket pun tak mau.


"Ada apa sih kak? Cerita coba sama aku."


Fida memeluk tubuhku. Perlahan tapi pasti dia melepas tas yang sedang digendong olehku. Dia hendak membuka jaket yang kukenakan juga tapi aku cegah. Aku tidak mau melepas jaket. Karena jika dilepas, dadaku semakin sakit seolah tak ada penekan diatasnya. Dia pun urung. Aku perlahan menceritakan semua kejadian kepadanya.


Author pov.


Memang perjodohan tidak semuanya mengenakan, terlebih apa yang dialami oleh gadis berumur 15 taun ini. Ya, namanya Indah Ayu Putri Lestari. Dia begitu sakit hatinya. Dia itu orang yang menurut author sih, yang paling pengertian ya. Lo, jadi curhat hihihi. Oke lanjut. Dia memeluk adiknya lebih tepatnya pacar adiknya. Dia telah menceritakan semua keluh kesahnya kepada Fida. Fida hanya terdiam dan sesekali menanggapi cerita kakanya.


Author pov end.


"Oh, jadi gitu ceritanya, iya deh. Aku faham kak. Tapi saran aku, kaka harus menghilang dulu dari rumah. Sekitar 10-15 harian. Biarkan suasana mendingan terlebih dahulu."


Saran adiku itu. Aku manggut manggut faham. Aku mulai menyusun rencana. Aku berniat tidak akan masuk sekolah demi melancarkan prank Raka. Memang sedikit berlebihan sih, tapi aku ingin membuat dia bahagia. Biarlah aku seorang yang tak bahagia, asalkan dia bahagia. Lagi lagi aku menangis yang langsung dipeluk adiku.

__ADS_1


Keesokan harinya, aku izin ke guru tidak masuk sekolah. Aku stress. Aku sakit. Aku bingung. Dari semalam kerjaanku hanya melamunkan pacarku dan menghawatirkan kehidupanku sendiri. Bahkan sangking asiknya melamun, jaket tebal yang melekat ditubuhku belum kusentuh resletingnya dari tadi malam. Aku membuka jaket dan segera melangkah menuju kamar mandi. Kukucurkan syower hangat ke tubuhku. Ah, begitu nikmat dan segar. Setelah mandi dan keramas, aku herdayeran didepan cermin dikamar tamu yang sekarang ditempati olehku.


"Fiiiid, kaka pinjem herdayermu yaaa."


Aku berteriak.


"Iya, ambil saja."


Aku terkaget. Ternyata itu ibunya Fida.


"Eh, ibu. Pinjam ya. Hehehehe."


Aku sedikit malu.


"Iya, anggaplah seperti dirumahmu sendiri. Kapan datang nak?"


Tanya ibu Fida.


"Tadi malam bu, tadinya aku mau salam ke ibu tapi ibu sudah tidur."


Kataku berbohong.


"Oh, iya. Dengar dengar kamu ada masalah ya sama bapakmu."


Aku jadi semakin malu.


"Eh, eng. I iya bu."


Aku tergagap. Ibunya Fida membelai pucuk kepalaku.


"Sabarnak, kamu adalah gadis remaja yang kuat, kau seorang wanita yang hebat. Ibu yakin, kau bisa. Bisa menghadapi semua cobaan yang terus menghantam. Ini belum seberapa, nak. Ibu lebih perih lagi perjalanan cintanya. Kau baru 15 tahun, dan masih panjang waktumu untuk memperbaiki hidup. Dengan datangnya cobaan, Tuhan pasti sedang mengujimu. Seberapa setiakah kamu sama pacarmu?"


Aku terenyuh mendengar penuturan ibu Fida. Aku menghentikan aktivitasku dan aku memeluk beliau.


"Hix, hix, iya bu, makasih."


Kataku.


"Tapi ingat, jadikan pacarmu itu hanya untuk sebagai penyemangat dalam belajar dan hidupmu."


Ibu melepas pelukanya. Aku mengangguk dan tersenyum.


"Yasudah, ibu pamit mau ke pasar dulu ya."


Aku mengangguk lalu ibu meninggalkanku di kamar tamu ini. Kulanjutkan herdayeran. Waktu masih menunjukan pukul 06:00.


Indah pov end. Disisi lain.


"Eh, aku nggak nyangka ya, si Indah sampe segitunya sama Raka."


Ujar Bela.


"Ih, iya. Aku aja yang pengen jadi pacarnya raka juga susaaahnyaa minta ampuuun."


Sahut Priska seraya menepuk nepuk dada. Indah resmi tidak mengikuti *** selama seminggu kedepan dengan alasan pulang kekalimantan. Disisi lain, dia juga tertekan batinya ingin mempunyai pacar dngan pilihan ia sendiri, tapi jodoh ada ditangan ortu. Bagaimana kelanjutanya? Apakah Indah dan Raka Herdiana akan bersatu? Apakah Arif dan Fida tetap malu malu kucing untuk nembak duluan? Stay terus di Menuju ujung jalan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2