MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
Full episode, Indah Pov


__ADS_3

Indah Pov.


Aku masih syok dengan kejadian keributan tadi di mang Engkin. Aku masih dirangkul oleh pacarrku. Bibirku bergetar.


"Yang,"


Sapaku.


"Hmm, apa say."


Sahut pacarku.


"Aku mau pulang ke Kalimantan aja."


Sahutku.


"Apa? Kenapa secepat ini? Aku nggak mau kamu pulang."


Pacarku sedikit nge gas.


"Ih, bukan gituloo. Disini aku takut sama Joe. Aku takut kamu berantem lagi sama dia. Hix hix."


Aku menangis.


"Please say, jangan pulang dulu. Semua kan ku lakukan semua keinginan kamu."


Rayu pacarku lagi. Aku memang berniat pulang ke kalteng, tapi aku urungkan ketika pacarku bilang apa? Secepat ini? Aku tidak tega. Yasudahlah, aku kerjain aja tuh anak.


"Nggak bisa yang, keputusanku sudah bulat. Dan aku sudah membeli tiket."


Aku menakut nakuti. Suasana haru mulai terasa.


"Hahhhh, yaudah, aku nggak bisa ngelarang semua keputusanmu, karena bagiku, kebahagiaanmu kebahagiaanku juga. Aku harap, kau tetap menjaga hati ini. Jangan kau berikan kepada yang lain."


Lirik lagu. Kini tiba saatnya ku pergi, kumohon jangan tangisi walau perih. Suatu saat nanti, untukmu disini. Kuakan kembalii wuowuououo. Cobalah tuk tetap bertahan, dan terus bertahaan huooo. Suatu saat nanti, untukmu disini, kuakan kembaliii.


Aku tertegun ketika pacarku menyetel lagu itu dari handphone nya. Aku menangis, namun aku harus berusaha membuat sandiwara didepan pacarku. Aku memutar otak. Namun disaat pusing pusingnya pacarku berkata.


"Kapan berangkatnya yang?"


Aku menjawab.


"Besok."


"Hah? Apaaaaa?"


Pacarku langsung tumbang dan tidak berdaya dikakiku. Namun dia tidak pingsan. Aku sebisa mungkin untuk menahan tawa. Sampai akhirnya sangking tertekanya perutku, ada pedal bas yang tak sengaja terinjak. Dut, sedikit bau sih, tapi yasudahlah.


"Eh, apa itu?"


Tanya pacarku.

__ADS_1


"Eh, anu, eng enggak yang."


Aku menahan malu. Boro boro pengen ketawa, malu yang ada.


"Kamu kentut, nggak papa."


Sahut pacarku. Malu ya tetap malu. Aku hendak berlari namun ketika aku melangkah tanganku digenggam lembut oleh pacaku.


"Nggak usah malu say, kan apa pun yang kamu lakukan, aku selalu sedia menerima imbasnya. Kentut sekali pun."


Aku memerah. Aku tak tau lagi harus berbuat apa. Aku hanya tersenyum dan menyandarkan kepala ke bahunya.


"Kapan kamu pulang lagi?"


Raka bertanya.


"Perginya aja belum udah nanyain kapan pulang."


Aku cemberut.


"Haha iya iya."


Dia mengelus rambut panjangku.


"Aku nanti kan pulang, kamu jangan nangis ya. Aku kayaknya nggak akan lagi kesini."


Aku masih menakut nakuti. Sedikit tak tega, tapi aku harus tegar.


Aku menjelaskan sekali lagi.


"Ngerti nggak sih kamu tuh!!"


Aku sedikit kesal ketika aku menjelaskan dan tidak mengerti saja. Raka pun terdiam. Mungkin sakit hati. Aku terhenyak kaget. Duh, maafin aku yang. Semua ini aku lakukan demi nge prank kamu.


"Sttt."


Aku sedikit menyenggol bahunya dengan bahuku. Diam, dan tidak bergeming. Aku makin tidak enak saja. Sekali lagi aku senggol pinggangnya dengan pinggangku. Baru dia ada respon. Dia menatapku lirih dan sedikit sendu. Apa aku jujur saja ya? Ah, pusing.


"Yang, aku pulang dulu ya, mau mandi."


Kataku. Dia mengangguk. Aku pun memeluknya. Dia membalas pelukanku. Dia membelai rambutku dan dia berkata lembut sekali.


"Hati hati. Aku kan selalu ada dibelakangmu untuk mengawalmu.


Aku tertegun, dan sedikit terlarut dalam pelukanya.


"Meski pun aku tidak tau, bagaimana nasibku setelahnya selepas kau pergi."


Pacarku mengambil hp nya dan kini aku berada dalam rangkulanya.


Lirik lagu: Selepas kau pergi, tinggalah kini ku sendiri, kumerasa, kan sesuatu, yang tlah hilang dalam hidupku.

__ADS_1


Aku semakin terharu saja dibuatnya. Dia menurunkan tanganya dibahuku dan dia menggandeng tanganku menuju sepeda. Aku pun tersadar dan langsung naik diatas sadel. Taklupa dengan diikuti oleh orang yang kusayang dari belakang. Ku berdoa, ya Tuhan, janganlah engkau memisahkan kita berdua. Aku sangat sayang terhadap pacarku.


Sesampainya dirumah, aku langsung dirangkul dan dituntun masuk kedalam rumah.


"Makasih ya yang."


Hanya itu kata yang mampu terucap dari bibirku.


"Iya beb, sama sama."


Setelahnya, pacarku pun kembali menaiki sepedanya dan dia pun pulang. Pikiranku kacau, dan tubuhku penuh dengan debu. Aku melangkah ke kamar mandi dan aku menangis. Sungguh benar benar tak tega sebenarnya nge prank dia. Aku besok akan menghilang dulu dari daerah ini. Dan aku akan menghubungi teman temanku untuk dimintai tolong agar rumahnya bisa aku tinggali selama satu minggu kedepan. Kan satu minggu lagi Raka ulangtahun. Aku akan memberinya kejutan dengan aku tidak jadi pulang ke kalimantan. Aku ambil HP, dan ku tekan nomor Fida terlebih dahulu.


"Halo Fid,"


Sapaku.


"Iya, ada apa?"


Sahut Fida.


"Boleh minta tolong?"


Aku sedikit memelas. Dia menjawab,


"Minta tolong apa, kak?"


Aku pun menjelaskan apa maksudku. Setelah faham, telfon pun terputus. Aku kini bergantian dengan menelfon Ika. Ku jelaskan semua maksudku. Setelahnya, aku telfon kedua si centil. Priska dan Bela. Setelah semua faham akan maksudku, aku pun meletakkan HP dan aku berbaring santai diatas kasur empukku.


"Nak, darimana saja kamu ini?"


Tanya ibuku. Aku menjawab.


"Main sama anak anak, bu."


"Main kemana?"


Tanya ibu lagi.


"Nonton Persib bu."


Sahutku.


"Oh, yasudah. Makan dulu yuk, bapakmu udah nungguin."


Ibu membelai ujung kepalaku.


"Nanti saja, bu. Aku belum laper."


"Oh, yaudah. Nanti makan ya nak."


Kata ibu seraya mengecup keningku. Aku tersenyum dan ibu keluar kamar. Waktu menunjukan pukul 19:01. Masih sangat sore bagiku jika harus tidur. Aku pun iseng menulis diari. Semua kenangan bersama pacarku, termasuk rencana gilaku itu. Semua kutulis di buku. Diluar kamar hawanya terasa dingin, tapi dikamarku kenapa sangat panas? Aku mengikat rambut panjangku menjadi seperti ekor kuda. Aku berdiri lalu melangkah menuju kipas angin.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2