MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
Penyelesaian masalah.


__ADS_3

Fida pov.


Aku terduduk termenung dengan ponsel yang masih menyala yang menampilkan isi chat ku kepada Arif. Tanpa diduga dia membalas chatku. Dia berkata:


"Iya, nggakpapa. Aku paham kok."


Ujar dia melalui vn. Aku lega dan aku menangis. Aku rogoh tasku dan ku keluarkan kalung dan cincin emas itu. Aku ingat ini bukan buat yang aneh aneh tapi ini untuk tabunganku kedepannya. Aku masih tak habis pikir umur masih segitu kok dia sudah punya niatan untuk memberiku tabungan kedepan. Sementara dianya juga kadang kadang masih suka butuh sesuatu yang memperlukan biaya banyak. Contoh, peralatan sekolah, dan kebutuhan apalah aku tak tau. Bagaimana nanti jadinya jika ayah dan ibunya tau? Bagaimana jika dia dimarahi? Bagaimana jadinya jika dia dilarang untuk berteman denganku?


Pertanyaan itu terus saja menghantuiku. Waktu saat ini menunjukan pukul 12:30. Dia berkata lagi.


Sekarang aku menuju kesana."


Katanya. Aku lalu membalasnya.


"Iya atuh, ati ati ya."


Setelah mengabariku, aku masukan kalung dan cincin itu kedalam tas kembali. Tak perlu menunggu lama, Arif sudah tiba di kantor polisi. Kulihat dia berjalan memasuki sel ini. Dan,


"Ariiiiiif, maapin akuuu."


Aku berdiri dan aku menghambur memeluknya.


"Iya iya. Udah. Nggak papa kok. Yuk duduk yuk."


Sahutnya sambil menarik pelan tanganku. Aku pun duduk dan aku masih menangis.


"Udah, jangan nangis."


Ujarnya. Aku pun mengelap airmata.


"Eh, kamu tau nggak, ada apa seminggu lagi?"


Tanyanya.


"Nggak tau."


Sahutku.


"Seminggu lagi kita ultah loh,"


Katanya dengan penuh semangat.


"Eh, iya ya. Aku lupa."


Kataku sambil tersenyum.

__ADS_1


"Besok lusa kamu keluarkan?"


Tanyanya.


"Emmm, nggak tau."


Sahutku lesu.


"Kamu baik baik disini ya. Aku terus mendoakanmu."


Katanya sedikit sedih.


"Makasih ya."


Aku tertunduk. Dia tersenyum.


"Udah makan?"


Tanya Arif lagi.


"Udah."


Sahutku. Aku termenung dan pikiranku melayang. Rif, maafin aku ya. Aku janji lain kali aku akan lebih teliti lagi untuk memperhatikan pergerakan seseorang. Jaket ini akan aku buang. Entah mengapa, setiap aku memandang jaketku, aku merasa sangat sangat bersalah. Aku akan membuangnya. Aku juga akan mengembalikan kalung ini. Karena aku tidak mau terjadi apa apa dengannya.


Gertaknya. Aku terkesiap dan hampir terjatuh kebelakang. Bahasa sundanya, tijengkang.


"Hahaha, mikirin apa sih?"


Tanya Arif.


"Rif, gimana kalau kalung ini serta cincinnya aku kembalikan kekamu. Aku nggak mau terjadi apa apa sama kamu."


Kataku. Dia nampak tenang dan serius menatapku.


"Terjadi gimana, maksudnya aku nggak ngerti."


Ujarnya.


"Aku takut kamu dimarahin sama ayah kamu. Aku takut kamu diomelin. Umur segini udah mau ngasih barang yang mahal ke orang lain. Sementara kita masih bocil. Kita baru kelas 7. Masa udah kayak gini, emangnya kita mau itu apa?"


Aku nyerocos. Dia terus mendengarkan.


"Jadi kamu takut ada apa apa sama aku? Dan kamu takut ada pertanyaan yang tidak bisa kujawab?"


Tanya arif. Aku mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah, aku ambil."


Ujarnya.


"Ini. Ntar dijual aja. dan uangnya kamu pake buat jajan. Jadi nggak perlu minta ke ayah. Tau ayah kamu belum sepenuhnya bekerja kan?"


Kataku. Dia mengangguk dengan wajah yang terharu.


"Makasih fid, kamu sahabat aku yang paling baik."


Katanya. Aku mengangguk sambil tersenyum. Tak terasa waktu menunjukan pukul 15:00. Yang dimana waktu untuk menjenguk sudah habis.


"Oke, aku pulang dulu ya. Tar aku suruh kang Fauzan untuk menjualkan. Aku pulang. Assalamualaikum."


Ujarnya seraya memasukan kalung itu ke sakunya lalu berpamitan kepadaku.


"Iya, ati ati. Waalaikumsalam."


Fida pov end.


Setelah berpamitan, aku berjalan dan aku segera pulang untuk menemui kang Fauzan. Dia teman nobarku. Setelah bertemu, aku langsung saja menyerahkan kalung ini sambil berkata:


"Kang, pang icalkeun ieu. Nu si Pida."


Kataku. Dia menatap sekilas ke kalung itu. Eh lupa. Artinya, Kak, tolong jualkan kalung ini. Punya Fida.


"Naon terus maksudna,"


Tanyanya nampak masih bingung. Apa terus maksudnya? Dia masih nampak bingung.


"Enya pang jualkeunn."


Kataku.


"Oooh, enya atuh. Menta sapuluh persen atuhnya. jang biaya kadituna."


Ooooh, minta sepuluh persen atuh ya. Buat biaya kesananya. Sahutnya seraya menaiki motornya.


"Nyalah, beres."


Kataku. Tanpa banyak tanya, dia melesat menuju toko emas. sukurlah. Pikirku.


Bersambung. Note author.


Hehehe. Maafin author ya kalau masih acak acakan. Sumpah bingung. hehehe. Jangan lupa vote ya. Makasih.

__ADS_1


__ADS_2