MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
Bermain Petak Umpet


__ADS_3

Hai hai hai hai, author kembali lagi nih. Sebelumnya author minta maaf untuk yang komen tapi belum sempet author balas dikarenakan author tidak ada sinyal untuk membuka novelku di profil. Hihihi. Maklum, daerah author termasuk daerah susah sinyal. Oke gimana? Penasaran kan dengan si Indah dan kawan kawan? Yuk kita persiapkan diri dulu.


Waktu menunjukan pukul 06:30 yang dimana seluruh anak anak sudah masuk kelas masing masing untuk ***. Raka berjalan menuju kelasnya Indah namun dia tidak menemukan batang hidung pacarnya. Ahhh, yasudah. Mungkin dia sedang sakit. Pikir raka Dia nampak mengingat sesuatu. Oh iya yah. Dia kan sekarang pulang. Fikirnya lagi. Seketika dia berubah menjadi murung dan sedih. Raka melangkah menuju kelasnya tapi ketika di jalan, ada Fida yang sedang berlari menuju kearahnya. Dan apa yang tejadi? Bruuuukkk. Tabrakan tak terelakan.


"Eh, maaf Fid."


Ujar Raka yang malu sekaligus menahan sakit.


"Heh, heh, heh, heh. Eng, enggak papa kak. Aku yang salah."


Sahut Fida terengah-engah.


"Emangnya mau kemana sih?"


Tanya Raka.


"Kekelas, kak. Aku ada tugas yang lupa dikerjain tadi malam. udah dulu ya kak, aku mau kekelas dulu."


Fida kembali berlari menuju tempat yang dituju. Namun bukan kelas. Kemana ya dia?


Disisi lain Indah sedang duduk santai diatas pagar pembatas tempat parkir. Dia mengenakan baju serba hitam, bahkan dia memakai jaket tebal yang juga berwarna Hitam. Dia memakai masker yang berwarna hitam juga. Sepatu hitam, tas hitam, ah, pokoknya serba hitam. Ini semua demi nge prank pacarnya. Ketika Fida datang, ia langsung membuka maskernya.


"Huh, engap aku."


Ujar Indah lega.


"Heh, heh, heh, heh. Capek kak."


Keluh Fida saat datang.


"Gimana dek? Ketemu sama Raka? Apakah dia muncul raut wajah yang sedih atau gimanaaa gitu?"


Ya, dia hanya beralasan saja kepada kak Raka tadi. Dia sebenarnya hendak lari menuju gerbang tempat dimana dia dan Indah mengintai gerak gerik raka.


"Iya kak, dia nampak terkejut dan sedih seperti baru ingat sesuatu jika dilihat dari raut wajahnya mah."


Fida menjelaskan. Ada senyum bahagia yang terpancar di wajah Indah.


"Baguuus, udah sekarang kamu masuk sana, tar lagi mau dimulai loh."


Indah menasehati. Fida hanya manggut manggut dan segera melangkah. Ketika Indah akan bersantai lagi didepan sekolah, tepat saat dia akan melepas jaketnya, pada waktu yang sama pula Arif dan kawan kawan datang. Waduh, gawat. Pekik Indah dalam hati. Dia buru-buru mengenakan jaket dan maskernya kembali.


"Eh, sttt, guys. Liat, siapa dia?"


Tanya Joe.


"Ih, iya. Siapa mbak itu? Samperin mau nggak?"


Tanya Haikal. Waduh, gimana ini? Indah semakin gusar.


"Lu kagak mikir apa? Ntar lagi jam 07:00. Gimane si luu!! Giliran cewek aja lu semangat. Giliran matematika bu cahyati mah ogah ogahan."


Tegur Arif. Haikal nyengir kuda.


"Yaudah yuk, masuk."


Ajak Joe. Mereka melangkah melewati Indah yang nampak seperti hantu itu.


"Pe per, permisi m, mbak."


Sapa Arif.


"Silahkaaaan."


Sahut Indah dengan suara datar dan menyeramkan.


"Uaaaaaaaaaa, hantuuuuuuuu."


Sontak mereka kocar-kacir menuju kelas. Hihihihihihi. Rame juga ya, ngerjain mereka. Duh dek, ini kaka. Kenapa kamu sebut mbak? Hihihihi. Indah tertawa terpingkal-pingkal. Sampai,


"Mbak, maaf. Dari sekolah mana ya?"


Tegur satpam.


"Eh bapak. Ini pak, saya kaka dari salah satu murid disini."

__ADS_1


Indah terpaksa berbohong. Tentunya dengan suara paling lembut yang pernah ia punya.


"Oh, ngapain disini jika sudah selesai mengantarkan adik si mbak ini?"


Satpam mencurigai sesuatu.


"Ini saya mau pulang pak."


Sahut Indah dengan menaiki sepedanya. Satpam itu pun tersenyum dan lalu melangkah kembali menuju pos. Indah mengayuh sepeda dan dia akhirnya sampai di depan rumah Fida. Huuuh, akhirnyaaa. Ujar Indah lega. Gerah banget aku. Pengen mandi lagi rasanya. Dia kembali bergumam dalam hati. Dia melepas masker dan jaket yang dikenakannya. Dia melangkah masuk lalu meletakan jaketnya diatas kasur. Dia selanjutnya melangkah menuju kamarmandi dan cuci kaki. Setelahnya, ia berbaring santui diatas kasur sambil main HP.


Disisi lain dirumah Indah. Ibunya nampak menangis dan memohon kepada bapaknya Indah supaya untuk menerima kembali anaknya dirumah ini. Dan untuk masalah pacar, ibunya juga sudah membicarakan.


"Paak, apa bapak nggak kasian sama anak kita? Dia baru umur 15 taun lo pak."


Ibunya terus memelas.


"Bapak bilang tidak ya tidak buu!!!!"


Bapaknya nyolot.


"Tapikan dia belum kerja pak, dia juga butuh biaya untuk hidupnya diluar sana."


Ibunya makin sesak dadanya.


"Biar dia cari kerja sendiri. Dasar anak tidak tau diun,,"


Plak. Sebuah tamparan mendarat dipipi kiri bapaknya Indah.


"Kamu berani ya sekarang menampar saya? Dasar nggak tau diri. Nggak ibu nggak anak sama saja."


Ibu makin histeris.


"Justru anda yang tidak punya otak dan tidak tau diri!!"


Ibunya kembali melayangkan tamparan kepipi kanan bapak Indah.


"Coba mikir pak, mikiiiir seteh. Mikir. Kalau anda yang diposisi anak saya, lalu saya yang menjadi anda. Lalu saya mengusir anda dari rumah? Apakah anda akan sakit?"


Teriak ibu Indah. Bapaknya terdiam.


Ibunya kembali mengancam. Bapaknya terhenyak kaget.


"Jejejangan bu. Jangan."


Bapaknya berdiri dan memohon kepada ibu.


"Oke, saya akan menuruti keinginanmu, tapi dengan syarat Indah kembali dengan membawa lelaki yang dia suka."


Emosi kedua ortu itu pun menurun. Dan keputusan akhir Indah harus kembali dengan membawa Raka. Eits, bukan mau di bawa menuju jenjang berikutnya yaa, tapi ini hanya sebagai sarat agar Indah bisa kembali pulang.


Disisi lain. Indah sedang bobo cantik diatas kasur tamu yang ada dikamar itu. Waktu menunjukan pukul 08:30. Ibunya Fida yang baru pulang dari pasarpun tak dihiraukannya. Entah capek, entah masih mengantuk akibat tadi bangun kepagian, entahlah. Tidak ada yang tau.


Disekolah. Kedua anak centil ini sedang bergosip ria dikantin sekolah sambil nyemil gorengan.


"Eh, si Indah kok mau maunya ya ngorbanin ketinggalan pelajaran demi ngasih surprais ke pacarnya."


Bela dengan mulut penuh berbicara.


"Maaf, mbak, kalau makan jangan sambil ngomong."


Tegur adik kelasnya yang sepertinya murid baru.


"Eh, iya maaf."


Bela tersipu malu. Anak itu lalu ngeloyor pergi.


"Ihh, iya. Jijai ngedengernya juga ih. Terkesan alai alai gimanaaaa gitu ya."


Sahut Priska yang tak kalah kencangnya.


"Hmm. Neng, maaf,. Disini bukan dihutan. Ini warung alias kantin."


Tegur ibu Kantin.


"Eh, iya bu."

__ADS_1


Lagi lagi kedua si centil itu kena kartu kuning. Hahaha.


"Terus, emangnya masalah?"


Ika tiba tiba berdiri dihadapan mereka.


"Iri? Bilang boss. Hahai."


Ejek Fida.


"Ya enggak sih. Tapi terkesan berlebihan aja gituu. Iya nggak sih Bel?"


Tanya Priska yang minta dukungan.


"Kalo mau minta suport ke bobotoh sonoo. Jangan ke aku."


Sahut Bela sewot.


"Ih, dasar semprul."


Priska segera berlari menuju kelas 8A. Kelasnya. Anak anak yang dikantin pun tertawa.


Kriing krrrriiing.


Bel berbunyi. Menandakan jam pelajaran akan segera dimulai. Waktu menunjukan pukul 11:00.


Disisilain dirumah Indah.


"Coba telfon lagi bu,"


Ujar bapaknya Indah. Ibunya pun mencoba menelfon nomor anaknya, Indah Ayu Putri Lestari.


"Halo nak,"


Sapa ibu sambil me load speaker handphonenya.


"Iya bu. Ada apa?"


Tanya Indah yang baru tersadar dari mimpi indahnya.


"Nak, ibu mau nanya. Maaf ganggu jam pelajaran kamu. Kamu lagi sama Raka nggak?"


Indah tersentak.


"Enggak bu. Kenapa?"


Indah mulai waswas.


"Nggak, ibu nanya doang. Kata bapak, kamu diperbolehkan pulang. Asalkan kamu menggandeng tangan cowok yang kamu suka."


Sontak Indah berbunga-bunga. Tapi ia ingat akan misinya selama 7 hari kedepan.


"Iya bu. Indah pasti pulang. Dan Indah akan membawa Raka kesana. Tapi nggak hari ini bu. Soalnya Indah ada kerja kelompok sama Fida."


Indah membuat alasan.


"Oh, iya. Sebisanya aja nak. Tuntaskan saja dulu tugasmu."


Ibunya menasehati.


"Iya bu."


Sahut Indah.


"Yasudah, ibu mau ngobrol lagi sama bapakmu yang agak susah mengerti ini."


Ejek ibunya seraya melirik dengan tatapan ledekanya.


"Iya bu."


Setelah itu telfon pun terputus. Ibunya melirik kembali kesuaminya.


"Gimana, sudah dengar kan?"


Tanya ibu sedikit geram. Bapak hanya mengangguk lirih.

__ADS_1


Bersambung. Note, ini hanya cerita rekayasa belaka. Tidak mengandung cerita asli. Jadi sorry banget kalau alur ceritanya ada kesamaan dengan pengalaman reader semua. Terimakasih, hatur tengkuy. Bapak Dian bawa cendrawasih. Sekian dan terimakasih.


__ADS_2