MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
Meminjam Uang


__ADS_3

Sisi lain dirumah Haikal. Haikal pov. Ah, jenuh amat sih. Gerutu haikal. Dia berteriak seorang diri kawas nu gelo. Kayak orang gila.


"Woooooy, apa kagak ada orang? Gue sendiri niih." Dia berteriak dikamarnya. Nyokap pergi, bokap dines entah ke kota apa, kagak bilang. Lah gue? Gue bener-bener jomblo. Gerutu haikal dalam hati. Namun tiba tiba,


Kriiiiiing, Krriiiing, krriiiiiiing.


Duh siapa sih? Tanya dalam hati.


"Halo,"


Tanpa membaca siapa yang memanggil, ia langsung saja mengangkat.


"Kal, nongki yuk. Biasa, di cafe biasa kitaaa."


Ajak Alisa teman SD Haikal.


"Eh, lis, kapan lu kebandung?"


Tanyanya lagi.


"Dari 10 menit yang lalu. Ini gue baru turun dari kereta."


Sahut Alisa. Perlu kalian tau, alisa ini merupakan wanita asli asal Jakarta tepatnya di cibubur. Ya, sarangnya baju oren. Hahaha, bercanda. Dia berumur 16 tahun, berparas tidak terlalu cantik, kulitnya putih, tinggi badan 160 senti meter, dan dia hobi jalan jalan.


"Oooh, gitu."


Sahut haikal lempeng.


"Ah, oh, ah, oh. Gua tabok lu ya!"


Alisa cemberut.


"Hahaha bercanda my girl friend."


Alisa yang mendengarnya sontak menelan bulat bulat permen yang sedang ia ****.


"Uhuk uhuk, apa? Coba lu ngomong sekali lagi."


Alisa senyam senyum sendiri.


"Emmm, bercanda pacarku."


Haikal menggoda.


"Iye, gua mau kok."


Alisa keceplosan.


"Aa apa? L, lu mau?"


Tanya haikal.


"Iye, gue mau jadi pacarlu."


Nada alisa tiba tiba mendadak menjadi sangat superduper serius. Haikal yang mendengarnya sontak senang dan bilang,


"Iya sayang, aku mau ketemu sama kamu."


Alisa senang dan dia berkata,


"Duh, kamu ini. Iya aku tunggu ya beb."


Lantas alisa menutup telfon. Loh ini kenapa, kan gue cuma asal ngomong, kenape dia tiba tiba jadi kayak gini? Gue harus minjem uang ke siapa ye? Kan gue kagak ada duit sepeserpun. Ujar haikal dalam hati.


"Halo, ka lu punya duit kagak? Gue ada perlu nih."


Haikal tudepoin meminjam uang ke Raka.


"Apa? Duit? Iya gua ada nih."


Sahut raka.


"Berapa emangnya?"


Tambahnya.


"Kalau ada, 50000 aja."


Dengan malu haikal mengatakan.


"Sip, sini ambil."


Ujar raka.


"Oke boss."


Haikal mematikan telfon dan meluncur ke TKP. Sesampainya disana, ia mencurahkan semua yang telah terjadi kepada Raka.


"Gini bosku, gue dapet telfon dari si Alisa."


Raka memotong.


"Cieee, cakep tuh kayaknya."


Kata raka.


"Nah iye, gue pada awalnya sih cuma bercanda doang ngomong pacarku, nah tiba tiba dia mau jadi pacar gue, dan akhirnya gue jadian sama dia."


Raka terbelalak.


"Apa? Jadian?"


Raka sewot.


"Iya. Dia ngajakin ketemuan. Lu mau ikut kagak? Tapi, maap, gue kagak ada duit."


Haikal tersipu malu. Namun raka bukanya marah, tapi dia selaku sahabat yang baik, dia pun menyodorkan uangnya ke Haikal.


"Tenang, bro. Sesama sahabat sudah seharusnya saling membantu. Tos dulu dong."

__ADS_1


Pok. Suara telapak tangan bertabrakan.


"OTW sekarang yuk. Ajakin si Arif dan fida juga yang lainya."


Ujar raka. Mereka pun berangkat ke rumah arif. Kebetulan disana sedang mengumpul semua.


"Cieee, bedua aja nih."


Ejek Indah.


"Heh lu! Mau apa lu? Berani ama gua?"


Dengan legeg haikal menantang indah.


"Kalem, bro. Nggak usah marah marah. Ntar pacar gua marah lu."


Indah menakuti.


"Bodoamat."


Haikal duduk disebelah indah.


"Dih, katanya marah marah, tapi duduk disamping itu gueee. Huuuu."


Ledek raka.


"Iya nih, nggak tau."


Indah manyun.


"Awaslu ya, kagak jadi dipinjemin looo."


Raka menjadi jadi.


"Ampun bosku. Kek mana ini kalo kagak jadi ini."


Kata haikal dengan logat orang lampung. Semua pun tertawa. Raka ambil duduk disebelah Joe.


"Gini, gua sama raka mau ngajak kalian ke cafe. Sekalian pj gua ama si alisa."


Haikal menerangkan.


"Ooooooooh, jadi ceritanya udah jadiaaan?"


Tanya para cewek cewek serempak.


"Iya. Mau ikut kagak?"


Tiba tiba joe menyahut.


"Maaf, tapi aku raiso ikut karo kalian. Aku iki lagi diare."


Kata joe jujur nan polos.


"Hahahaha. Iya ya, nanti kalo ikut nanti keluar tidak pada tempatnya yo piye?"


Ejek fida.


Sahut Indah.


"Hahaha."


Semua tertawa kecuali joe.


"Iya nya kumaha ngke teh kieu. Aduh, maap yo, aku ijin ke toilet. Pas dibuka, nggeus kaluar njir jorok hahahaha."


Kata raka sambil mempraktekan orang mules. Artinya gini. Iya ya nanti gimana kalau tiba tiba, duh maaf ya, aku izin ke toilet. Pas dibuka, udah keluar. Jijik.


"Hahahaha."


Semua tertawa lagi. Tiba tiba apa yang dibicarakan oleh mereka menjadi kenyataan. Dut, prot. Suara angin yang berhembus. Joe seketika lari dan masuk menuju kamar mandi.


"Hahahahahahaha, hahaha, haha. Hadeuh hahahaha, uhuk, uhuk, uhuk."


Semua menertawai joe dan terbatuk batuk.


"Alah, ngakak asli."


Kata raka sambil memegangi perutnya.


"Iye, gua juga."


Haikal menimpali.


"Ahaha, jadi siapa aje yang ikut?"


Tanya haikal.


"Aku, Ika, Bela, Priska, Fida, Arif."


Sahut Indah.


"Aku?"


Tanya raka.


"Kamumah diem aja sini. Nggak usah ikut. Kesel aku."


Kata indah bersungut-sungut.


"Aaah, kamumah."


Raka hanya bisa mengalah namun pada akhirnya ia ikut juga. Mereka berangkat dengan membawa sepeda masing masing. Fida yang masih kebayang bayang mimpi menjadi sangat salting kepada arif. Setiap ia dekat, ia selalu tersenyum. Sesampainya dijalanan, mereka sempat keliru karena cafe yang dituju itu sedikit berbeda dan menjorok kedalam sebuah komplex.


"Eh kesini ya kalo nggak salah?"


Tanya haikal.


"Mana gue taaaau."

__ADS_1


Sahut raka.


"Hai, sayang. Sebelah sini."


Alisa ternyata sudah sampai.


"Cieeeeeee. Jadi ini yang namanya, duh, siapa tadi?"


Tanya Arif.


"Ehem."


Dehem indah.


"Hemhem. Eheeem."


Sahut Fida.


"Ehem."


Sahut Ika. Suasana menjadi cangggung dan menegangkan.


"Udah, masuk yuk. Aku udah siapin tempat buat kamu. Ini siapa?"


Tanya Alisa.


"Ooh, ini temen temen aku."


Sahut haikal.


"Sejak kapan dia ngomongnya aku kamu? Biasanya juga gue lu."


Sindir raka.


"Iyah, sejak kapan?"


Tanya fida.


"Sejak jadian ama gua lah."


Sahut Alisa.


"Udah yuk yang, masuk. Pusing aku."


Alisa menyeret tangan haikal.


"Eta si gob..g. Nginjem nginjem weh. Ngajakan hente."


Gerutu raka.


"Emmm, artinya apa tuh?"


Tanya Indah.


"Itu si bere…ek, pinjam pinjam aja, ngajakin nggak."


Jawab raka.


"Oooh. Iya. Maklumlah, diakan orang jakarta."


Sahut Indah.


"Ah, tau gini kita nggak usah ikut. Iya nggak guys?"


Tanya si rempong. Reader udah tau siapa si rempong lah pasti kalo ikutin menuju ujung jalan dari awal.


"Iya, setuju."


Sahut Arif.


"Udah, kita bubar yuk. Mau nggak?"


Tanya Fida.


"Hayu ah. Kita cari cafe yang lain aja. Setuju?"


Ajak Raka.


"Setujuuuuuuuu."


Sahut mereka dengan berteriak. Sisilain didalam cafe.


"Yang, mereka kasihan lo, sampe demo gitu."


Haikal coba membujuk alisa.


"Teruuss?"


Sahutnya.


"Ajakin masuk kek."


Sahut haikal lagi.


"Kau pikir saya peduli? Oh tidak."


Dengan acuh dia menyantap steak yang ia pesan. Sementara haikal hanya makan spageti dan minum kopi asal fietnam. Haikal hanya geleng geleng. Sisi lainnya diluar.


"Oke? Otw."


Teriak raka dari paling depan. Muncul rasa kecewa dihati haikal kepada pacar barunya. Namun mau bagaimana lagi?


"Lalegeg ih. Minta ampun da aingmah."


Tiba tiba suara cempreng nan imut berteriak dari barisan belakang. Tak lain dan tak bukan ialah fida.


"Iya ya."


Priska yang memang pada dasarnya suka ngegosip ikut menimpali.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2