MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
Kepikiran Terus.


__ADS_3

Setelah pulang dari ketemuan dengan arif, aku entah mengapa merasakan sesuatu yang begitu aneh dalam hatiku. Sepanjang jalan menuju rumah, aku kepikiran terus arif. Gombalanya, rayuannya, perhatiannya, ah semua itu membuatku dakdikduk. Ingin rasanya aku jadian sama dia, tapi apa daya, aku masih kecil untuk itu. Sesampainya dirumah, aku bebersih dan tiduran sambil kembali mengulang kejadian tadi di warung. Sampai, "Nak, makan duluu." Seru ibu. Aku dengan malas menjawab. "Nanti aja ah bu. Aku masih kenyang." Lalu aku menyelimuti tubuhku dengan selimutku. "Yaudah, tapi kamu makan ya nak." Sahut ibu lagi. "Iya bu." Setengah sadar aku menjawabnya. Aku menyebrangi jembatan penghubung dari pantai kapuk menuju lautan mimpi yang indah. Tak terasa aku sudah sampai di lautan mimpi yang begitu luas nan indah. Mimpi on. Aku berjalan menuju sekolah, sendirian. Namun jalan yang kulalui sepertinya berbeda. Yang biasanya disisi kanan itu sawah dan rumah warga, ini menjadi taman bunga yang seperti tidak ada habisnya. Aku dengan santai melanjutkan langkah sampai tiba-tiba, "Dar, hayooo, mau kesekolah bareng nggak?" Tanya Arif tiba tiba dari belakang. Aku terkejut dan aku refleks menengok ke belakangku. "Eh, kamu." Kataku manja. Dia menggandeng tanganku dan kami berjalan beriringan. Namun si Arif bukanya mengajakku kesekolah, dia malah mengajaku masuk ke tengah tengah taman bunga itu. "Loh, kita mau kemana rif?" Tanyaku sedikit bingung. Dia diam dan memetik bunga lalu menyelipkanya ditelingaku. "Sekarang kamu menjadi miliku." Ujar arif tiba tiba. Aku tersenyum dan entah mengapa tangan ini susah sekali kukendalikan sehingga dengan hitungan detik saja kedua tanganku berhasil mendarat di pinggang arif. Dia juga membalasnya. Setelah sekian lama kami berpelukan, akhirnya kami kembali bergandengan tangan menyusuri jalan yang teramat sepi dan lengang. Kami tertawa dan saling melempar senyuman satu sama lain. "Arif, kita mau kemana sih?" Tanyaku manja. "Aku mau ngajak kamu kesuatu tempat yang sejuk dan segar." Sahutnya. Aku mengernyitkan dahi. Tak lama kemudian kami tiba disuatu air terjun yang begitu tinggi dari atas tebing. Tanaman liar yang menghiasi dinding bagian atas tebing menambah pesonanya. Jika dilihat dari jauh, air terjun ini seperti pelangi namun berwarna orange ketika sore hari. Ketika siang, area air terjun ini berwarna kuning karena terpaan sinar matahari. Kami melangkah menuju air terjun tersebut dan ketika air mengguyur kepalaku, aku terbangun. Mimpi off. "Banguuuuuuuuun!" Ibu menggoyangkan tubuhku. Ketika aku sudah sepenuhnya sadar, rambutku basah karena cipratan air yang berasal dari gayung yang dibawa ibu. Duuuh, dikirain aku kena air terjun beneran. Tenyata kena semprot. Omel fida dalam hati. Ketika ku tengok jam, alangkah terkejutnya aku karena waktu menunjukan 18:00. Sore. Aku buru buru bangkit dan segera berlari menuju kamar mandi tanpa menghiraukan ibu. Ibu hanya geleng geleng dan aku dikamar mandi terus terbayang wajah arif dan mimpi yang baru saja kualami. Setelah beres mandi, aku melangkah menuju meja makan. Disana ternyata sudah ada ibu dan setumpuk piring. Aku membalikan piring dan segera menyendok sayur sop yang nampak enak. Aku pun dengan lahap memakannya. "Emmmmh, pelan pelan atuh nak." Tegur ibu. Aku hanya mengangguk dan terus memasukan sayur sop itu ke mulutku. Sayur sop ini benar benar enak hingga aku nambah sampai 3 kali. Setelah makan malam, aku kembali menuju kamar. Dikamar aku hanya diam dan tidak melakukan apapun. Aku memainkan hp dan aku mencari chat arif tapi aku tidak menemukan chat terbaru darinya. Bersambung. Maaf ya jarang up, karena author lagi nggak mood. Soalnya yang baca nggak tau pada kemana nih.


__ADS_2