
"Terimakasiih terimakasih."
Hanya itu kata yang mampu ku ucapkan. Begitu juga Fida. Aku sempat bengong sih, kenapa ultah aku dan Fida seperti demo ibu ibu gara gara harga cabe naik? Ah entahlah. Mungkin warga sini memang empatinya tinggi. Eh tar dulu, itu bukannya Ari dan Nanang? Wah, ini bisa bisa kacau. Dia mau apa lagi? Yaa mudah-mudahan nggak ada apa apa. Ketika mereka sudah sampai, hal yang tidak diinginkan pun terjadi.
"Cieeee, demo bu demooo!"
Pekik mereka bersamaan sambil meneriakan kata kata itu di microfon. Sontak para hadirin menoleh.
"Woy! Apa apaan lu? Mau diapain adik adik gue?"
Teriak kak Indah dan ka Bintang. Ari dan nanang berhenti.
"Weeeeeh, udah di belain aja niih."
Ejek Nanang. Aku dan Fida turun dari atas panggung dengan keadaan emosi yang benar benar membara.
"Mau lu apa gob..g?"
Kataku seraya melayangkan kepalan tangan kearah bibir Nanang yang masih tertutup gelas yang seperti minuman keras. Namun aku tak tau pasti dia sedang minum minuman keras atau tidak. Aku tak tau pasti nama minuman ini. Keciumnya memang seperti amer sih, tapi aku tidak yakin. Ada pak Doni lah yang lebih tau.
"Lu mabok?"
Tanyaku. Gelas itu benar benar pecah dan isinya membasahi badannya.
"Wah tolooong, ada yang berantem."
Teriak kak Bela dan ka Priska sambil berlari menjauh dari acara.
"Stop! Mau diapain adik gue?"
Teriak kak Indah sambil berlari memeluku.
"Fida! Jangan cemburu yaaaaaa."
Ejek Ari. Kali ini kak Bintang berlari dan menonjok pipi kiri Ari. Aku berfikir, kenapa setiap aku dan Fida sedang bahagia, akan berakhir seperti ini. Si Ari ini memang berengs.k sih, dia malah memanas manasi keadaan.
"Saya kan cuma bilang selamat ulang taun doang."
Ujar Nanang berbohong.
"Jangan bohong kamu!!!!"
Teriak sekelompok orang dari timku.
"Jangan membela pihak dia kamu!"
Teriak sekelompok remaja dari sekolah Ari. Loh kenapa menjadi begini? Inikan ulangtahun bukan demo. Tapi untung, pak Doni segera datang dan melerai mereka berdua.
"Sudah sudah sudah. Nanang, Ari, kesini, nak."
__ADS_1
Ujar pak Doni Tegas. Dan akhirnya Mereka pun pergi dari pesta ini. Acara selanjutnya adalah pengambilan kado.
"Bagi Arif Dan Fida, segera merapat ke halaman belakang."
Perintah ibunya Fida yang langsungku ikuti instruksinya. Sudah ada beberapa warga yang berdiri disana, eh, ini bukan warga. Tapi sepertinya ini temannya ibunya Fida. Aku pun mengambil kado kado itu dan aku segera kembali ke depan panggung. Aku merapikan susunan kado itu diatas meja yang sudah di sediakan. Waktu menunjukan 21.00. Diatas meja sudah ada kue kue yang berjejer rapi. Acara selanjutnya adalah ucapan terimakasih sekaligus pesan dan kesan bagi yang ulangtahun. Begitu ada instruksi untuk berbicara, aku pun naik keatas panggung dan mulai menyalakan mic.
"Selamat malam semuanya, tanpa berbasa basi lagi, aku ingin menyampaikan beberapa pesan dan kesanku disaat aku dirayakan semeriah ini. Walaupun tadi ada sedikit keributan ya. Baik. Saya sangat berterimakasih kepada bapak ibu yang sudah bersedia datang keacara ini, dan jujur, saya terharu. Karena sebelumnya saya tidak pernah merasakan hal yang namanya dirayakan semeriah ini. Lilin lilin sudah menyala cantik membentuk kalimat, selamat ulangtahun Arif dan Fida yang ke 13 tahun. Dengan angka 13 diatas kue tart."
Aku menitikkan airmata.
"Kalian melakukan ini semua, hanya untuk saya, dan Fida. Jujur, saya sebenarnya kurang setuju jika gara gara saya, bapak dan ibu harus kewalahan. Saya bukannya tidak tau berterimakasih, tapi saya hanya tidak mau merepotkan bapak ibu semua. Ulangtahun saya yang ke 13 ini akan selalu saya ingat dan saya kenang. Pesan pesan dan harapan saya, mudahmudahan bapak ibu semua dilancarkan rezekinya dan mudah-mudahan tidak kapok jika saya minta tolong. Sekian dari saya, selamat malam."
Sorak sorai serta suara tepuk tangan mulai terdengar diseluruh penjuru. Aku dengareberapa orang masih saja bisik bisik membicarakan kejadian ribut tadi. Ketika aku ingin melangkah menuju kursiku, aku melihat seorang ibu yang tak asing bagiku. Dia berdiri dan segera memeluku. Setelah ku perhatikan, inikan,
"Ibuuuuuuuuu."
Jeritku tak terlalu kencang.
"Arif kangen buuuu."
Kataku. Ibu mengusap kepalaku dan ia pun tersenyum.
"Selamat ultah ya nak."
Ujar ibu lembut.
Aku sampe lupa kalau Fida juga ultah. Dia pun selesai dengan kesan dan pesannya. Suara imutnya membuatku selalu saja ingin dekatnya.
"Ibu udah lama di Bandung? Kok Arif nggak tau."
Tanyaku.
"Ibu baru sampe kok nak, maaf telat."
Sahut ibu.
"Nggak papa bu, eh iya, itu Fida sahabat aku."
Kataku.
"Waah, cocok sama kamu nak. nanti jika kamu sudah besar, ibu setuju jika kamu sama dia."
Ujar ibu sambil mencium keningku. Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Masih saja ku dengar bisik bisik tentang kejadian yang menimpaku tadi. Tapi,
"Mohon maaf, jika saya tadi tersulut emosi, karena kedua anak itu tidak ada sopan santun."
Ujar Fida yang nampak tenang.
"Baik sekarang jawaban para ibu ibu dan para hadirin ya."
__ADS_1
Ujar ibunya Fida mempersilahkan para tamu hadirin menjawab pesan dan kesan kami.
"Assalamualaikum warahmatulahiwabaraqatuh. Perkenalkan saya Bapak Sutarman saya disini mau sedikit membenarkan ucapan nak Arif dan Nak Fida. Bahwa yang dikatakan mereka itu tidak benar. Tsaya selaku perwakilan dari seluruh warga yang hadir di tempat ini menyampaikan bahwa kita, membantu ibu Nina dengan senang hati. Tidak ada keterpaksaan dari hati saya mau pun bapak ibu sekalian. Betul bapak bapak ibu ibu?"
Kata Pak Sutarman kepada warga.
"Betuuuuul."
Sahut warga.
"Kami membantu dengan ikhlas. Saya menawarkan bala bantuan bukan hendak demo, seperti kata readers yang komen di episode 15. Bukan demo dan ini bukan sengaja dirancang oleh author biar acaranya seperti ini, tapi kami tau selaku warga dan tetangga yang baik, saya dan para warga tau. Bahwa nak Fida berulangtahun. Saya dan warga lainya sebenarnya ingin merayakan ultah Fida saja bukan nak arif. Tapi berhubung ulangtahunnya sama pada hari ini, yasudah. Kami persiapkan untuk adek adek ini. Jadi sekali lagi kami tidak ada rasa keterpaksaan dalam membantu kalian. Sekian, dan terimakasih."
Seluruh warga bertepuk tangan dan aku serta Fida hanya berterimakasih sambil tersipu malu kepada setiap warga yang mengucapkan selamat ultah kepada kami.
Pak Doni pov.
Setelah aku meringkus kedua bocah si.l.n ini aku segera mengamankannya dengan menyidangnya diruanganku.
"Apa maksud kamu mengacaukan acara ulangtahun keponakan saya?"
Tanyaku dengan rautmuka yang tegas.
"Ma maaf pak, jujur, saya syirik kepada mereka. Mereka kemana kemana selalu berdua, sementara saya?"
"Yaitu sudah menjadi resiko kamu."
Potongku sambil menggebrak meja. Bukan apa apa, ini demi kenyamanan warga yang hadirdi acara ulangtahun keponakanku.
"Iya pak, jujur saya suka sama Fida. Maka dari itu saya iri."
Lanjut anak ini.
"Ia pak."
Lanjut Nanang.
"Itu urusan kalian, saya bukan polisi cinta. Aaah sudahlah. Kalian saya hukum push up sebanyak 300 kali. Ini bukan apa apa, ini demi kenyamanan warga. Kamu telah berbuat onar tau tidak?"
Bentakku.
"Iya pak maaf."
Sahut mereka kompak.
"Sudah push up sana."
Perintahku. Jujur, aku dilema sih, mau diperkarakan, atas dasar apa? Masak kayak gini doang aku sudah mempidanakan mereka? Aku terpaksa menjatuhkan hukuman ringan tersebut kepada mereka.
Pak Doni pov end. Bersambung.
__ADS_1